Ketika Semua Orang Mengaku Punya Fakta, Jurnalis Harus Bertanya: Menurut Siapa?

Peter Ker (ketiga dari kiri), Senior Journalist The Australian Financial Review saat menjadi pembicara dalam diskusi "Memperkuat Peliputan Berbasis Data tentang Isu Iklim, Energi, dan Lingkungan: Meningkatkan Kualitas Jurnalisme dan Menangkal Mis/Disinformasi di Era Digital" di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026. Foto: kabarjakarta

KabarJakarta.com — Di tengah derasnya informasi, pekerjaan jurnalis tidak berhenti pada mencari berita lalu menuliskannya. Tantangan yang semakin besar justru muncul setelah informasi ditemukan: apakah fakta itu benar, dari mana asalnya, apakah masih relevan, dan apakah media justru ikut memperbesar informasi yang keliru?

Pertanyaan tersebut menjadi perhatian Peter Ker, Senior Journalist The Australian Financial Review, ketika berbicara kepada para jurnalis di Jakarta, Jumat (2/10). Menurutnya, jurnalisme menghadapi persoalan yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum munculnya media sosial dan kecerdasan buatan (AI).

Ker mengingatkan bahwa jurnalis harus tetap memegang prinsip dasar: akurasi, kebenaran, kebebasan berbicara, dan keberanian untuk memeriksa kembali setiap informasi.

“Langkah pertama bagi kita adalah memastikan kita tidak mengamplifikasinya,” kata Ker, merujuk pada informasi palsu atau menyesatkan yang beredar di ruang publik.

Bagi Ker, prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik. Sebuah klaim yang belum terbukti bisa berubah menjadi berita, dikutip media lain, lalu beredar luas tanpa pernah benar-benar diperiksa.

Karena itu, ia menyarankan jurnalis menjadi “fanatik” dalam memberikan atribusi.

Secara sederhana, setiap informasi harus jelas berasal dari siapa. Jika sebuah berita menyebut hujan menyebabkan gangguan tertentu, misalnya, jurnalis tidak cukup hanya menuliskan bahwa hujan telah mengganggu aktivitas masyarakat. Harus ada keterangan mengenai sumber informasi tersebut.

“Menurut siapa?” menjadi pertanyaan penting yang harus selalu muncul di kepala jurnalis.

Atribusi juga membantu jurnalis menilai kualitas sumber. Ker membedakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah data atau informasi yang diperoleh langsung dari lembaga atau pihak yang menghasilkan informasi tersebut.

Ia memberikan contoh data energi. Jika jurnalis ingin mengetahui konsumsi bahan bakar dunia, sumber primer adalah data resmi dari lembaga seperti International Energy Agency dan informasi terkait cuaca Indonesia merujuk pada BMKG. Sebaliknya, jika jurnalis hanya mengutip artikel media lain yang menyebut data lembaga tersebut, maka media itu menjadi sumber sekunder.

Menggunakan sumber sekunder bukan berarti keliru. Namun, menurut Ker, terdapat risiko yang harus disadari.

“Jurnalis itu mungkin salah. Jadi kita tidak bisa menganggap bahwa mereka (narasumber) benar hanya karena mereka mengatakan itu dalam cerita mereka,” ujarnya.

Risiko lainnya adalah perubahan waktu. Informasi yang benar ketika sebuah artikel diterbitkan, belum tentu masih benar dalam beberapa bulan kemudian. Karena itu, jurnalis perlu kembali kepada sumber utama dan memeriksa apakah data tersebut masih berlaku.

Prinsip yang sama berlaku terhadap pernyataan narasumber. Seorang pejabat, politisi, pengusaha, atau tokoh publik bisa saja menyampaikan angka dan fakta dalam wawancara. Namun, statusnya sebagai narasumber tidak otomatis membuat pernyataan tersebut menjadi fakta.

Menurut Ker, jurnalis tetap berkewajiban melakukan pemeriksaan. “Tugas kita untuk memeriksa ulang,” katanya.

Jika klaim seorang narasumber ternyata tidak sesuai dengan data, jurnalis memiliki pilihan: tidak menggunakan klaim tersebut atau tetap memasukkannya dengan memberikan konteks dan fakta pembanding.

Dengan cara itu, pembaca dapat membedakan antara apa yang dikatakan seseorang dan apa yang telah diverifikasi media sebagai sebuah fakta.

Membuka ruang bagi lebih banyak suara

Tantangan lain muncul ketika berita berkaitan dengan masa depan. Dalam isu energi, lingkungan, emisi, dan perubahan iklim, prediksi sangat sering muncul.

Ker mencontohkan industri pertambangan Australia. Perusahaan seperti BHP, Rio Tinto, dan Fortescue memiliki pandangan berbeda mengenai kapan kendaraan tambang berbahan bakar diesel dapat digantikan oleh kendaraan listrik berbasis baterai.

Fortescue menyatakan kendaraan listrik dapat digunakan sebelum 2030. Sementara perusahaan lain menilai proses tersebut membutuhkan waktu lebih lama.

Dalam situasi seperti itu, tugas jurnalis bukan menentukan siapa yang benar sejak awal. Tugasnya adalah menguji klaim tersebut.

Jurnalis dapat mencari pandangan dari produsen kendaraan tambang, ahli teknologi, peneliti, perusahaan energi, maupun pihak lain yang memiliki pengetahuan teknis. Semakin banyak sumber yang relevan, semakin besar peluang jurnalis memahami persoalan secara utuh.

Ker menekankan bahwa keberagaman suara bukan sekadar menambah jumlah kutipan. Yang lebih penting adalah menggunakan berbagai sumber untuk menguji sebuah klaim.

“Hal tersebut juga berlaku terhadap rekam jejak narasumber,” tegasnya.

Ia mencontohkan target energi bersih PLN. Ketika sebuah lembaga menyampaikan targetnya untuk beberapa tahun ke depan, jurnalis tidak cukup hanya memberitakan target terbaru. Mereka juga perlu melihat bagaimana lembaga tersebut memenuhi target sebelumnya.

“Penting untuk melihat prediksi sebelumnya. Melihat target sebelumnya,” kata Ker.

Dengan demikian, pembaca mendapatkan konteks yang lebih lengkap. Target bukan hanya angka yang diumumkan hari ini, namun merupakan hal yang dapat dibandingkan dengan janji dan pencapaian sebelumnya.

Waspada jawaban yang terlalu sederhana

Ker juga mengingatkan jurnalis untuk berhati-hati terhadap klaim yang terdengar sederhana, terutama dalam isu energi.

Misalnya, pernyataan bahwa satu jenis pembangkit merupakan sumber listrik “paling murah”. Menurutnya, klaim seperti itu tidak bisa dilepaskan dari konteks.

Di mana pembangkit itu berada? Kapan listrik digunakan? Bagaimana kondisi cuaca? Apakah biaya penyimpanan energi sudah dihitung? Bagaimana biaya jaringan dan faktor lainnya?

Energi surya mungkin sangat kompetitif ketika matahari bersinar. Namun kondisinya berbeda ketika malam tiba. “Karena itu, perbandingan harus memperhitungkan kebutuhan penyimpanan atau baterai,” terang Ker.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya menunjukkan inti dari kerja-kerja jurnalistik: jangan menerima klaim dalam bentuk akhirnya.

Pecah klaim itu menjadi pertanyaan-pertanyaan kecil. Cari datanya. Temukan sumber primernya. Bandingkan dengan sumber lain. Periksa rekam jejaknya. Setelah itu, barulah informasi disusun menjadi cerita.

Di tengah ruang redaksi yang semakin terbatas, tekanan produksi berita dan ledakan informasi dari media sosial serta AI, prinsip tersebut menjadi semakin relevan.

Jurnalis tidak harus mengetahui semua hal. Ker sendiri mengakui bahwa ia bukanlah seorang insinyur listrik dan tidak dapat memastikan sendiri teknologi baterai akan benar-benar siap pada tahun tertentu.

Namun, justru di situlah fungsi jurnalisme bekerja: bukan menjadi orang yang paling tahu, melainkan menjadi orang yang paling tekun mencari tahu.

Pada akhirnya, kualitas sebuah berita bukan ditentukan oleh seberapa cepat informasi dipublikasikan. Kualitasnya ditentukan oleh seberapa kuat informasi tersebut diperiksa, seberapa jelas sumbernya.

Juga seberapa terbuka ruang bagi perspektif berbeda, dan seberapa jujur media menjelaskan ketidakpastian kepada pembaca.

Di tengah banjir informasi, pekerjaan jurnalis mungkin bukan membuat dunia menjadi lebih sederhana. Sebaliknya, tugasnya adalah membantu publik memahami mengapa sebuah persoalan memang tidak selalu sederhana.

Exit mobile version