Final FIFA ASEAN Cup 2026: 10.121 Personel Dikerahkan dan Lalu Lintas Jakarta Diatur

Dokumentasi - Pesepak bola Timnas Indonesia Kevin Diks (tengah) berebut bola dengan pesepak bola Timnas Bangladesh Hamza Choudhury (kiri) dalam pertandingan penyisihan Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Timnas Indonesia mengalahkan Bangladesh dengan skor 9-2. Foto: ANTARA

KabarJakarta.com  —  Jakarta bersiap menghadapi salah satu agenda olahraga terbesar tahun ini. Final FIFA ASEAN Cup 2026 yang mempertemukan Tim Nasional Indonesia melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (5/10), bukan hanya menjadi pertandingan perebutan trofi. Laga yang dijadwalkan berlangsung pukul 20.00 WIB itu juga menjadi ujian pengamanan dan pengelolaan mobilitas warga di kawasan Senayan.

Antusiasme penonton terlihat dari tiket pertandingan yang telah terjual habis sebanyak 67 ribu. Jumlah tersebut membuat kawasan GBK diperkirakan dipadati suporter sejak sebelum pertandingan dimulai.

Untuk mengantisipasi situasi tersebut, Polda Metro Jaya menyiagakan 10.121 personel gabungan. Pengamanan tidak hanya berfokus di dalam stadion, tetapi mencakup jalur kedatangan suporter, pintu masuk, kawasan tribun, area GBK, titik berkumpul pendukung kedua tim, hingga ruas jalan di sekitar Senayan.

Pengamanan dimatangkan sebelum pertandingan

Kesiapan pengamanan dimatangkan melalui Tactical Floor Game (TFG) yang dipimpin Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya Brigjen Pol. La Ode Aries El Fathar di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, Senin (5/10).

TFG menjadi bagian penting untuk memastikan setiap unsur yang terlibat memahami tugas dan posisi masing-masing. Dalam simulasi tersebut, polisi membahas penempatan personel, pola pergerakan suporter, rekayasa lalu lintas hingga kemungkinan munculnya situasi darurat.

“TFG ini untuk memastikan adanya penempatan personel dan pola pelaksanaan di lapangan. Sehingga dapat dipahami seluruh unsur,” kata La Ode.

Menurut dia, hasil pemetaan tersebut harus diteruskan kepada para perwira pengendali dan personel di lapangan. Dengan begitu, keputusan ketika pertandingan berlangsung tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Agar pelaksanaan bisa berjalan terarah dan terkoordinasi,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengamanan final tidak semata-mata berkaitan dengan menjaga stadion. Mobilitas puluhan ribu orang menuju satu kawasan dalam waktu hampir bersamaan memiliki potensi menimbulkan persoalan lain, terutama kepadatan lalu lintas dan penumpukan suporter.

Apalagi, sebelum laga final, SUGBK terlebih dahulu menjadi lokasi pertandingan perebutan tempat ketiga antara Malaysia dan Vietnam yang dimulai pukul 16.00 WIB. Dengan demikian, aktivitas penonton sudah berlangsung beberapa jam sebelum pertandingan Indonesia melawan Thailand.

80 petugas Dishub disiagakan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan skenario untuk mengantisipasi dampak pertandingan terhadap lalu lintas.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengerahkan 80 personel untuk melakukan pengaturan di sekitar GBK. Namun, tidak ada pola penutupan atau pengalihan yang sepenuhnya kaku. Pengaturan akan dilakukan secara situasional berdasarkan kondisi lalu lintas di lapangan.

Kepala Dishub DKI Jakarta Budi Awaluddin menjelaskan petugas juga menyiapkan sejumlah rute alternatif bagi masyarakat yang tidak berkepentingan menuju kawasan GBK.

“Kami menyiagakan sebanyak 80 petugas dan rute alternatif untuk mengantisipasi kepadatan di sekitar GBK,” kata Budi.

Ia meminta masyarakat menyesuaikan waktu perjalanan dan mengikuti arahan petugas. Imbauan ini penting karena kepadatan tidak hanya berpotensi terjadi tepat di depan stadion.

Arus kendaraan dari kawasan Selatan, Utara, Barat, dan Timur Jakarta juga dapat terdampak ketika ribuan kendaraan bergerak menuju atau meninggalkan kawasan Senayan.

Dari arah Blok M menuju Tanah Abang, misalnya, masyarakat dapat menggunakan jalur Panglima Polim, Kyai Maja, Sultan Iskandar Muda, Teuku Nyak Arief, Tentara Pelajar, Penjernihan hingga KH Mas Mansyur.

Sementara kendaraan dari Blok M menuju Slipi dapat menggunakan jalur Panglima Polim, Kyai Maja, Sultan Iskandar Muda, Teuku Nyak Arief, Tentara Pelajar hingga Letjen S. Parman.

Untuk perjalanan dari Blok M menuju kawasan Timur atau Kampung Melayu, alternatif yang disiapkan antara lain melalui Trunojoyo, Wolter Monginsidi, Gunawarman, Senopati, Suryo, Kapten Tendean, HR Rasuna Said, Prof. Dr. Satrio dan Raya Casablanca.

Dari arah Barat, pengendara menuju Tebet dapat menggunakan jalur S. Parman, Pejompongan, Penjernihan, RM Margono, Galunggung, Dr. Saharjo, Prof. Dr. Soepomo hingga MT Haryono.

Sementara dari arah Tebet menuju Slipi, rute alternatif dapat ditempuh melalui Kapten Tendean, Wolter Monginsidi, Trunojoyo, Kyai Maja, Sultan Iskandar Muda, Teuku Nyak Arief, Tentara Pelajar dan Letjen S. Parman.

Ketika keamanan bertemu euforia

Di tengah persiapan aparat dan pemerintah daerah, tantangan terbesar tetap berada pada perilaku penonton. Final mempertemukan dua tim dengan basis pendukung besar. Kemenangan atau kekalahan dapat memicu luapan emosi, terutama ketika pertandingan berlangsung ketat.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto meminta pendukung Indonesia maupun Thailand menjaga ketertiban.

“Berikanlah dukungan Anda secara tertib dan sportif. Ikuti pemeriksaan dan arahan petugas, serta hindari membawa barang-barang yang telah dilarang,” ujar Budi.

Pesan tersebut menjadi penting karena keamanan pertandingan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah personel. Ribuan petugas dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan, tetapi perilaku penonton tetap menjadi faktor utama.

Di sisi lain, Timnas Indonesia datang ke final dengan ambisi besar. Pelatih kepala John Herdman mengungkapkan para pemain siap memberikan kemampuan terbaik di hadapan puluhan ribu pendukung di SUGBK.

“Kami memang sangat antusias. Tim akan memasuki Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) untuk memberikan segalanya bagi negara,” kata Herdman dalam konferensi pers sebelum pertandingan, Minggu (4/10).

Final ini juga menjadi kesempatan bagi Herdman dan skuad Indonesia untuk menebus kegagalan pada Piala AFF 2026 sekitar dua bulan sebelumnya, ketika Indonesia tidak berhasil mencapai semifinal. Kini, kesempatan merebut trofi terbuka di depan mata. Herdman bahkan optimistis timnya mampu menjadi juara.

Optimisme tersebut akan diuji di hadapan stadion yang dipastikan penuh. Sebanyak 67 ribu tiket telah terjual, membuat final FIFA ASEAN Cup 2026 bukan sekadar pertandingan sepak bola.

Bagi Jakarta, laga ini adalah operasi besar yang mempertemukan tiga kepentingan sekaligus: pertandingan harus berjalan aman, suporter harus dapat menikmati laga, dan mobilitas kota tetap bergerak.

Karena itu, keberhasilan final bukan hanya soal siapa yang mengangkat trofi pada malam hari. Ukurannya juga terlihat dari bagaimana puluhan ribu orang datang, menonton, lalu pulang dengan aman tanpa membuat Jakarta kehilangan kendali atas jalan-jalannya.

Exit mobile version