KabarJakarta.com — Upaya menghadapi dampak perubahan iklim tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Di RW 02, Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, warga mulai membangun ketahanan lingkungan dari kawasan tempat mereka tinggal.
Penghijauan, pengolahan sampah organik, bank sampah hingga kegiatan ketahanan pangan menjadi bagian dari gerakan warga menjaga lingkungan. Berbagai kegiatan tersebut juga menjadi bahan penilaian Program Kampung Iklim (ProKlim) tingkat Provinsi DKI Jakarta untuk kategori Madya.
Verifikasi lapangan dilakukan pada Kamis (20/8) dengan menyusuri sejumlah titik di RW 02. Tim melihat langsung kegiatan lingkungan yang dilakukan warga, mulai dari Gang Gelora 9A, 9F dan 9C, rumah sehat di Gelora 8, hingga kawasan Gelora Hijau yang menjadi lokasi pengolahan sampah organik dan kegiatan ketahanan pangan.
Lurah Gelora Rachman Arifin menjelaskan kegiatan tersebut lahir dari kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Menurut dia, kepedulian terhadap lingkungan harus dibangun sejak sekarang agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Ini merupakan kegiatan dari warga dan untuk warga. Sejak sekarang kita menjaga lingkungan, yang akan menikmati juga generasi penerus dari warga sini,” kata Rachman di Jakarta, Kamis (20/8).
Bagi warga RW 02, penghijauan menjadi salah satu cara sederhana untuk membuat lingkungan permukiman lebih nyaman sekaligus membantu menghadapi dampak perubahan iklim. Namun, upaya tersebut masih perlu diperluas agar tidak hanya terpusat di beberapa titik.
Anggota tim verifikasi lapangan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Nahilul Huda, mengungkapkan penghijauan di RW 02 sudah berjalan cukup baik. Meski demikian, pelaksanaannya belum merata di seluruh RT.
“Yang kami tinjau baru sekitar 2 RT yang terlihat penghijauannya, yakni RT 04 dan 06. Namun, untuk 6 (enam) RT lainnya dari total delapan RT, penghijauan belum maksimal dilakukan,” ujar Nahilul.
Menurut dia, pemerataan penghijauan menjadi pekerjaan rumah apabila RW 02 ingin meningkatkan pencapaian dari kategori Madya menuju ProKlim Utama pada penilaian berikutnya.
Di sisi lain, pengelolaan sampah menjadi salah satu kekuatan RW 02. Sampah organik telah diolah di lingkungan warga, sedangkan sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah yang dikelola masyarakat.
Saat ini, bank sampah tersebut memiliki 75 anggota dari warga RW 02. Keberadaan bank sampah dinilai menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat sampah bukan hanya sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.
“Untuk mitigasi di tahapan ProKlim Madya sudah cukup baik. Pengolahan sampah organiknya sudah berjalan. Kemudian sampah anorganiknya juga sudah terdapat bank sampah yang dikelola warga dengan 75 anggota,” kata Nahilul.
Selain kegiatan lingkungan, aspek kelembagaan RW 02 juga mendapat perhatian dalam proses verifikasi. Kelengkapan dokumen yang disampaikan menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan lingkungan telah didukung pengelolaan yang cukup baik.
Rachman berharap seluruh upaya tersebut dapat membawa RW 02 meraih predikat ProKlim Madya. Lebih dari sekadar penghargaan, ia ingin kebiasaan menjaga lingkungan terus menjadi bagian dari kehidupan warga.
Hasil penilaian ProKlim Madya dijadwalkan ditetapkan pada akhir Oktober 2026. Jika dinyatakan lolos, perwakilan warga akan menerima penghargaan yang ditandatangani Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
“Kalau lolos nanti, Pak RW atau perwakilan warga akan menerima penghargaan yang ditandatangani Pak Gubernur Pramono,” ujar Nahilul.
Bagi RW 02 Gelora, penilaian ProKlim menjadi momentum untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan sekaligus menentukan langkah berikutnya. Penghijauan yang lebih merata, pengelolaan sampah yang konsisten dan ketahanan pangan menjadi modal penting agar upaya menghadapi perubahan iklim tidak berhenti pada penilaian, tetapi terus tumbuh bersama masyarakat.
