Sampah Jakarta Jangan Berhenti di Pembuangan, BUMD Khusus Dinilai Bisa Tambah PAD

Petugas mengolah sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu berkonsep Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang) atau TPS3R Sinergi Bersih Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (27/11/2025). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com – Persoalan sampah di Jakarta tidak hanya berkaitan dengan bagaimana limbah rumah tangga dikumpulkan dan dibuang. Di balik tumpukan sampah, terdapat potensi ekonomi yang bisa dikembangkan jika pengelolaannya dilakukan secara lebih serius dan terintegrasi.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta, Dailami Firdaus, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang secara khusus menangani pengolahan sampah bernilai ekonomis.

Menurut Dailami, keberadaan BUMD tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat sistem persampahan sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi daerah.

“Keberadaan BUMD dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah, sekaligus membuka peluang baru bagi peningkatan PAD,” kata Dailami di Jakarta, Selasa (11/8).

Ia berharap Pemprov DKI tidak hanya memandang sampah sebagai persoalan lingkungan yang harus segera disingkirkan. Sampah juga dapat menjadi sumber daya apabila dipilah, diolah, dan dipasarkan dengan sistem yang tepat.

“Ini akan menambah PAD Jakarta,” ujar Dailami.

Gagasan tersebut bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di tingkat rumah tangga. Program pemilahan sampah dari sumber dinilai penting karena masyarakat menjadi bagian langsung dari proses pengelolaan sampah.

Dailami menilai program pilah sampah merupakan langkah positif karena tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang, tetapi juga membangun kesadaran dan kedisiplinan warga.

“Program pilah sampah tentunya sangat positif, karena memulai pengurangan sampah dari dasar, yaitu rumah tangga. Ini membentuk kedisiplinan di masyarakat,” ujarnya.

Namun, pemilahan saja dinilai belum cukup. Sampah yang telah dipisahkan harus masuk ke tahap berikutnya, yakni pengolahan menjadi produk yang mempunyai nilai guna dan nilai jual.

Peluangnya cukup beragam. Sampah dapat diolah menjadi pupuk, kerajinan tangan, bahan bangunan seperti paving block, hingga furnitur. Pengolahan juga dapat diarahkan menjadi energi listrik melalui program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Bagi Jakarta yang sedang memperkuat posisinya sebagai kota global, pengembangan energi dari sampah juga memiliki arti strategis. Sampah tidak hanya dipandang sebagai beban, tetapi dapat menjadi salah satu sumber energi alternatif.

Dailami menilai pengembangan PSEL dapat ikut mendukung kebutuhan energi listrik Jakarta. Pada saat yang sama, ketersediaan pembangkit di daerah lain dapat lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan wilayah yang masih membutuhkan akses listrik.

Meski demikian, pengolahan sampah menjadi produk ekonomi membutuhkan standar yang jelas. Produk yang dihasilkan tidak cukup hanya terlihat menarik atau murah, tetapi harus aman dan memenuhi ketentuan kualitas.

“Untuk menjadikan produk olahan dari sampah bernilai dan diterima pasar, maka harus ada standar mutunya, baik dari segi bahan baku, keamanan, kesehatan, maupun lingkungan,” kata Dailami.

Karena itu, pembentukan BUMD khusus persampahan dapat menjadi salah satu instrumen untuk menghubungkan persoalan lingkungan dengan kepentingan ekonomi daerah. BUMD tersebut dapat berperan dalam mengelola rantai pengolahan, membangun kemitraan dengan masyarakat dan pelaku usaha, sekaligus memastikan produk olahan memiliki pasar.

Dailami menilai Jakarta kini menghadapi tantangan baru yang membutuhkan kerja sama lintas lembaga. Menurutnya, persoalan sampah dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan lembaga lainnya.

“Setiap tantangan dapat diubah menjadi peluang untuk menjadikan Jakarta sebagai kota global yang maju, aman, berdaya saing. Selain itu, tetap berbudaya, dan semakin menyejahterakan seluruh masyarakatnya,” tandasnya.

Exit mobile version