Ketika Bantaran KBT Menjadi Ruang Belajar Arsitektur dan Kehidupan

Festival Arsitektur Bantar Sungai menghadirkan Klinik Arsitektur yang memberikan layanan konsultasi gratis bagi masyarakat terkait rumah sehat, tata ruang, hingga persoalan hunian seperti sirkulasi udara dan kondisi rumah yang terlalu panas. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Suasana di kawasan pintu air Kanal Banjir Timur (KBT), Malakasari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, terasa berbeda pada Jumat (4/9). Kawasan yang selama ini identik dengan aliran air itu berubah menjadi ruang berkumpul, belajar, dan berkreasi bagi masyarakat.

Di tempat tersebut, Pemerintah Kota Jakarta Timur bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta menggelar Festival Arsitektur Bantar Sungai Jakarta. Festival yang berlangsung hingga Minggu (6/9) itu tidak sekadar menghadirkan pameran atau kegiatan hiburan. Ada pesan yang ingin dibawa: sungai merupakan bagian penting dari kehidupan kota dan layak dipandang lebih dari sekadar tempat air mengalir.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Jakarta Timur, Fauzi, saat membuka festival menjelaskan, pemilihan kawasan KBT sebagai lokasi kegiatan memiliki makna tersendiri.

Menurut dia, sungai selama ini kerap dipandang hanya sebagai aliran air atau batas wilayah. Padahal, kawasan di sekitar sungai juga dapat menjadi ruang yang memberi warna bagi aktivitas masyarakat.

“Saya memberikan apresiasi atas inisiasi kegiatan festival ini yang khusus mengambil tempat di KBT,” ujar Fauzi, Jumat (4/9).

Bagi Fauzi, festival tersebut menjadi kesempatan untuk mengajak masyarakat melihat kembali hubungan antara lingkungan tempat tinggal, sungai, dan kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui edukasi mengenai kebersihan dan kelestarian sungai.

Pesan itu kemudian diperkuat lewat berbagai desain rumah sederhana yang dipamerkan selama festival. Desain tersebut dibuat oleh tim arsitektur dengan mengedepankan konsep rumah sehat.

Rumah sehat tidak selalu harus identik dengan bangunan besar dan mahal. Penataan ruang, pencahayaan, sirkulasi udara, hingga pemanfaatan lingkungan sekitar menjadi bagian penting yang dapat dipertimbangkan dalam sebuah hunian.

Fauzi berharap desain-desain tersebut dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, terutama warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai.

“Salah satu yang menarik, desain bangunan rumah sederhana yang mengedepankan konsep rumah sehat, dan bisa jadi inspirasi bagi masyarakat,” katanya.

Warga melihat sungai dari sisi berbeda

Ketua IAI Jakarta, Teguh Aryanto, mengatakan festival dirancang untuk mengajak masyarakat memahami pentingnya sungai bagi kehidupan Jakarta. Karena itu, kegiatan yang disiapkan tidak hanya berisi diskusi arsitektur, tetapi juga aktivitas yang dekat dengan masyarakat.

“Ada banyak ragam kegiatan dalam festival yang digelar selama 3 hari. Masyarakat bebas mengikuti untuk meramaikan festival ini,” ungkap Teguh.

Salah satu kegiatan yang disiapkan adalah talkshow mengenai peranan sungai. Ada pula penyuluhan rumah sehat bagi warga sekitar.

Pesan tentang arsitektur dan lingkungan bahkan dibawa ke ruang kelas melalui program Architect Goes to School. Para arsitek mendatangi tiga sekolah, yakni SMAN 61, SMAN 71, dan SMAN 100.

Para pelajar tidak hanya diperkenalkan dengan profesi arsitek. Mereka juga diajak memahami peranan sungai serta mengenal konsep rumah sehat.

Dengan cara tersebut, isu sungai tidak berhenti pada percakapan orang dewasa. Anak-anak muda pun dilibatkan untuk memahami bahwa ruang kota yang mereka tempati memiliki hubungan erat dengan lingkungan.

Dari layang-layang hingga layar tancap

Festival ini juga tidak dibuat dengan suasana yang terlalu serius. Masyarakat dapat menikmati beragam kegiatan yang memadukan edukasi, olahraga, seni, dan hiburan.

Sebanyak 50 peserta mengikuti lomba layang-layang. Ada pula BKT Run dengan jarak sekitar lima kilometer yang diikuti 500 peserta.

Bagi mereka yang ingin menikmati suasana dengan lebih tenang, tersedia kegiatan belajar sketsa. Peserta dapat menggambar pemandangan di sekitar kawasan festival sekaligus mengamati lingkungan dari sudut pandang berbeda.

Ketika sore berganti malam, kawasan festival tetap hidup. Pengunjung dapat menyaksikan layar tancap dan pertunjukan lenong. Sementara itu, pameran desain penataan bantaran sungai dan rumah sehat menjadi ruang bagi pengunjung untuk melihat gagasan tentang bagaimana kawasan sungai dapat ditata lebih baik.

Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa menjaga sungai tidak harus selalu disampaikan melalui imbauan. Pesan lingkungan bisa hadir melalui olahraga, seni, pendidikan, arsitektur, bahkan kegiatan sederhana seperti menggambar dan bermain layang-layang.

Festival Arsitektur Bantar Sungai Jakarta akhirnya menjadi sebuah upaya untuk mempertemukan banyak hal dalam satu ruang: sungai, rumah, arsitektur, masyarakat, dan budaya.

Di tengah kota yang terus berkembang, sungai tidak semestinya hanya menjadi latar belakang kehidupan warga. Ia dapat menjadi ruang yang dirawat, dipelajari, sekaligus dimanfaatkan secara lebih baik.

Dari bantaran KBT di Malakasari, pesan itu coba disampaikan dengan cara yang sederhana: ketika sungai dijaga dan ruang di sekitarnya ditata dengan baik, kehidupan masyarakat pun dapat ikut tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *