KabarJakarta.com – Di tangan warga Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, sampah plastik tidak selalu berakhir di tempat pembuangan. Kemasan kopi, minuman sachet, dan berbagai plastik bekas justru diubah menjadi barang kerajinan yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Upaya itu kini terus didorong oleh Kelurahan Paseban. Pemerintah kelurahan ingin pengolahan sampah tidak hanya menjadi kegiatan untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang bagi warga memperoleh penghasilan tambahan.
Lurah Paseban Citra Arum Purdiarini mengungkapkan pihaknya tengah mendorong lebih banyak warga untuk memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan dasar berbagai produk kerajinan. Kelurahan juga berencana membantu pemasaran agar hasil karya warga tidak berhenti sebagai kegiatan rumahan.
“Kami akan membuat platform untuk menampung produk kerajinan tangan dari daur ulang sampah yang siap dipasarkan kepada masyarakat. Jadi, selain mengurangi sampah, bisa memberikan penghasilan tambahan,” kata Citra di Jakarta, Selasa (11/8).
Menurut Citra, sejumlah warga Paseban sudah lebih dulu mengembangkan keterampilan tersebut. Sampah plastik yang selama ini dianggap tidak berguna telah diolah menjadi tikar, taplak meja, tempat tisu, boneka, hingga bunga plastik.
Bagi kelurahan, kegiatan itu menunjukkan bahwa pengurangan sampah bisa dimulai dari tingkat rumah tangga. Sampah yang dipilah dan diolah sejak dari sumbernya tidak harus langsung menjadi limbah yang dibuang.
“Kami mendukung segala macam kerajinan yang menggunakan bahan dasar sampah. Itu karena mereka ikut mengurangi dan mengolah sampah,” ujarnya.
Citra menjelaskan pihak kelurahan selanjutnya akan mendata warga yang memiliki keterampilan mengolah sampah. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk menghubungkan para perajin dengan peluang pemasaran.
Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan warga untuk memilah dan mengolah sampah sebelum membuangnya. Dengan cara tersebut, persoalan sampah dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan.
Salah satu warga yang telah menjalankan kegiatan tersebut adalah Fariyah (67), warga RT 06/RW 08 Kelurahan Paseban. Selama beberapa tahun terakhir, ia memanfaatkan waktu luangnya di rumah dengan mengolah kemasan plastik bekas menjadi berbagai barang.
Bahan bakunya pun tidak sulit ditemukan. Fariyah mendapatkan kemasan bekas kopi dan minuman sachet dari anaknya yang sehari-hari berjualan makanan dan minuman.
“Sampah plastik bekas bungkus kopi dan minuman sachet dikumpulkan dari anak yang sehari-hari berjualan makanan dan minuman,” kata Fariyah.
Kemasan yang terkumpul terlebih dahulu dibersihkan sebelum digunakan. Setelah itu, plastik dipotong dan dianyam sesuai kebutuhan. Dari proses sederhana tersebut, Fariyah dapat menghasilkan tikar, keranjang, tas, tempat tisu, hingga sarung galon air mineral.
Membuat satu tikar membutuhkan ketelatenan. Setelah kemasan dibersihkan, satu per satu bahan dianyam hingga membentuk lembaran yang utuh. Untuk menyelesaikan sebuah tikar, Fariyah membutuhkan waktu sekitar satu hari.
Kegiatan tersebut bukan hanya menjadi cara Fariyah mengisi waktu luang. Ia melihat keterampilan mengolah sampah plastik memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan yang menghasilkan.
Karena itu, Fariyah menyatakan kesediaannya mengajarkan keterampilan tersebut kepada ibu-ibu di lingkungan RT 06/RW 08 yang tertarik memanfaatkan sampah plastik.
“Semoga kerajinan tangan yang dihasilkan bisa bermanfaat dan memiliki nilai jual untuk menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Pengalaman Fariyah memperlihatkan bahwa pengolahan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi rumit. Dengan keterampilan, ketekunan, dan dukungan pemasaran, bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi produk yang berguna.
Kelurahan Paseban berharap semakin banyak warga ikut terlibat. Dengan semakin banyak rumah tangga yang memilah dan mengolah sampah, jumlah limbah plastik yang dibuang dapat ditekan. Selanjutnya keterampilan warga berpotensi berkembang menjadi sumber pendapatan baru.
Bagi Paseban, sampah bukan lagi sekadar persoalan yang harus dibuang. Sebagian di antaranya dapat menjadi bahan baku, keterampilan menjadi karya, dan karya tersebut berpeluang berubah menjadi penghasilan bagi keluarga.






