KabarJakarta.com — Langit bisa kembali terlihat normal setelah letusan gunung api berhenti. Namun, bukan berarti ancaman bagi kesehatan ikut menghilang. Abu vulkanik yang tertinggal di jalan, atap rumah, halaman, hingga permukaan kendaraan masih dapat kembali beterbangan dan masuk ke saluran pernapasan.
Kondisi inilah yang perlu menjadi perhatian masyarakat di wilayah terdampak erupsi. Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr. dr. Sukamto Koesnoe menjelaskan pentingnya kewaspadaan terhadap abu vulkanik tidak boleh berhenti ketika aktivitas erupsi selesai.
Menurut Sukamto, abu yang sudah mengendap belum sepenuhnya aman. Angin, kendaraan yang melintas, maupun aktivitas warga saat membersihkan lingkungan dapat membuat partikel abu kembali terangkat ke udara.
“Jadi risikonya berlanjut berhari-hari, bahkan sampai berminggu-minggu, sampai abu benar-benar dibersihkan atau tersapu hujan,” kata Sukamto di Jakarta, Selasa (8/9).
Bukan sekadar debu biasa
Bagi sebagian orang, abu vulkanik mungkin terlihat seperti debu biasa. Padahal, karakter partikelnya berbeda. Abu vulkanik dapat memiliki bentuk tajam dan bersudut serta mengandung silika. Sebagian partikelnya juga berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Partikel berukuran PM10 dan PM2.5 menjadi perhatian karena dapat terhirup hingga ke bagian bawah paru-paru, bahkan mencapai alveolus.
Paparan tersebut dapat menimbulkan sejumlah keluhan, mulai dari iritasi hidung, tenggorokan kering dan nyeri, batuk kering, sesak napas, hingga dada terasa berat.
Risikonya menjadi lebih besar bagi masyarakat yang sebelumnya sudah memiliki gangguan pernapasan. Penderita asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), bronkitis kronis, dan rinitis alergi termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati.
Bagi kelompok tersebut, paparan abu dapat memicu serangan atau memperburuk kondisi yang sudah ada. Iritasi pada saluran pernapasan juga dapat mengganggu pertahanan alami tubuh sehingga risiko infeksi saluran pernapasan akut ikut meningkat.
Sukamto juga mengingatkan pasien penyakit paru kronis dan lansia untuk memperhatikan status vaksinasi influenza serta pneumokokus. Menurut dia, vaksinasi merupakan bagian dari perlindungan yang kerap terlupakan ketika masyarakat berfokus menghadapi bencana.
Mata dan kulit terancam
Abu vulkanik tidak hanya menyerang paru-paru. Mata juga menjadi bagian tubuh yang rentan terkena paparan.
Partikel abu yang tajam dapat menyebabkan mata merah, iritasi, konjungtivitis, bahkan lecet pada kornea. Pengguna lensa kontak menjadi kelompok yang lebih berisiko karena partikel abu dapat terperangkap di antara lensa dan permukaan mata.
“Pengguna lensa kontak paling berisiko, dan sebaiknya beralih sementara menggunakan kacamata,” kata Sukamto.
Kulit juga dapat mengalami masalah setelah bersentuhan dengan abu. Keluhan yang muncul antara lain gatal, iritasi, dan dermatitis. Kondisi tersebut dapat semakin terasa jika abu memiliki sifat asam atau bercampur dengan keringat.
Persoalan lain muncul ketika abu mencemari makanan dan air minum yang tidak ditutup dengan baik. Kontaminasi tersebut berpotensi mengganggu sistem pencernaan sehingga masyarakat perlu memastikan bahan makanan dan sumber air terlindungi selama kondisi lingkungan masih dipenuhi abu.
Kelompok rentan perlu lebih siap
Dampak abu vulkanik juga perlu dilihat dari sisi jantung dan pembuluh darah. Partikel sangat halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam tubuh dan meningkatkan risiko perburukan pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung.
Meski silikosis sering dikaitkan dengan paparan silika, Sukamto menilai masyarakat tidak perlu terlalu fokus pada risiko tersebut dalam situasi erupsi saat ini. Silikosis lebih berkaitan dengan paparan berulang dalam jangka panjang selama bertahun-tahun.
“Yang lebih relevan bagu masyarakat umum saat ini, adalah dampak akut di atas,” tegasnya.
Untuk penderita asma dan PPOK, kesiapan obat menjadi hal penting. Sukamto meminta pasien memastikan obat pengontrol dan obat pelega selalu tersedia, termasuk ketika harus bepergian dari wilayah terdampak.
Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak yang semakin berat atau mengi yang tidak membaik setelah menggunakan inhaler. Nyeri dada, demam disertai batuk berdahak yang menetap, nyeri mata, atau penglihatan kabur juga tidak boleh diabaikan.
Masker harus rapat
Perlindungan sederhana tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan. Sukamto merekomendasikan masker N95, KN95, atau FFP2 ketika masyarakat harus beraktivitas di lingkungan yang masih dipenuhi abu.
Namun, kualitas bahan masker bukan satu-satunya hal yang menentukan. Masker harus terpasang rapat pada wajah sehingga tidak menyisakan celah di sekitar hidung dan pipi.
Artinya, setelah erupsi mereda, kewaspadaan justru belum selesai. Masyarakat masih harus menghadapi abu yang tersisa dan kemungkinan kembali beterbangan setiap kali angin berembus atau kendaraan melintas.
Ancaman tersebut menjadi semakin relevan karena beberapa gunung api di Indonesia belakangan mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan, di antaranya Gunung Anak Krakatau, Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung.
Berdasarkan informasi yang dibagikan BMKG melalui akun media sosial resminya, pada 7 September 2026 pukul 15.00 WIB, sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda teridentifikasi mengarah ke sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Bagi warga di wilayah terdampak, kondisi itu menjadi pengingat bahwa berakhirnya letusan bukan berarti berakhir pula risikonya. Abu yang tampak diam di permukaan masih bisa kembali ke udara dan masuk ke tubuh.
Karena itu, membersihkan lingkungan dengan cara yang aman, melindungi makanan dan air, menggunakan masker yang tepat, serta memperhatikan gejala kesehatan menjadi bagian penting dari fase setelah erupsi. Gunung mungkin telah kembali tenang, tetapi kewaspadaan masyarakat masih harus tetap menyala.






