CFD Dua Kali Sepekan: Jalan Jakarta Diuji, Warga Jangan Dibebani

KabarJakarta.com —  Pagi di Jakarta biasanya dimulai dengan deru mesin kendaraan. Namun, pada jam tertentu saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) berlangsung, suasana di sejumlah ruas jalan utama berubah. Kendaraan menyingkir, warga berjalan kaki, bersepeda, berolahraga, atau sekadar menikmati udara pagi tanpa lalu lintas yang padat.

Kini, ruang bebas kendaraan itu berpeluang hadir lebih sering. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempertimbangkan usulan agar CFD digelar dua kali dalam sepekan, yakni Sabtu dan Minggu. Gagasan tersebut muncul sebagai salah satu cara menekan emisi dan memperbaiki kualitas udara Jakarta.

Namun, wacana tersebut tidak serta-merta mendapat lampu hijau untuk langsung diterapkan. Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino, mendukung tujuan penambahan CFD, tetapi meminta pemerintah tidak terburu-buru menjalankannya, terutama jika kegiatan dilakukan pada Sabtu.

Menurut Wibi, Sabtu bukan sepenuhnya hari libur bagi warga Jakarta. Sebagian pekerja masih masuk kantor, sementara kegiatan perdagangan, UMKM, mobilitas warga hingga distribusi logistik tetap berjalan.

“Jangan sampai niatnya mengurangi polusi, malah justru memindahkan kemacetan ke jalan lain, sehingga menambah beban masyarakat,” ujar Wibi, Kamis (24/9).

Karena itu, ia mengusulkan agar CFD dua kali sepekan terlebih dahulu diuji coba secara terbatas dan terukur. Masa uji coba diperlukan untuk melihat apakah kebijakan tersebut benar-benar memberikan dampak sesuai tujuan.

Yang diukur, papar Wibi, tidak cukup hanya panjang jalan yang ditutup. Pemerintah perlu melihat perubahan tingkat emisi, kemacetan, aktivitas UMKM, mobilitas pekerja, hingga akses kendaraan logistik.

Jangan berhenti pada urusan penutupan jalan

Pandangan serupa datang dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno. Sehari sebelumnya, Rano menyebut usulan CFD dua kali sepekan sebagai gagasan yang menarik karena berpotensi menurunkan emisi.

Persoalannya adalah Sabtu. Jika CFD pada Minggu relatif mudah karena aktivitas perkantoran lebih sedikit, kondisi berbeda terjadi pada Sabtu. Masih ada kantor dan kegiatan masyarakat yang beroperasi.

Rano menjelaskan usulan tersebut perlu dikaji secara menyeluruh agar pelaksanaannya tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Ia juga menyebut masa uji coba selama 3 (tiga) bulan sebagai salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan.

Dari sini, perdebatan CFD dua kali sepekan sebenarnya bukan sekadar soal menambah satu hari bebas kendaraan. Ada pertanyaan yang lebih besar: bagaimana Jakarta mengurangi emisi tanpa mengorbankan mobilitas warga?

Jika kendaraan dilarang melintas di satu ruas, misalnya, sebagian arus lalu lintas berpotensi mencari jalan alternatif. Karena itu, dampak terhadap ruas jalan di sekitar lokasi CFD juga menjadi bagian penting yang perlu dihitung.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah akses menuju kawasan CFD. Warga yang datang dengan transportasi umum membutuhkan koneksi yang mudah dari halte atau stasiun menuju lokasi kegiatan. Begitu pula pekerja, pelaku UMKM dan kendaraan yang membawa kebutuhan perdagangan.

Wibi menilai pengurangan emisi perlu berjalan beriringan dengan penguatan transportasi publik, konektivitas first-mile dan last-mile, serta pengendalian emisi kendaraan.

Mencari udara bersih tanpa menambah masalah

Bagi Jakarta, kualitas udara memang tidak bisa dipisahkan dari persoalan transportasi. Karena itu, CFD dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari upaya pengendalian emisi, bukan sebagai satu-satunya solusi.

Rano sendiri sebelumnya pernah mengusulkan konsep Car Free Night sebagai alternatif kegiatan yang juga dapat diarahkan untuk mengurangi emisi. Menurutnya, pembatasan kendaraan dalam CFD berlangsung relatif singkat, seperti kegiatan yang selama ini berlangsung sekitar pukul 05.30 hingga 09.00.

Namun, kebijakan lingkungan tetap membutuhkan perhitungan yang konkret. Berapa emisi yang berkurang? Bagaimana perubahan kecepatan kendaraan di jalan sekitar? Apakah omzet UMKM terdampak? Apakah akses pekerja dan distribusi barang tetap lancar?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting dijawab sebelum CFD dua kali sepekan diterapkan secara permanen.

Dengan demikian, usulan menambah CFD menjadi dua kali sepekan kini berada pada tahap kajian. Pemerintah dan DPRD sama-sama melihat tujuan mengurangi emisi sebagai hal penting, tetapi pelaksanaannya perlu memperhitungkan kehidupan kota yang tidak pernah benar-benar berhenti pada akhir pekan.

Jakarta membutuhkan udara yang lebih bersih. Tetapi kota juga harus tetap bergerak. Tantangannya adalah menemukan titik temu antara keduanya—sehingga jalan yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan pesepeda tidak sekaligus menjadi beban baru bagi pekerja, pelaku usaha, pengguna jalan dan masyarakat lainnya.

 

Exit mobile version