KabarJakarta.com — Bagi pelaku usaha, bertemu calon pembeli hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pertemuan itu berubah menjadi jaringan bisnis, kerja sama, bahkan pasar baru. Peluang tersebut coba dibuka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Business Matching (BM) Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) ke-32.
Kegiatan yang digelar Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta itu tidak sekadar menjadi ruang promosi produk. Business Matching dirancang sebagai tempat bagi pelaku usaha untuk saling bertemu, membangun koneksi, dan menjajaki kerja sama yang bisa berlanjut setelah acara selesai.
Kali ini, Business Matching P3DN digelar bersamaan dengan Jakarta International Investment, Tourism, Trade, and SMEs Expo (JITEX) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 16–19 September 2026.
Integrasi dua kegiatan tersebut memperluas ruang pertemuan para pelaku usaha. Mereka tidak hanya berhadapan dengan calon pembeli, tetapi juga dapat bertemu buyer, investor, exhibitor, dan calon mitra bisnis dari berbagai sektor, termasuk dari luar negeri.
Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo menjelaskan, Business Matching P3DN memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mempertemukan penjual dan pembeli.
Menurut Ratu, pertemuan bisnis harus menjadi pintu masuk bagi terbentuknya jejaring yang lebih luas. Pelaku usaha perlu memiliki kesempatan untuk mengenalkan produk, memahami kebutuhan calon mitra, sekaligus melihat kemungkinan kolaborasi.
“Business Matching P3DN bukan hanya mempertemukan penjual dan pembeli, namun juga membuka ruang saling mengenal, membangun koneksi, dan menemukan peluang kolaborasi,” ujar Ratu, Kamis (17/9).
Menurut dia, penyelenggaraan Business Matching yang terintegrasi dengan JITEX memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring.
Dengan berada dalam satu rangkaian kegiatan, pelaku usaha memiliki kesempatan bertemu lebih banyak calon mitra dari berbagai bidang. Kondisi ini dinilai dapat membuka akses terhadap peluang bisnis yang sebelumnya sulit dijangkau.
Tak berhenti di booth
Selama 4 (empat) hari pelaksanaan, Business Matching P3DN ke-32 menghadirkan sejumlah agenda. Mulai dari promosi produk, presentasi usaha, sosialisasi, hingga pertemuan langsung antarpelaku bisnis.
Sebanyak 18 perusahaan mendapat kesempatan memperkenalkan produknya melalui sesi presentasi sekaligus membuka booth di area kegiatan.
Namun, interaksi tidak berhenti di area pameran. Peserta juga dapat menggunakan Breakout Room di Gedung Pusat Niaga lantai 6 untuk melakukan pembicaraan yang lebih mendalam, membangun jaringan, serta menjajaki potensi kerja sama.
Ruang semacam ini menjadi penting karena pertemuan bisnis tidak selalu menghasilkan transaksi secara langsung. Dalam banyak kasus, proses kerja sama justru dimulai dari percakapan, pertukaran informasi, kemudian dilanjutkan dengan komunikasi setelah kegiatan berakhir.
Karena itu, Ratu berharap hubungan yang terbentuk selama Business Matching tidak berhenti ketika acara selesai.
“Harapannya, pertemuan tidak berhenti pada promosi produk selama acara, tetapi berlanjut menjadi koneksi dan kerja sama nyata setelah business matching selesai,” katanya.
Ia menilai semakin luas jejaring yang dibangun, semakin besar pula kesempatan pelaku usaha untuk berkembang dan membuka pasar baru.
Business Matching juga mempertemukan kebutuhan belanja pemerintah dengan produsen yang telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penggunaan produk dalam negeri sekaligus memperluas pasar bagi produk buatan Indonesia.
TKDN dan SNI jadi bekal
Selain mempertemukan pelaku usaha, kegiatan ini juga diisi dengan penguatan pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan bisnis.
Salah satunya melalui sosialisasi mengenai TKDN dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat rantai pasok dalam negeri sekaligus meningkatkan kualitas produk.
Kepala Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Kementerian Perindustrian Kris Sasono Ngudi Wibowo menjelaskan pentingnya TKDN dalam mendorong penggunaan bahan baku dan komponen yang berasal dari dalam negeri.
Sementara itu, Direktur Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian Badan Standardisasi Nasional (BSN) Nur Hidayati menekankan pentingnya pemenuhan standar bagi produsen.
Menurutnya, standar dapat menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan produsen dengan konsumen. Pemenuhan standar juga dapat membantu produk memiliki akses lebih luas, termasuk ketika ingin masuk ke pasar internasional.
Pembahasan dalam Business Matching juga menyentuh aspek perlindungan konsumen, khususnya dalam bisnis agen perjalanan.
Materi tersebut membahas sejumlah persoalan yang kerap muncul dalam layanan perjalanan, seperti perubahan jadwal, pembatalan, pengembalian dana atau refund, hingga penyelesaian sengketa yang berkaitan dengan wanprestasi dan force majeure.
Sosialisasi menghadirkan Asisten Deputi Standardisasi dan Sertifikasi Usaha, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata Franc Orlando, Sekretaris Jenderal DPP Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Budijanto Ardiansjah, serta Anggota BPSK Provinsi DKI Jakarta Sularsi.
Menjaga hubungan setelah pertemuan
Pada akhirnya, keberhasilan Business Matching tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya pelaku usaha yang hadir atau produk yang dipamerkan. Nilai pentingnya justru berada pada hubungan yang terbangun setelah pertemuan.
Pertemuan antara pelaku usaha, buyer, investor, dan mitra potensial membuka kesempatan bagi munculnya komunikasi lanjutan. Dari sana, peluang kerja sama dapat berkembang menjadi transaksi, kemitraan, distribusi produk, atau akses pasar baru.
Karena itu, Business Matching P3DN diarahkan bukan hanya sebagai agenda promosi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pengembangan usaha yang lebih berkelanjutan.
Apalagi kegiatan tersebut terintegrasi dengan JITEX 2026, yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ketiga sejak pertama kali digelar pada 2024.
JITEX menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan potensi Jakarta dalam perdagangan, investasi, pariwisata, dan UMKM, sekaligus mendukung posisi Jakarta sebagai Kota Global menjelang lima abad Jakarta.
Melalui pertemuan yang lebih terbuka dan lintas sektor, pelaku usaha diharapkan tidak hanya pulang membawa pengalaman mengikuti pameran. Lebih jauh, mereka membawa pulang kontak baru, peluang baru, dan kemungkinan kerja sama yang dapat terus berkembang setelah pintu ruang Business Matching ditutup.






