Kali Mampang Dikeruk, Saluran Dibersihkan: Jaksel Bersiap Hadapi Hujan

Pemkot Jakarta Selatan mengadakan kerja bakti massal serentak di 65 kelurahan sebagai langkah preventif menghadapi musim penghujan. Kegiatan dilakukan untuk memastikan seluruh infrastruktur pengendalian air, mulai dari saluran lingkungan hingga badan sungai, dalam kondisi siap menghadapi peningkatan curah hujan. Foto: Pemkot Jaksel

KabarJakarta.com —  Memasuki musim penghujan, persoalan sampah dan sedimentasi kembali menjadi perhatian Pemerintah Kota Jakarta Selatan. Kali dan saluran air yang dipenuhi lumpur maupun sampah berisiko menghambat aliran air ketika hujan deras turun.

Karena itu, Pemkot Jakarta Selatan menggelar kerja bakti massal secara serentak di 65 kelurahan. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memastikan saluran air, badan sungai, hingga lingkungan permukiman warga berada dalam kondisi siap menghadapi peningkatan curah hujan.

Di Kelurahan Kuningan Barat, Kecamatan Mampang Prapatan, persoalan tersebut terlihat di Kali Mampang. Lumpur yang mengendap dan sampah yang terbawa aliran air menjadi bagian yang harus ditangani sebelum hujan dengan intensitas tinggi datang.

Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo memimpin langsung kegiatan kerja bakti di lokasi tersebut, Minggu (27/9). Ratusan petugas dikerahkan untuk membersihkan sedimen sekaligus mengangkat sampah yang mengganggu aliran kali.

“Tujuannya, memastikan sebelum masuk musim penghujan, seluruh sarana dan prasarana, khususnya kesiapan saluran, sudah dalam kondisi paripurna,” ujar Syafrin.

Mengeruk lumpur, membuka aliran

Pembersihan Kali Mampang bukan sekadar mengangkat sampah yang terlihat di permukaan. Sedimen lumpur yang menumpuk di dasar kali juga dikeruk untuk mengembalikan kapasitas aliran air.

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan Santo menjelaskan, pengerukan dilakukan sepanjang 437 meter. Pekerjaan tersebut dimulai pada 8 Agustus 2026 dan ditargetkan selesai pada 30 Oktober 2026.

Hingga kerja bakti berlangsung, pengerukan telah mencapai 61 persen. Volume sedimen yang berhasil diangkat mencapai sekitar 1.055 meter kubik.

“Saat ini, pengerjaan telah mencapai 61 persen dengan total volume sedimen yang dikeruk sebanyak 1.055 meter kubik,” kata Santo.

Untuk mempercepat pekerjaan, petugas mengoperasikan tiga unit alat berat dan lima unit dump truck. Lumpur hasil pengerukan kemudian diangkut ke lokasi pembuangan, termasuk ke kawasan Ancol.

Langkah tersebut penting karena kapasitas kali sangat dipengaruhi kondisi penampang dan kelancaran aliran. Ketika dasar kali dipenuhi sedimentasi, ruang yang tersedia untuk menampung dan mengalirkan air menjadi semakin terbatas.

Saluran permukiman tak luput

Penanganan Kali Mampang juga tidak berdiri sendiri. Di lingkungan permukiman, saluran air turut dibersihkan dari sampah dan endapan yang berpotensi menghambat aliran.

Sebanyak 300 petugas gabungan dikerahkan di Kuningan Barat. Mereka berasal dari berbagai unsur satuan tugas penanganan prasarana. Aparatur sipil negara (ASN) dari sekretariat kota, kecamatan, kelurahan, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) juga dilibatkan.

Bagi Syafrin, keterlibatan aparatur pemerintah sekaligus menjadi contoh bahwa persoalan lingkungan tidak hanya dapat diserahkan kepada petugas kebersihan atau dinas terkait.

“Untuk memberi contoh bagi masyarakat, aksi gotong royong juga melibatkan ASN dari Sekretariat Kota. Aparat kecamatan, kelurahan, hingga seluruh OPD dilibatkan,” tuturnya.

Selain pengerukan, Pemkot Jakarta Selatan juga membangun turap di sekitar Kali Mampang. Pekerjaan yang dimulai sejak 7 Juli 2026 itu memiliki panjang lebih dari 400 meter dan kini mencapai progres 70 persen. Pembangunan ditargetkan selesai pada 4 Desember 2026.

Banjir bukan hanya soal kali

Kerja bakti massal ini memperlihatkan bahwa menghadapi musim hujan tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengerukan sungai. Kondisi saluran di lingkungan permukiman dan kebiasaan warga dalam mengelola sampah turut menentukan kelancaran aliran air.

Sampah yang masuk ke saluran dapat terbawa menuju kali dan menumpuk di titik tertentu. Jika berlangsung terus-menerus, persoalan tersebut dapat memperberat pekerjaan pemerintah ketika curah hujan meningkat.

Karena itu, Syafrin meminta masyarakat agar ikut menjaga saluran dan badan air. Pemerintah, kata dia, akan terus mendorong pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga, mulai dari pemilahan hingga pengolahan kembali.

“Kami terus gencarkan sosialisasi pengelolaan sampah mandiri, mulai dari pemilahan dari sumbernya hingga pengolahan kembali,” ungkapnya.

Upaya membersihkan Kali Mampang dan saluran permukiman akhirnya bukan hanya pekerjaan menjelang hujan. Ia menjadi bagian dari upaya menjaga ruang air tetap berfungsi ketika Jakarta Selatan menghadapi curah hujan tinggi.

Di satu sisi, alat berat terus mengangkat lumpur dari dasar kali. Di sisi lain, saluran lingkungan dibersihkan dan warga didorong untuk tidak menjadikannya tempat pembuangan sampah.

Kesiapan menghadapi musim hujan, pada akhirnya, bukan hanya soal seberapa cepat pemerintah membersihkan saluran, tetapi juga seberapa konsisten lingkungan dijaga setelah kerja bakti selesai.

Exit mobile version