KabarJakarta.com – Obat menjadi barang yang hampir selalu tersedia di setiap rumah. Mulai dari obat penurun demam, pereda nyeri, obat batuk, hingga obat yang diperoleh berdasarkan resep dokter. Namun, keberadaan obat di rumah tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang benar tentang cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuangnya.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) untuk mengedukasi masyarakat melalui gerakan Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang (Dagusibu).
Gerakan ini mengajak warga lebih cermat dalam memperlakukan obat sejak dibeli hingga tidak lagi digunakan. Edukasi tersebut dinilai penting karena kesalahan dalam penggunaan atau penyimpanan obat dapat mengurangi manfaatnya, bahkan menimbulkan risiko bagi kesehatan.
Wakil Wali Kota Jakarta Timur Kusmanto menjelaskan, Dagusibu tidak sekadar menjadi kampanye kesehatan, tetapi juga bagian dari upaya mencegah penyalahgunaan obat di lingkungan masyarakat.
“Gerakan ini penting dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat kesehatan, sekaligus mencegah risiko penyalahgunaan obat-obatan di lingkungan masyarakat,” kata Kusmanto di Jakarta, Minggu (31/8).
Menurut dia, obat sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap keluarga memiliki persediaan obat di rumah. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui aturan dasar dalam mengelola obat agar penggunaannya tetap aman.
Kusmanto membeberkan, prinsip Dagusibu dimulai dari cara memperoleh obat. Masyarakat harus memastikan obat didapatkan melalui jalur yang benar. Selanjutnya, obat digunakan berdasarkan resep atau anjuran dokter, termasuk memperhatikan jenis dan dosisnya.
Setelah digunakan, obat juga tidak boleh disimpan sembarangan. Kondisi tempat penyimpanan dan tanggal kedaluwarsa perlu diperhatikan agar kualitas obat tetap terjaga. Begitu pula ketika obat sudah tidak diperlukan atau melewati masa kedaluwarsa, masyarakat harus membuangnya dengan cara yang tepat.
“Dengan adanya edukasi, diharapkan masyarakat cerdas saat menggunakan obat. Obat seharusnya didapatkan dengan benar, digunakan sesuai resep dan anjuran dokter. Disimpan di tempat yang tepat, serta dibuang sesuai ketentuan, apabila sudah tidak digunakan atau kedaluwarsa,” jelasnya.
Penyalahgunaan obat
Bagi Pemkot Jakarta Timur, edukasi Dagusibu juga memiliki tujuan yang lebih luas. Pengetahuan mengenai obat diharapkan menjadi benteng bagi keluarga, terutama untuk melindungi anak dan remaja dari penyalahgunaan obat-obatan yang dilarang.
Keluarga memiliki posisi penting karena menjadi lingkungan terdekat anak. Dengan pemahaman yang cukup, orang tua diharapkan mampu mengenali perubahan perilaku anak yang berpotensi menjadi tanda adanya masalah atau penyalahgunaan obat.
“Kita ingin meningkatkan gaya hidup sehat di lingkungan keluarga. Menggunakan obat dengan cermat, sekaligus menjaga keluarga dari pengaruh obat-obatan dilarang,” ucap Kusmanto.
Pemkot Jakarta Timur berencana memperluas edukasi tersebut agar tidak hanya berhenti di lingkungan keluarga dan permukiman. Remaja dan anak sekolah akan menjadi salah satu sasaran utama melalui kerja sama dengan Forum Komunikasi Kader Sekolah (FKKS), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta instansi pendidikan.
Hal yang sering diabaikan
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Arief Wahyudhy menjelaskan penerapan Dagusibu menjadi salah satu fondasi penting dalam edukasi kesehatan masyarakat.
Pemahaman tentang obat perlu diberikan secara terus-menerus, baik di sekolah maupun lingkungan permukiman. Sosialisasi juga perlu dibarengi dengan koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi penyimpangan dalam peredaran dan penggunaan obat.
“Prinsipnya, dapatkan obat secara benar dan gunakan sesuai arahan dokter, baik jenis maupun takarannya. Kemudian simpan dengan memperhatikan tanggal kedaluwarsa, dan obat yang kedaluwarsa dibuang sesuai aturan,” ucap Arief.
Ia mengungkapkan Sudin Kesehatan Jakarta Timur akan berkoordinasi dengan BPOM dan sektor pendidikan untuk memperluas sosialisasi. Langkah tersebut diharapkan membuat pemahaman tentang penggunaan obat yang benar semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari para pelajar.
Koordinasi juga akan dilakukan apabila ditemukan indikasi penyimpangan dalam penggunaan maupun peredaran obat di lapangan.
Dengan demikian, Dagusibu bukan sekadar mengingatkan masyarakat tentang obat, tetapi mendorong kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan dari rumah. Mendapatkan obat dari sumber yang benar, menggunakannya sesuai petunjuk, menyimpannya dengan tepat, dan membuangnya secara aman menjadi langkah kecil yang dapat membantu menjaga kesehatan keluarga sekaligus mencegah obat disalahgunakan.






