KabarJakarta.com — Di tengah kehidupan masyarakat pesisir yang semakin berhadapan dengan tuntutan pariwisata modern, tradisi lama tidak selalu harus ditinggalkan. Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, kearifan lokal justru mulai dilihat sebagai kekuatan untuk menjaga budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Hal itu terlihat dalam Festival Bahari Laut atau sedekah laut yang digelar di Kelurahan Pulau Panggang. Tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan budaya masyarakat pesisir, tetapi juga mulai diarahkan menjadi bagian dari daya tarik wisata Kepulauan Seribu.
Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan mengungkapkan sedekah laut merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai penting bagi masyarakat. Karena itu, tradisi tersebut perlu dipelihara dan dijadikan agenda yang berkelanjutan.
“Sedekah laut merupakan salah satu kearifan lokal yang luar biasa. Tentunya harus kita agendakan ,dari tahun ke tahun, untuk menjaga keselamatan kita semua sekaligus melestarikan tradisi yang sudah dilakukan turun temurun sejak nenek moyang,” kata Fadjar di Jakarta, Senin (5/10).
Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar ruang untuk mencari ikan atau jalur transportasi. Laut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari laut pula lahir berbagai tradisi, termasuk kegiatan sedekah laut yang menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap lingkungan dan sumber penghidupan mereka.
Karena itu, Fadjar menilai tradisi tersebut memiliki peluang besar untuk diperkenalkan kepada wisatawan. Namun, upaya menjadikannya sebagai atraksi wisata tidak boleh mengubah makna budaya yang terkandung di dalamnya.
Menurut dia, tradisi masyarakat dapat dikemas secara lebih menarik tanpa kehilangan akar sejarahnya. Hiasan kapal, aktivitas masyarakat pesisir, hingga rangkaian kegiatan dalam festival dapat menjadi pengalaman wisata yang berbeda bagi pengunjung.
“Dengan begitu, wisatawan bisa menikmati tradisi dan kearifan lokal yang disuguhkan,” ujarnya.
Warga jangan hanya jadi penonton
Pengembangan wisata berbasis budaya, menurut Fadjar, tidak boleh berhenti pada banyaknya wisatawan yang datang. Ukuran keberhasilannya juga harus dilihat dari seberapa besar manfaat yang diterima masyarakat setempat.
Warga Pulau Panggang diharapkan tidak sekadar menjadi penonton ketika kawasan mereka berkembang menjadi tujuan wisata. Mereka harus mendapatkan ruang untuk menjadi pelaku utama dalam kegiatan ekonomi.
Peluang itu bisa muncul dari berbagai sektor sederhana. Warga dapat mengelola homestay, menyediakan makanan khas, menjual produk kuliner, hingga mengembangkan hasil laut menjadi produk olahan bernilai tambah.
Dengan pola seperti itu, kedatangan wisatawan tidak hanya memberikan keuntungan bagi sektor pariwisata, tetapi juga menciptakan perputaran uang di tingkat masyarakat.
Konsep tersebut sekaligus membuat tradisi memiliki fungsi ekonomi tanpa harus kehilangan identitasnya. Festival bukan sekadar acara tahunan, melainkan pintu masuk untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat pesisir kepada wisatawan.
Namun, ada satu persoalan yang tidak kalah penting: akses.
Transportasi jadi kunci
Fadjar menjelaskan pertumbuhan pariwisata Kepulauan Seribu sangat bergantung pada konektivitas transportasi laut. Wisatawan membutuhkan akses yang mudah, aman dan terjangkau untuk mencapai pulau-pulau tujuan.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu terus mendorong pengembangan transportasi laut, termasuk rencana penggunaan Transjakarta sebagai operator transportasi laut.
“Kami mohon dukungan para tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh pihak agar pengembangan transportasi laut menggunakan Transjakarta sebagai operatornya. Tidak menutup kemungkinan,kapal-kapal tradisional juga akan mendukung konektivitas,” terang Fadjar.
Pengembangan konektivitas ini penting agar potensi wisata tidak berhenti pada kegiatan festival. Jika akses semakin baik, wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di pulau.
Pada saat yang sama, kapal tradisional tetap dapat memiliki ruang dalam sistem transportasi dan wisata. Keberadaannya bahkan bisa menjadi bagian dari pengalaman wisata bahari yang khas.
Fadjar juga mengapresiasi Festival Bahari Laut yang melibatkan komunitas dan masyarakat. Meski persiapannya dilakukan dalam waktu relatif singkat, kegiatan tersebut dapat berjalan lancar.
Ke depan, pemerintah daerah ingin kegiatan serupa dikembangkan dengan pengelolaan yang lebih profesional. Pemerintah juga berencana menggandeng kelompok filantropi dan berbagai komunitas agar pengembangan wisata Kepulauan Seribu tidak berjalan sendiri-sendiri.
Tujuannya sederhana: menjaga tradisi, menghidupkan pariwisata dan memastikan manfaat ekonomi kembali kepada masyarakat.
Di Pulau Panggang, sedekah laut akhirnya menunjukkan bahwa masa lalu dan masa depan tidak harus dipertentangkan. Tradisi yang lahir dari kehidupan masyarakat pesisir dapat tetap dijaga, sekaligus menjadi bagian dari ekonomi baru.
Syaratnya, masyarakat tetap menjadi pemilik cerita sekaligus pelaku utama di dalamnya.
