Nada Reggae Mengalun di Untung Jawa, Ekonomi Lokal Ikut Bergoyang

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Seribu akan menggelar Festival Reggae di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Selatan, pada Sabtu (3/10/2026). Foto: Pemkab Kepulauan Seribu

KabarJakarta.com —  Langit sore di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Selatan, menjadi lebih semarak ketika alunan musik reggae mulai terdengar. Musik yang identik dengan suasana santai itu tidak hanya menjadi hiburan bagi warga dan wisatawan, tetapi juga membawa pesan yang lebih besar: pariwisata dan ekonomi lokal bisa tumbuh melalui kreativitas masyarakat.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Seribu menggelar Festival Reggae 2026 pada Sabtu (3/10). Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan potensi wisata Kepulauan Seribu sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengambil manfaat dari geliat kunjungan wisatawan.

Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan berharap festival itu tidak berhenti sebagai pertunjukan musik semata. Menurut dia, kegiatan semacam ini dapat menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat citra Kepulauan Seribu sebagai tujuan wisata.

“Kami berharap Festival Reggae ini mampu mendorong kreativitas di masyarakat. Menggerakkan ekonomi lokal, serta memperkuat daya tarik wisata di Kepulauan Seribu,” kata Fadjar di Jakarta, Minggu  (4/10).

Bukan sekadar musik

Bagi Fadjar, kekuatan Kepulauan Seribu tidak hanya berada pada laut, pantai, dan gugusan pulau yang menjadi tujuan wisata. Ada kekayaan lain yang tidak kalah penting, yakni budaya, kreativitas warga, dan energi anak muda.

Festival Reggae menjadi salah satu cara untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut dalam satu ruang. Musik menjadi pintu masuk untuk menghadirkan interaksi antara warga, wisatawan, komunitas, pelaku usaha, dan para pekerja kreatif.

Karena itu, festival dinilai dapat menghidupkan ruang publik sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menunjukkan kemampuan mereka.

“Melalui musik, kita mampu menghadirkan ruang interaksi, dan memperkuat kebersamaan di masyarakat. Sekaligus memperkenalkan potensi Kepulauan Seribu kepada masyarakat secara lebih luas,” ujar Fadjar.

Konsep tersebut menjadi penting bagi wilayah kepulauan seperti Kepulauan Seribu. Pariwisata tidak hanya membutuhkan destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk datang kembali.

Festival, pertunjukan seni, kuliner, hingga kegiatan komunitas dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Pulau Untung Jawa jadi panggung

Pulau Untung Jawa dipilih sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Pulau ini memiliki karakter wisata yang berbeda dengan kawasan perkotaan Jakarta. Suasana pesisir, kehidupan masyarakat pulau, serta panorama laut menjadi bagian dari daya tarik yang dapat dinikmati wisatawan.

Fadjar menilai potensi yang dimiliki merupakan saah satu modal penting dalam pengembangan pariwisata. Keindahan alam, keramahan masyarakat, suasana pesisir, hingga beragam potensi wisata yang tersedia dapat dikembangkan bersama dengan kegiatan ekonomi kreatif.

Dengan begitu, wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat laut, tetapi juga menikmati kegiatan dan kehidupan masyarakat setempat.

Festival Reggae diharapkan dapat menjadi salah satu contoh bagaimana kegiatan seni dapat berjalan beriringan dengan pariwisata. Ketika wisatawan datang, peluang ekonomi pun terbuka bagi pelaku usaha lokal, mulai dari kuliner, suvenir, jasa wisata, hingga berbagai usaha lainnya.

Musik, wisata, dan ekonomi kreatif

Festival yang digelar oleh Pemkab Kepulauan Seribu melalui Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu mampu menghadirkan sejumlah musisi reggae. Souljah, Dhyo Haw, D’Blow, dan sejumlah penampil lainnya ikut memeriahkan acara.

Asisten Administrasi, Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Kepulauan Seribu, Endro Mukti Wibowo, mengatakan kehadiran para musisi tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan potensi wisata daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

“Sudin Parekraf menghadirkan beberapa penyanyi dan musisi reggae, seperti Souljah, D’Blow, Dhyo Haw, dan sejumlah penampil lainnya,” tutur Endro.

Di tengah denting gitar dan irama reggae, pesan yang ingin dibangun sebenarnya cukup sederhana: pariwisata tidak harus selalu hadir melalui pembangunan fisik. Kreativitas juga bisa menjadi daya tarik.

Fadjar mengapresiasi kerja keras panitia, musisi, komunitas, pelaku usaha, masyarakat Pulau Untung Jawa, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival.

Ia berharap Festival Reggae 2026 dapat menjadi awal dari kegiatan serupa yang lebih kuat di masa mendatang.

“Semoga Festival Reggae tahun ini merupakan momentum dalam memperkuat ekosistem seni, musik, kegiatan pariwisata, dan ekonomi kreatif di Kepulauan Seribu,” katanya.

Pada akhirnya, panggung reggae di Pulau Untung Jawa bukan hanya soal siapa yang bernyanyi dan siapa yang datang menonton. Di balik musik yang mengalun, ada harapan agar semakin banyak orang mengenal Kepulauan Seribu, datang berwisata, dan ikut menghidupkan ekonomi masyarakat pulau.

Exit mobile version