KabarJakarta.com — Di tengah hamparan laut yang memisahkan satu pulau dengan pulau lainnya, para pelajar Kepulauan Seribu menemukan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka. Bukan hanya lewat pelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui seni, kepemimpinan, keterampilan bertahan hidup hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Ruang itu hadir dalam kegiatan Kanvas Pelajar Kepulauan Seribu (KPKS) 2026 yang digelar di Plaza Kabupaten, Pulau Pramuka. Mengusung tema “Berkreasi Pulauku, Menyala Prestasiku”, kegiatan tersebut menjadi ajang bagi pelajar dari berbagai jenjang untuk berekspresi sekaligus mengembangkan potensi.
Lebih dari 600 pelajar bersama guru pendamping mengikuti rangkaian kegiatan yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu melalui Suku Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Seribu.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Seribu Mohammad Tohari menjelaskan KPKS dirancang untuk memantik potensi pelajar agar terus berkembang dan mampu meraih prestasi.
“KPKS merupakan salah satu upaya untuk memantik potensi pelajar siswa agar berkembang dan berprestasi,” kata Tohari di Jakarta, Senin (31/8).
Menurut Tohari, Kepulauan Seribu memiliki posisi yang unik. Wilayahnya membentang dari Pulau Sabira di bagian utara hingga Pulau Untung Jawa di sisi selatan. Gugusan pulau tersebut selama ini dikenal karena keindahan alamnya, tetapi menurut dia, potensi Kepulauan Seribu tidak berhenti pada panorama laut dan pulau-pulau kecil.
Di balik wilayah kepulauan itu, terdapat anak-anak muda yang juga memiliki potensi untuk berkembang.
“Pulau Seribu tak hanya menawarkan keindahan alam, namun juga menyimpan mutiara-mutiara yang siap bersinar,” ujarnya.
Bukan sekadar seremonial
KPKS 2026 tidak dibuat sekadar sebagai kegiatan tahunan yang berakhir setelah acara selesai. Beragam kegiatan dirancang agar pelajar dapat mencoba kemampuan mereka dalam situasi yang berbeda.
Rangkaian kegiatan antara lain Lomba Regu Prestasi (LRP) Penggalang, Kawah Kepemimpinan Pelajar, ruang seni siswa, Penjejak Badai, simulasi penyelamatan, serta display dan olah sampah.
Setiap kegiatan memberikan pengalaman yang berbeda. Pelajar tidak hanya dituntut untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga belajar bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan dan menghasilkan karya.
Tohari membeberkan KPKS menjadi tempat bertemunya potensi, kesempatan berekspresi dan karya nyata para pelajar.
Salah satu kegiatan yang memiliki nuansa berbeda adalah Penjejak Badai. Dalam kegiatan tersebut, pelajar dikenalkan dengan keterampilan bertahan hidup di alam. Mereka belajar mempersiapkan diri menghadapi kondisi yang membutuhkan ketahanan, ketelitian dan kerja sama.
Namun, kegiatan itu tidak berhenti pada keterampilan bertahan hidup. Para pelajar juga diajak melihat hubungan mereka dengan lingkungan sekitar melalui kegiatan penanaman mangrove di Pulau Karya.
“Anak-anak dilatih menyiapkan diri dalam situasi survive di alam. Mereka juga diajak mengenal dan mencintai lingkungan, dengan menanam mangrove di Pulau Karya,” kata Tohari.
Pesan tersebut menjadi penting bagi pelajar yang tumbuh di wilayah kepulauan. Laut, pesisir dan ekosistem mangrove bukan sekadar bagian dari pemandangan sehari-hari, tetapi juga lingkungan yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Mempertemukan pelajar dari berbagai pulau
KPKS 2026 juga menjadi momentum mempertemukan pelajar dari berbagai wilayah Kepulauan Seribu. Peserta datang dari sejumlah pulau, mulai Pulau Sabira, Pulau Pramuka, Pulau Tidung hingga Pulau Untung Jawa.
Jarak antarpulau yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka tidak menjadi penghalang untuk berkumpul dalam satu ruang.
Hal itu terlihat dalam ruang seni siswa yang melibatkan peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, mulai PAUD hingga SMA/SMK. Mereka mendapat kesempatan untuk menampilkan kreativitas dan karya masing-masing.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiana menilai pertemuan tersebut penting karena memberikan ruang apresiasi dan ekspresi bagi pelajar dari berbagai pulau. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya.
“Kegiatan ruang seni siswa yang mempertemukan pelajar dari berbagai pulau merupakan langkah positif dalam memberikan kesempatan yang sama, bagi anak-anak Kepulauan Seribu. Sama seperti di darat,” ungkap Nahdiana.
Bagi Nahdiana, pemerataan kesempatan tidak hanya berbicara mengenai akses terhadap pendidikan formal. Anak-anak juga membutuhkan ruang untuk mencoba, berkarya, tampil dan mendapatkan apresiasi.
Karena itu, kolaborasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk memastikan seluruh anak Jakarta, termasuk mereka yang tinggal di wilayah kepulauan, memperoleh akses pendidikan dan pengembangan potensi yang baik.
Belajar dari lingkungan sendiri
Selain seni dan kepemimpinan, KPKS 2026 memasukkan edukasi lingkungan melalui kegiatan display dan olah sampah. Pelajar dikenalkan pada persoalan sampah sekaligus cara mengelolanya.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Lingkungan sekitar dijadikan bagian dari proses belajar.
KPKS pada akhirnya menjadi gambaran bahwa prestasi pelajar dapat tumbuh dari banyak hal. Ada yang menemukan kepercayaan diri melalui seni, ada yang belajar memimpin, sementara lainnya mendapatkan pengalaman melalui kegiatan alam dan lingkungan.
Dari Pulau Pramuka, para pelajar Kepulauan Seribu tidak hanya berkumpul untuk mengikuti perlombaan. Mereka mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan bahwa keterbatasan geografis bukan alasan untuk membatasi kreativitas dan prestasi.
Melalui KPKS 2026, semangat “Berkreasi Pulauku, Menyala Prestasiku” diterjemahkan menjadi ruang nyata bagi anak-anak kepulauan untuk tumbuh, berekspresi dan menunjukkan kemampuan mereka.






