Dari Kulit Buah Menjadi Ekoenzim, Upaya Warga Desa Benteng Kurangi Beban TPA

Warga Desa Benteng mengikuti pelatihan memilah dan mengolah sampah serta membuat cairan fermentasi limbah organik ekoenzim di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Foto: ANTARA

KabarJakarta.com – Tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Setiap hari, sampah rumah tangga terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Di tengah persoalan tersebut, warga Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, mencoba melakukan sesuatu yang sederhana: mengubah sisa kulit buah dan sayuran dari dapur menjadi cairan ekoenzim yang bisa dimanfaatkan kembali.

Langkah kecil itu menjadi penting karena persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan pemandangan yang kotor. Sampah yang menumpuk tanpa pengelolaan juga menyimpan risiko lingkungan dan kesehatan.

Ketika sampah organik membusuk dalam jumlah besar, gas metana dapat terbentuk dan meningkatkan risiko kebakaran. Timbunan sampah yang terlalu tinggi juga dapat memicu longsor.

Data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, timbulan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton pada 2023. Dari jumlah tersebut, sekitar 11,3 juta ton atau 35,6 persen belum terkelola.

Persoalan tersebut terlihat di sejumlah daerah. Pada Juni lalu, kebakaran besar melanda TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Kebakaran terjadi di hampir separuh kawasan TPA dan berlangsung lebih dari 10 hari. Ratusan warga bahkan harus mengungsi dan mengalami gangguan kesehatan berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Di Bogor, persoalan serupa juga membayangi TPA Galuga. Tempat pembuangan sampah yang digunakan untuk menampung sampah dari Kabupaten Bogor dan Kota Bogor tersebut menerima sekitar 2.000 ton sampah setiap hari. Dengan luas sekitar 31,8 hektare, TPA Galuga diperkirakan telah menampung sekitar 15 juta ton sampah yang belum terolah.

Risiko itu bukan sekadar perkiraan. Pada 2019, TPA Galuga pernah mengalami longsor yang menyebabkan 18 warga kehilangan lahan pertanian dan aset mereka.

Karena itu, pengurangan sampah sejak dari rumah menjadi salah satu langkah yang penting. Semakin sedikit sampah yang dikirim ke TPA, semakin kecil pula beban yang harus ditanggung tempat pembuangan akhir.

Upaya tersebut dilakukan warga Desa Benteng. Sekitar 40 orang, sebagian besar ibu rumah tangga, mengikuti pelatihan pembuatan ekoenzim pada akhir Juli lalu. Kegiatan tersebut didampingi penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Pemerintah Kabupaten Bogor serta pegiat ekoenzim dari Komunitas Eco-enzyme Nusantara Bogor Raya.

Ekoenzim merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik, seperti kulit buah dan sisa sayuran, yang dicampur dengan molase atau air gula dan air. Bagi sebagian warga, pengetahuan tersebut membuka cara baru dalam melihat sampah dapur.

Tati, 54 tahun, salah seorang warga yang sehari-hari berkebun, mengaku baru mengenal ekoenzim melalui pelatihan tersebut. Selama ini, kulit buah dan sisa sayuran dari rumahnya biasanya dibuang dan dibakar.

“Kalau tentang cairan ekoenzim, saya baru tahu dan baru pertama kali ini, ternyata gampang buatnya. Nanti kalau sudah jadi, saya pakai untuk menyemprot tanaman. Di rumah saya selalu ada sampah dari kulit buah dan sayuran. Jadi, nanti saya coba bikin,” kata Tati.

Bagi Tati, kegiatan itu menunjukkan bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai manfaat. Ia pun harus menunggu proses fermentasi selama beberapa bulan sebelum cairan tersebut dapat digunakan.

Warga lainnya, Neneng, 56 tahun, sebenarnya sudah terbiasa memilah sampah sejak 2019. Setelah memperoleh penyuluhan, ia memisahkan sampah organik dan anorganik dari rumahnya.

Selama ini, sampah organik yang dimilikinya lebih banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan maggot sebagai pakan ikan dan ayam. Namun, produksi maggot yang cukup banyak membuat sebagian sisa buah dan sayuran tidak lagi termanfaatkan.

“Maggot di kolam ikan saya banyak sekali sampai menumpuk. Bahkan, saking banyaknya maggot, sampah sisa buah dan sayur dari dapur saya buang begitu saja. Dengan pelatihan ekoenzim ini, saya jadi tahu ada cara lain mengolah sampah organik,” kata Neneng.

Cara membuat ekoenzim relatif sederhana. Bahan yang digunakan terdiri atas sampah organik, molase atau air gula, dan air dengan perbandingan 3:1:10. Artinya, 300 gram kulit buah dan sayuran dapat dicampur dengan 100 gram molase dan satu liter air.

Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik yang dapat ditutup rapat. Wadah kaca tidak dianjurkan karena proses fermentasi menghasilkan gas. Wadah juga sebaiknya memiliki ruang yang cukup agar gas hasil fermentasi tidak membuatnya mudah pecah atau rusak.

Pada minggu pertama, tutup wadah perlu dibuka sesekali untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. Setelah sekitar tiga bulan, cairan ekoenzim dapat dipanen dan digunakan sesuai kebutuhan.

Pemanfaatannya pun cukup beragam. Cairan tersebut dapat digunakan untuk membantu sanitasi ruangan dan tanaman. Dalam pelatihan di Desa Benteng, warga juga diperkenalkan pada pemanfaatan ekoenzim sebagai salah satu bahan untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci pakaian dengan tambahan bahan tertentu, seperti methyl ester sulfonate (MES) dan biang sabun atau garam.

Penyuluh di Desa Benteng, Titik Mulyati, mengungkapkan pembuatan ekoenzim bukan hal baru bagi dirinya. Namun, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan tambahan mengenai pemanfaatannya.

“Sudah pernah membuat ekoenzim yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati luka, menyemprot tanaman. Justru ini ilmu baru karena ternyata cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju. Mudah-mudahan bisa diaplikasikan oleh ibu-ibu di Desa Benteng,” ujar Titik.

Desa Benteng sendiri memiliki banyak warga yang bekerja sebagai petani kebun. Tanaman palawija seperti singkong, jagung, kacang-kacangan hingga jambu menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Karena itu, pemanfaatan sampah organik menjadi ekoenzim dinilai cukup relevan dengan kehidupan warga.

Memilah sampah merupakan langkah awal. Kulit buah, sisa sayuran, dan limbah organik lainnya tidak harus langsung berakhir di tempat sampah. Sebagian dapat diproses kembali menjadi sesuatu yang berguna.

Pada akhirnya, ekoenzim memang bukan jawaban tunggal atas persoalan sampah nasional. TPA tetap membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih baik, sementara pemerintah perlu memperkuat pengurangan sampah, pengolahan, pemilahan, dan infrastruktur persampahan.

Namun, kebiasaan sederhana yang dimulai dari dapur dapat menjadi bagian dari solusi. Jika semakin banyak rumah tangga mengurangi sampah organik yang dibuang, volume sampah yang dikirim ke TPA juga dapat ditekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *