Jangan Mudah Percaya: Kenali Hoaks Kesehatan di Media Sosial

Emergency Medical Team (TCK-EMT) Batch 2 Kementerian Kesehatan RI terus memberikan pelayanan kesehatan pascabencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pada Jumat (9/1), pelayanan difokuskan di sejumlah puskesmas serta RSUD Pidie Jaya untuk memastikan akses layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan. Foto: Kemenkes

KabarJakarta.com — Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat kini bisa mengetahui berbagai kabar hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko. Informasi yang beredar di media sosial tidak selalu benar, termasuk informasi yang berkaitan dengan kesehatan.

Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) Kementerian Kesehatan, Rizky Ika Syafitri, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi.

Dalam diskusi publik di Jakarta, Sabtu (5/9), Rizky menjelaskan kelompok yang paling rentan terpapar hoaks adalah masyarakat yang belum memiliki kemampuan cukup untuk membedakan informasi yang benar dan palsu.

“Ini urusannya digital literasi. Indonesia tuh, penetrasi internetnya tinggi banget,” ujar Rizky.

Dia menambahkan, “Di sini pengguna sosmednya luar biasa. Semua orang pakai sosial media, tapi belum tentu paham bagaimana seharusnya berinteraksi di media sosial.”

Menurut Rizky, tingginya penggunaan internet dan media sosial belum otomatis membuat masyarakat memiliki literasi digital yang baik. Sebagian orang masih menerima informasi secara mentah tanpa memeriksa sumber maupun kebenarannya.

Kondisi tersebut menjadi celah bagi informasi palsu untuk menyebar luas. Terlebih, hoaks biasanya tidak dibuat secara sembarangan. Informasi palsu sering dikemas dengan cara yang terlihat meyakinkan agar mudah dipercaya.

Hoaks sering memainkan emosi

Rizky menjelaskan, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah cara sebuah informasi disampaikan. Hoaks kerap mencantumkan nama tokoh atau orang berpengaruh untuk memberikan kesan bahwa informasi tersebut dapat dipercaya.

Selain itu, narasinya sering dibuat untuk memancing emosi pembaca. Rasa marah, sedih, takut, bahkan senang dapat digunakan agar seseorang terdorong untuk segera membagikan informasi tanpa melakukan pemeriksaan lebih dulu.

Karena itu, masyarakat perlu berhenti sejenak ketika menerima informasi yang membuat emosi mereka langsung terpancing.

Dalam konteks kesehatan, kehati-hatian menjadi semakin penting karena informasi yang salah dapat berdampak langsung terhadap keputusan seseorang. Salah satunya adalah informasi mengenai vaksinasi.

Rizky mendorong adanya pembenahan strategi komunikasi kesehatan agar masyarakat tidak hanya menerima informasi berupa data dan fakta, tetapi juga memahami alasan di balik sebuah kebijakan kesehatan.

Ia menilai selalu ada pihak yang memanfaatkan keraguan masyarakat terhadap vaksin untuk kepentingan komersial, termasuk dengan menawarkan produk tertentu.

Keraguan tersebut kemudian dapat semakin besar ketika masyarakat menerima informasi yang tidak utuh atau sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan terhadap vaksin.

Vaksinasi bukan sekadar soal dosis

Menurut Rizky, komunikasi mengenai vaksinasi selama ini sering berfokus pada hal-hal teknis, seperti tujuan pemberian vaksin dan jumlah dosis yang harus diterima.

Informasi tersebut memang penting. Namun, masyarakat juga perlu memahami persoalan yang ingin dicegah melalui vaksinasi dan alasan mengapa mereka membutuhkannya.

Pendekatan komunikasi, ungkap Rizky, seharusnya dimulai dari persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat. Setelah itu, vaksinasi dapat diperkenalkan sebagai salah satu solusi untuk mencegah penyakit.

“Kalau saja, strategi komunikasi dimulai dengan buka masalahnya, nanti vaksinasi itu jadi solusi yang memang diperlukan oleh kita semua. Jadi bisa dibungkus dengan, ini hak kalian loh, yang harus kalian perjuangkan,” katanya.

Rizky menegaskan vaksinasi memiliki tujuan utama melindungi anak-anak dari penyakit. Cakupan imunisasi juga perlu dijaga pada kisaran 90–95 persen setiap tahun untuk membangun herd immunity atau kekebalan kelompok.

Kekebalan kelompok penting karena perlindungan tidak hanya diberikan kepada anak yang menerima vaksin. Ketika sebagian besar masyarakat memiliki kekebalan, anak-anak lain yang memiliki kondisi tertentu juga dapat ikut terlindungi.

“Kekebalan kelompok tuh, supaya kalau ada anak-anak lain yang punya masalah, dia tetap terlindungi. Terlindungi oleh yang lain, karena sebenarnya vaksinasi imunisasi itu kan, intervensi public health ya,” ujar Rizky.

Pada akhirnya, menghadapi hoaks kesehatan bukan hanya soal siapa yang paling cepat mendapatkan informasi. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menilai informasi sebelum mempercayainya.

Masyarakat dapat memulainya dengan memeriksa sumber, membandingkan informasi dengan sumber resmi, tidak langsung percaya pada judul atau narasi yang provokatif, serta menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk berhenti, berpikir, dan memeriksa kembali menjadi bentuk perlindungan yang sederhana, tetapi penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *