KabarJakarta.com — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memasang target tinggi bagi Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) DKI Jakarta. Kontingen Ibu Kota diminta merebut gelar juara umum pada Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) IX yang akan digelar di Sulawesi Tengah pada 2027.
Target itu disampaikan Pramono saat membuka Festival Olahraga Rakyat (FOR) Jakarta 2026 di Jakarta International Velodrome, Jakarta, Minggu (4/10). Di hadapan peserta dan pengurus olahraga masyarakat, ia meminta KORMI DKI tidak sekadar mengirim kontingen, tetapi datang dengan ambisi menjadi yang terbaik.
“Saya sampaikan kepada Ketua Umum KORMI DKI Jakarta agar penyelenggaraan Fornas yang akan diadakan di Palu, saya berharap betul Jakarta bisa menjadi juara umum,” kata Pramono di Jakarta, Minggu (4/10).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Fornas 2027 dipandang sebagai salah satu tolok ukur prestasi olahraga masyarakat Jakarta. Apalagi, Jakarta selama ini memiliki dukungan sumber daya, fasilitas olahraga, jumlah penduduk, hingga ekosistem komunitas yang relatif besar.
Jakarta harus konsisten dengan klaim nomor satu
Pramono mengaitkan target juara umum KORMI dengan capaian Jakarta di bidang lain. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Ibu Kota mencapai 5,52 persen, sementara investasi Jakarta berada di posisi teratas secara nasional.
Capaian tersebut semestinya juga tercermin dalam bidang olahraga masyarakat. “Jakarta sekarang ini hampir di semua ukuran, tingkatan itu selalu nomor satu. Tapi kalau sampai di KORMI-nya tidak juara satu, keterlaluan,” ujar Pramono.
Pernyataan itu sekaligus menjadi tantangan bagi KORMI DKI Jakarta. Sebab, menjadi juara umum dalam ajang nasional tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya peserta atau besarnya nama Jakarta.
Kontingen harus dipersiapkan secara serius. Mulai dari pemetaan cabang olahraga masyarakat yang dipertandingkan, pembinaan atlet atau pegiat, seleksi peserta, hingga strategi menghadapi kontingen dari daerah lain.
Di sinilah target politik dan tantangan teknis bertemu. Jika Jakarta ingin benar-benar menjadi juara umum, KORMI DKI membutuhkan persiapan yang terukur, bukan sekadar target di atas kertas.
Bukan sekadar perebutan gelar
Fornas IX akan berlangsung di Provinsi Sulawesi Tengah pada 2027. Penetapan Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah sebelumnya telah ditetapkan oleh KORMI.
Berbeda dengan olahraga prestasi yang orientasinya lebih kuat pada pencapaian medali dan rekor, olahraga masyarakat memiliki tujuan yang lebih luas. Aktivitas tersebut dirancang untuk mendorong masyarakat agar aktif bergerak, berekreasi, sekaligus mempertahankan berbagai bentuk olahraga tradisional.
Ketua Umum KORMI Adil Hakim menjelaskan Fornas menjadi salah satu agenda prioritas organisasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam olahraga.
Melalui Fornas, olahraga masyarakat dan olahraga tradisional Indonesia diharapkan tidak kehilangan ruang di tengah perkembangan olahraga modern.
“Fornas merupakan salah satu agenda yang jadi prioritas KORMI untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam olahraga,” terang Hakim.
Karena itu, keberhasilan Fornas semestinya tidak hanya diukur dari siapa yang mengumpulkan medali terbanyak. Ada tujuan yang lebih besar, yakni memperluas keterlibatan masyarakat dalam aktivitas olahraga serta menjaga keberadaan olahraga tradisional.
Olahraga penggerak ekonomi
Fornas juga memiliki dimensi ekonomi. Kehadiran ribuan peserta, pendamping, pengurus, dan penonton berpotensi menciptakan perputaran uang di daerah penyelenggara.
Bagi Sulawesi Tengah, menjadi tuan rumah Fornas IX bukan hanya kesempatan menggelar kompetisi. Ajang tersebut dapat membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, sektor transportasi, akomodasi, kuliner, hingga usaha kecil dan menengah.
Adil Hakim menjelaskan, penyelenggaraan Fornas merupakan bagian dari upaya menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah melalui olahraga.
Dengan demikian, Fornas 2027 memiliki dua wajah. Di satu sisi, Jakarta melihatnya sebagai arena pembuktian prestasi KORMI. Di sisi lain, bagi daerah tuan rumah dan masyarakat, kegiatan tersebut menjadi ruang rekreasi sekaligus peluang ekonomi.
Target Pramono agar Jakarta menjadi juara umum pada akhirnya akan menjadi pekerjaan rumah bagi KORMI DKI. Tantangannya bukan hanya membawa nama besar Ibu Kota, tetapi membuktikan bahwa besarnya sumber daya Jakarta dapat diterjemahkan menjadi prestasi.
Jika target itu tercapai, Jakarta tidak hanya pulang membawa gelar juara. Ibu Kota juga menunjukkan bahwa olahraga masyarakat dapat menjadi bagian penting dari pembangunan kota—bukan sekadar kegiatan rekreasi, tetapi ruang untuk membangun kebersamaan, menjaga tradisi, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
