KabarJakarta.com — Lampu panggung menyala di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Jumat malam, 18 September 2026. Tempat itu menjadi titik akhir dari perjalanan panjang 36 finalis yang sebelumnya disaring dari 6 (enam) wilayah administrasi Jakarta.
Di hadapan para juri, para peserta berupaya menunjukkan bahwa mereka yang terbaik dan berhak menyandang gelar sebagai Abang dan None Jakarta 2026. Namun pemenangnya milik mereka yang terbaik dari yang terbaik.
Nama Herve Pierre Sidarta dari Jakarta Selatan dan Citra dari Jakarta Timur akhirnya didaulat sebagai Abang dan None Jakarta 2026. Keduanya terpilih setelah melewati serangkaian seleksi, pembekalan, hingga menjawab pertanyaan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dan dewan juri.
Di balik selempang dan piala yang mereka terima, ada tugas yang jauh lebih panjang. Pierre dan Citra tidak hanya dituntut tampil sebagai wajah muda Jakarta, tetapi juga memperkenalkan karakter kota ini kepada masyarakat yang lebih luas.
Tantangan itu menjadi semakin penting ketika Jakarta sedang bergerak menuju babak baru sebagai kota global. Apalagi, pada 2027 Jakarta akan memasuki usia 500 tahun.
Bagi Rano, momentum tersebut membuat peran Abang None tidak bisa berhenti pada seremoni. Mereka harus menjadi bagian dari cerita besar tentang Jakarta—kota metropolitan yang terus berubah, tetapi tetap memiliki akar budaya yang kuat.
“Menjadi Abang dan None bukanlah semata-mata tentang selempang atau gelar. Di baliknya, ada nama Jakarta yang melekat, ada citra kota yang mestidijaga. Dan ada nilai-nilai budaya yang harus terus dirawat,” kata Rano dalam pembukaan malam final.
Dan benar, bagi Pierre dan Citra, kemenangan tersebut bukan sekadar soal selempang, mahkota, atau gelar sebagai pasangan Abang None terpilih. Ada pekerjaan yang lebih besar menunggu setelah panggung berakhir: membawa cerita tentang Jakarta kepada publik dan ikut menjadi wajah kota yang sedang bergerak menuju status sebagai kota global.

Bukan sekadar ajang penampilan
Sebanyak 36 finalis dari enam wilayah administrasi DKI Jakarta mengikuti perjalanan Abang None 2026. Mereka berasal dari lima kota administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Perjalanan tersebut tidak langsung berakhir di malam final. Para finalis lebih dulu mendapatkan pembekalan mengenai Jakarta, pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga peran yang harus dijalankan seorang Abang dan None.
Dari 36 finalis, proses penjurian kemudian mengerucut hingga delapan besar dan tiga besar. Nama-nama finalis yang bertahan diumumkan presenter Okky Lukman dan Irfan Hakim sebelum akhirnya Pierre dan Citra keluar sebagai pasangan terpilih.
Muhammad Hamiz Ghani dari Jakarta Barat dan Nadya Ramadhita dari Kepulauan Seribu menjadi Wakil I. Sementara Wakil II diraih Muhammad Zaeralsyah dari Kepulauan Seribu dan Thana Mutia dari Jakarta Timur.
Untuk Juara Harapan I, terpilih Reza Sya’bana dari Kepulauan Seribu dan Azzahra Nureyna Cintan dari Jakarta Utara. Juara Harapan II diraih Dhanis Adrianto dari Jakarta Selatan dan Nabilla Mahatma Zahra dari Jakarta Barat. Adapun Juara Harapan III diraih Kevin Johanes dari Jakarta Pusat dan Candrika Sirna dari Kepulauan Seribu.
Sementara pasangan Muhammad Figo Zulvan dari Jakarta Barat dan Azzahra Nureyna dari Jakarta Utara terpilih sebagai juara favorit.
Namun bagi Rano, kemenangan malam itu bukan hanya milik satu pasangan.
“Walau juaranya hanya satu, tapi finalis ini semuanya adalah pasukan kita menghadapi 5 abad Jakarta tahun depan,” ujar Rano.
Pernyataan tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam memandang Abang None. Mereka bukan hanya peserta sebuah kompetisi tahunan. Para finalis dipersiapkan untuk menjadi bagian dari berbagai kegiatan dan promosi Jakarta, khususnya menjelang peringatan lima abad kota tersebut.

Menjadi jembatan Jakarta dengan dunia
Jakarta yang sedang membangun citra sebagai kota global membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Identitas kota juga menjadi bagian penting dari bagaimana Jakarta dikenali oleh dunia.
Di titik inilah Abang None mendapatkan ruang dan peran.
Rano menyebut Abang dan None ibarat jembatan yang menghubungkan Jakarta dengan generasi muda dan dunia. Karena itu, cerita tentang Jakarta tidak cukup disampaikan melalui gedung pencakar langit, pusat bisnis, atau perkembangan transportasi.
Ada budaya Betawi yang hidup. Ada kuliner yang berkembang. Ada komunitas yang bekerja dari tingkat kampung. Ada pelaku ekonomi kreatif yang menciptakan karya. Ada pula keramahan masyarakat yang menjadi bagian dari pengalaman orang ketika datang ke Jakarta.
Semua itu dapat menjadi cerita yang dibawa oleh Abang None.
“Bekal tersebut yang siap kalian bawa untuk mempresentasikan Jakarta,” tutur Rano kepada para finalis.
Pesan tersebut juga relevan dengan perubahan cara sebuah kota membangun citra. Promosi Jakarta tidak lagi hanya bergantung pada acara resmi atau materi promosi pemerintah. Generasi muda dengan kemampuan berkomunikasi dan memanfaatkan ruang digital memiliki kesempatan untuk memperkenalkan Jakarta kepada audiens yang jauh lebih luas.
Rano pun mendorong penggunaan ruang digital secara kreatif, bijak, dan bertanggung jawab. Dengan cara itu, cerita tentang Jakarta dapat menjangkau masyarakat nasional sekaligus audiens internasional.

Dari budaya hingga ekonomi kreatif
Peran Abang None juga diarahkan untuk masuk lebih jauh ke sektor ekonomi kreatif. Rano menyinggung keberadaan Jakarta Film Commission (JF) dan peluang yang terbuka bagi anak muda Jakarta untuk mengambil bagian dalam perkembangan industri perfilman.
Menurut dia, perkembangan industri film dunia menunjukkan adanya kesempatan bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar. Ia mencontohkan Iko Uwais yang dipercaya Jackie Chan menjadi ketua juri sebagai salah satu indikasi terbukanya peluang tersebut.
Pesannya jelas: anak muda Jakarta tidak cukup hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi kreatif. Mereka perlu ikut menciptakan karya dan membangun ekosistemnya.
Dalam konteks itu, Abang None akan berfungsi sebagai penghubung antara pemerintah, komunitas kreatif, pelaku usaha, wisatawan, dan generasi muda.
Mereka bisa membawa promosi Jakarta dari panggung formal ke ruang yang lebih dekat dengan masyarakat: media sosial, komunitas, festival, kegiatan budaya, kuliner, pariwisata, hingga berbagai agenda ekonomi kreatif.

Tradisi berubah mengikuti Jakarta
Peran tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sama sekali baru. Pemilihan Abang None Jakarta memiliki sejarah panjang. Ajang ini pertama kali digelar pada 1968 dengan nama mencari None Jakarta (peserta wanita saja). Ketika itu, kategori Abang belum ada.
Ajang ini pertama kali digagas oleh Usmar Ismail pada 22 Juni 1968 di Miraca Sky Club, Sarinah, bertepatan dengan HUT Jakarta ke-441. Pemilihan pertama juga berlangsung pada tanggal dan hari yang sama dengan diikuti sebanyak 36 peserta.
Riziani Malik tercatat sebagai None Jakarta angkatan pertama. Ajang tersebut diikuti oleh sejumlah tokoh seperti Connie Sutedja dan Dewi Motik yang kemudian tercatat sebagai alumni angkatan awal.
Kategori Abang kemudian ditambahkan pada 1971. Sejak saat itu, ajang tersebut dikenal sebagai Abang None Jakarta. Kategori Abang hadir karena melihat kebutuhan figur pria sebagai wajah ibu kota. Kategori Abang Jakarta ditambahkan secara resmi, sehingga berubah nama menjadi Abang None Jakarta hingga saat ini.
Pada era 1980-an–1990-an terjadi perluasan peran. Ajang ini tidak hanya menjadi wadah unjuk bakat dan budaya Betawi, tetapi juga mulai melahirkan banyak figur publik dan artis ternama di Indonesia, seperti Ratih Sanggarwati (1983) hingga Maudy Koesnaedi (1993).
Lalu bertransformasi menjadi duta kreatif pada tahun 2000 hingga 2020-an. Fokus penilaian bergeser dari sekadar kontes penampilan fisik menjadi pemilihan duta pariwisata, kebudayaan, pemahaman ekonomi kreatif, hingga penggerak Usaha Kecil Menengah (UKM).
Di edisi Terbaru (2025–2026), perhelatan akbar terus berlanjut dengan fokus pembekalan mengenai pariwisata, kebudayaan, hingga perkembangan ekonomi kreatif. Pengetahuan tersebut menjadi modal bagi mereka ketika nantinya menjalankan tugas sebagai representasi generasi muda Jakarta.
Abang None diharapkan mampu mengenalkan berbagai potensi Jakarta kepada masyarakat, termasuk destinasi wisata, kesenian, kuliner, komunitas kreatif, serta berbagai kegiatan yang tumbuh di tengah masyarakat. Kehadiran mereka menjadi penting karena cara anak muda bercerita tentang Jakarta tentu berbeda dengan promosi melalui jalur formal.
Media sosial, komunitas, kegiatan kreatif, dan berbagai ruang digital dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan Jakarta kepada khalayak yang lebih luas. Karena itu, Pemilihan Abang None Jakarta 2026 bukan sekadar mencari sosok yang mampu membawa gelar.
Ajang ini juga menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk memahami kotanya, kemudian menceritakannya dengan cara yang dekat dengan zamannya. Menjelang perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027, para Abang dan None diharapkan dapat ikut mengambil peran dalam memperkenalkan wajah Jakarta yang modern dan terbuka, tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi identitasnya.






