Caruban Nagari, Umbul-Umbul Kemenangan yang Mengikat Sejarah Jakarta

Pengunjung mengamati umbul-umbul Caruban Nagari Keraton Cirebon dalam pameran "Menjaga Warisan untuk Masa Depan" di Museum Tekstil, Jakarta, Kamis (13/8/2026). Pameran masih berlangsung hingga 30 Agustus 2026. Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Sebuah kain putih dan biru terbentang di ruang pamer Museum Tekstil Jakarta. Bentuknya sederhana, tetapi simbol-simbol yang melekat di atas kain itu membawa cerita panjang tentang kekuasaan, spiritualitas, hingga kemenangan perang.

Kain tersebut adalah Umbul-umbul Caruban Nagari Keraton Cirebon. Bagi Jakarta, keberadaannya memiliki arti khusus karena kain ini berkaitan dengan peristiwa penting dalam sejarah Sunda Kelapa, nama lama Jakarta.

Pada 22 Juni 1527, armada gabungan Kerajaan Islam Cirebon, Demak, dan Banten di bawah komando Fatahillah berhasil mengusir armada Portugis dari Sunda Kelapa. Sebanyak 1.967 prajurit terlibat dalam pertempuran tersebut.

Di tengah peristiwa itulah Caruban Nagari dikisahkan berkibar sebagai simbol perjuangan dan kemenangan.

Caruban Nagari dibuat dari katun berwarna putih dan biru dengan salah satu ujung meruncing. Kain ini dihiasi kaligrafi berbentuk singa besar dan dua singa kecil, ayat-ayat Al Quran, serta gambar pedang Zulfikar.

Singa besar yang ditempatkan di bagian ujung kain melambangkan pemimpin besar. Posisi tersebut berada di depan pedang dan dikawal dua kaligrafi singa kecil.

Singa kecil di bagian atas menggambarkan kelompok idealis, berilmu, pemikir, dan konseptor yang memiliki semangat tinggi. Sementara singa di bagian bawah menjadi simbol kelompok pragmatis.

Ayat-ayat Al Quran yang terdapat pada kain, yakni Surah Al-Ikhlas, Al-An’am ayat 103, dan Ash-Shaff ayat 13, juga bukan sekadar hiasan. Ayat tersebut membawa pesan tentang pertolongan dan kemenangan yang dekat.

Makna simboliknya semakin kaya dengan ornamen geometris berbentuk bintang yang melambangkan cahaya dan petunjuk. Ada pula bunga delapan arah yang menyiratkan kehidupan dan kesucian.

Jejak panjang kain tersebut kini dapat disaksikan melalui pameran wastra “Menjaga Warisan untuk Masa Depan” di Museum Tekstil Jakarta. Pameran berlangsung hingga 30 Agustus 2026 dan menjadi bagian dari perayaan 50 tahun Museum Tekstil serta Himpunan Wastraprema.

Caruban Nagari bersanding dengan sekitar 49 koleksi wastra pilihan dan unggulan. Museum juga menampilkan 12 koleksi istimewa yang berkaitan dengan perkembangan ragam keindahan ulos karya Torang Sitorus.

Salah satu koleksi lainnya adalah kain panjang Gajah Birawa dari Surakarta, Jawa Tengah. Kain berukuran 250 x 106 sentimeter tersebut dibuat oleh R.A. Soemoharjomo, ibunda Tien Soeharto. Motifnya menampilkan gajah, kijang, dan burung yang seolah bergerak di antara lembah.

Ada pula kain panjang Bulu Hayam dari Garut, Jawa Barat, yang dibuat sekitar 1950-an. Motifnya terinspirasi dari bulu ayam dan disusun dalam pola geometris. Warna krem, cokelat, dan biru menjadi ciri kuat kain yang juga dikenal dengan nama Sapu Jagat tersebut.

Sementara itu, kain Tumurun Sri Narendra dari Surakarta merupakan karya Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro pada 1978. Kain ini dibuat sebagai pisungsun atau hadiah bagi Sri Susuhunan Pakubuwana XII dalam acara jumenengan ke-32.

Motifnya mengambil lambang Kerajaan Surakarta berupa matahari yang menyinari jagad. Pesannya jelas: seorang raja harus menjadi teladan bagi rakyatnya.

Kain lain yang mencuri perhatian adalah Sawunggaling. Karya Go Tik Swan pada 1950-an tersebut menampilkan ayam jago yang sedang bertarung. Motif itu merepresentasikan sikap heroik, patriotisme, nasionalisme, dan romantisme.

Kain tersebut dibuat atas perintah Presiden Soekarno yang ketika itu menginginkan batik dengan semangat patriotisme, nasionalisme, dan romantisme. Desainnya memadukan motif batik klasik dengan karakter batik pesisiran yang berkembang di wilayah pantai utara Jawa.

Namun, cerita Caruban Nagari tidak berhenti pada masa lalu. Replika kain bersejarah tersebut dibuat pada 1776 dengan teknik batik tulis, berukuran 322 x 172 sentimeter. Pada 1976, kain itu disumbangkan Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara VIII kepada Museum Tekstil Jakarta dan menjadi salah satu dari 500 koleksi perdana museum.

Karena usianya yang sudah tua, kain asli tidak dipamerkan secara permanen. Koleksi tersebut disimpan secara khusus agar tetap terjaga. Museum kemudian membuat duplikat pada 2011 berukuran 310 x 196 sentimeter agar masyarakat tetap dapat melihat bentuknya.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Sri Kusumawati, menjelaskan setiap wastra tidak hanya menyimpan keindahan, tetapi juga perjalanan panjang pelestarian budaya.

“Setiap wastra berisi perjalanan panjang pelestarian budaya yang dibangun melalui semangat gotong royong, kepedulian dan kecintaan terhadap wastra budaya bangsa,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi semakin penting karena pameran tidak sekadar mengajak pengunjung menikmati warna dan motif. Setiap kain membawa filosofi, identitas, serta potongan sejarah masyarakat yang melahirkannya.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary menegaskan pelestarian budaya membutuhkan waktu panjang dan tidak bisa dibebankan kepada satu generasi.

“Pelestarian budaya bukanlah pekerjaan yang bisa selesai dalam 1 generasi,” katanya.

Melalui pameran ini, masyarakat, khususnya generasi muda, diajak melihat wastra bukan sekadar kain. Di balik setiap motif terdapat gagasan, kepercayaan, perjuangan, dan perjalanan sejarah.

Caruban Nagari menjadi salah satu contoh paling kuat. Kain yang pernah dikaitkan dengan kemenangan di Sunda Kelapa itu kini tidak lagi berkibar di medan perang. Ia hadir di ruang museum, membawa pesan yang berbeda: bahwa warisan budaya hanya akan tetap hidup jika ada generasi yang mau mengenal, memahami, dan menjaganya.

Exit mobile version