KabarJakarta.com — Di balik secangkir minuman yang disajikan di hotel, restoran, atau kafe, ada keterampilan yang tidak selalu terlihat. Seorang bartender tidak hanya dituntut mampu meracik minuman, tetapi juga memahami pelayanan, kebersihan, keselamatan kerja, hingga cara berkomunikasi dengan pelanggan.
Kebutuhan terhadap tenaga profesional inilah yang menjadi perhatian dalam Pelatihan dan Sertifikasi Tenaga Kerja Profesi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Skema Food and Beverage Bartender Tahun 2026. Kegiatan yang digelar Pusat Pelatihan Profesi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (P4Ekraf) berlangsung di Sparks Life Hotel, Jakarta Barat, pada 22–25 September 2026.
Sebanyak 40 peserta terpilih dari kalangan pelaku usaha dan tenaga kerja industri beverage service di Jakarta mengikuti pelatihan tersebut. Selama 4 (empat) hari, mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga menjalani praktik sebagai bagian dari persiapan menghadapi kebutuhan industri perhotelan, restoran, dan kafe yang terus berkembang.
Salah satu pembaruan dalam pelatihan tahun ini adalah penggunaan kurikulum yang mengacu pada Toolbox ASEAN. Standar tersebut menjadi acuan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja pariwisata di kawasan Asia Tenggara.
Materi yang diberikan mencakup teknik pembuatan dan penyajian minuman, operasional bar, keselamatan dan kebersihan kerja, serta pelayanan yang bertanggung jawab terhadap minuman beralkohol. Dengan materi tersebut, peserta diharapkan tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami standar pelayanan yang dibutuhkan di industri.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Andhika Permata, menjelaskan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi pariwisata global.
Menurut dia, profesi bartender kini tidak lagi sebatas pekerjaan meracik dan menyajikan minuman. Bartender merupakan bagian dari layanan garis depan yang berhadapan langsung dengan wisatawan dan pelanggan.
“Lewat pelatihan berbasis kurikulum ASEAN ini, kami ingin pastikan SDM pariwisata DKI Jakarta memiliki daya saing yang tinggi. Bersikap profesional, serta siap memberikan layanan terbaik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” ujar Andhika, Kamis (24/9).
Penguatan kompetensi juga diarahkan pada aspek pelayanan yang lebih inklusif. Kepala Pusat Pelatihan Profesi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Endrati Fariani, mengungkapkan pelatihan dan sertifikasi bartender merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus membuka ruang pengembangan karier di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Selain meningkatkan keterampilan teknis dan kesiapan sertifikasi BNSP, kami juga menyisipkan materi penunjang dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas,” katanya.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam dua tahap. Pelatihan dan praktik dilaksanakan pada 22–24 September, sedangkan tahap akhir berupa Uji Kompetensi Sertifikasi BNSP digelar pada 25 September 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Bhatara Tunas Perkasa School serta LSP Hotel dan Restoran.
Bagi 40 peserta yang terpilih, sertifikasi bukan sekadar tanda kelulusan. Kompetensi yang diperoleh diharapkan menjadi bekal untuk memasuki atau mengembangkan karier di industri hospitality.
Di tengah pertumbuhan sektor pariwisata Jakarta, kebutuhan terhadap tenaga kerja yang terampil, profesional, dan mampu memenuhi standar internasional menjadi semakin penting. Pelatihan bartender berbasis kurikulum ASEAN ini menjadi salah satu langkah untuk menjembatani kebutuhan tersebut sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia pariwisata di Ibu Kota.
