Blok B Tanah Abang Kembali Ramai, Pengunjung Tembus 20 Ribu Orang

Suasana Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Minggu (4/10/2026). Foto: UPB Tanah Abang

KabarJakarta.com  —  Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, perlahan menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Setelah beberapa tahun menghadapi perubahan pola belanja dan tekanan perdagangan daring, lorong-lorong pertokoan di kawasan tersebut kini kembali dipadati pembeli.

Peningkatan paling terlihat berada di Pasar Tanah Abang Blok B, salah satu kawasan yang selama ini menjadi tujuan utama masyarakat mencari pakaian dan kebutuhan fesyen.

Unit Pasar Besar (UPB) Pasar Tanah Abang mencatat rata-rata 15 ribu orang datang setiap hari untuk berbelanja. Jumlah itu meningkat pada akhir pekan, dengan rata-rata hampir 17 ribu pengunjung. Bahkan, pada waktu tertentu jumlahnya pernah mencapai 20 ribu orang dalam sehari.

Manager UPB Pasar Tanah Abang, Rahmat Kartolo, mengungkapkan kenaikan jumlah pengunjung tersebut terutama terlihat di kawasan Blok B.

“Dari hasil pendataan kami, setiap hari 15 ribu orang telah datang. Bahkan di setiap akhir pekan, jumlahnya meningkat, jumlahnya mencapai hampir 17 ribu orang, bahkan pernah menyentuh 20 ribu orang,” kata Rahmat di Jakarta, Senin (5/10).

Angka tersebut memperlihatkan perubahan dibandingkan situasi beberapa tahun lalu. Pada 2023, Blok B justru menjadi salah satu bagian Pasar Tanah Abang yang paling banyak disorot karena sepinya pengunjung.

Saat itu, sejumlah toko di lantai atas bahkan tutup dan aktivitas perdagangan jauh lebih lengang dibandingkan kawasan lantai utama. Kondisi tersebut tidak muncul tanpa sebab.

Perubahan kebiasaan konsumen, pertumbuhan marketplace, serta maraknya perdagangan melalui media sosial membuat pembeli tidak lagi harus datang langsung ke pusat grosir untuk mencari pakaian. Pedagang pun mulai mengubah cara berjualan dengan memanfaatkan siaran langsung atau live shopping.

Pengamat Ekonomi Digital Ignatius Untung Surapati pada 2023 menilai perubahan tersebut ikut membuat pusat perdagangan konvensional kehilangan sebagian aktivitas pembelinya. Menurut dia, fenomena itu tidak hanya terjadi di Tanah Abang, tetapi juga sejumlah pusat perdagangan lain.

“Kita enggak cuma ngomong Pasar Tanah Abang, ada sentra ponsel ITC Fatmawati, ITC Ambassador dan macam-macam, itu tidak seramai dulu,” kata Untung di Jakarta Selatan dikutip Kompas.com, Jumat (15/9/2023). Ia menyebut sebagian pedagang berpindah ke kanal online karena perkembangan teknologi dan marketplace.

Namun, kondisi sekarang memperlihatkan bahwa perdagangan langsung belum kehilangan tempatnya. Justru, pedagang di Blok B mulai menjalankan pola usaha yang lebih fleksibel: toko fisik tetap dibuka, sementara kamera ponsel digunakan untuk menjangkau pembeli yang berada di rumah.

Pedagang baju muslim, Nurhayati (46), mengakui jumlah pengunjung memang belum sepenuhnya kembali seperti beberapa tahun lalu. Tetapi, menurut dia, keadaan dalam beberapa bulan terakhir jauh lebih baik.

“Sekarang Alhamdulillah sudah kembali ramai lagi. Setiap hari, ada saja yang datang membeli, bahkan di akhir pekan terlihat ramai. Dan yang penuh banget itu, waktu kemarin momen Lebaran,” ujar Nurhayati.

Bagi pembeli, kehadiran fisik toko masih menawarkan sesuatu yang sulit diberikan perdagangan daring. Pakaian dapat disentuh, bahan bisa diperiksa, ukuran dapat dicoba, dan model bisa dibandingkan secara langsung. Karena itu, Tanah Abang tetap memiliki daya tarik, terutama bagi pembeli yang ingin memastikan kualitas barang sebelum membeli.

Rina, salah satu pengunjung, mengungkapkan kelengkapan pilihan pakaian menjadi alasan dirinya tetap datang langsung.

“Pilihan baju sih, kalau Tanah Abang enggak ada tandingannya. Dia komplit, saking komplitnya, saya capek keliling,” katanya.

Keunggulan tersebut juga dirasakan pedagang yang melayani pembeli dalam jumlah besar. Sebagian pengunjung datang bukan untuk kebutuhan pribadi, melainkan mencari barang untuk dijual kembali. Pola grosir seperti ini membuat interaksi langsung antara pedagang dan pembeli tetap penting.

Rizal (49), pedagang lainnya, menjelaskan perdagangan online memang sempat mengubah aktivitas di Tanah Abang. Namun, pedagang akhirnya ikut masuk ke ruang digital.

“Soalnya sekarang pedagang, ada juga ikut yang jualan online. Bahkan sebagian besar ada yang live di tokonya agar bisa mengikuti perkembangan zaman,” terangnya.

Di sisi pengelolaan pasar, perubahan perilaku tersebut juga diikuti upaya menyesuaikan pelayanan. Pengelola melakukan penataan zonasi kios agar jenis barang lebih mudah ditemukan pengunjung. Selain pelayanan pembelian langsung, pedagang yang berjualan secara daring juga didukung sehingga aktivitas perdagangan tidak hanya bergantung pada orang yang datang ke pasar.

Rahmat membeberkan bahwa pengelola mendukung inovasi pedagang dalam mengikuti perubahan pola jual beli. “Harapannya semua aktivitas jual beli bisa terus berjalan dan mengikuti perkembangan zaman,” tegasnya.

Dengan demikian, ramainya Blok B tidak semata-mata berarti Tanah Abang kembali ke masa kejayaannya. Ada perubahan mendasar dalam cara pasar bekerja. Jika dahulu kekuatan utama Tanah Abang bertumpu pada kerumunan pembeli di lorong-lorong toko, kini kekuatannya mulai terbentuk dari perpaduan toko fisik dan penjualan digital.

Kenaikan hingga 20 ribu pengunjung menjadi sinyal positif. Tetapi tantangan berikutnya adalah menjaga agar keramaian tersebut tidak hanya menjadi fenomena sesaat, melainkan menjadi bagian dari pemulihan perdagangan yang berkelanjutan. Tanah Abang tampaknya tidak sedang kembali menjadi pasar seperti dulu. Ia sedang belajar menjadi pasar yang baru.

Exit mobile version