KabarJakarta.com — Di tengah kehidupan yang hampir tak pernah lepas dari layar, ada perubahan kecil yang menarik perhatian. Generasi Z dan Alpha, dua kelompok yang sejak kecil akrab dengan internet, gawai, media sosial, hingga berbagai layanan digital, justru mulai mencari sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diberikan oleh layar: pengalaman secara langsung.
Ponsel yang selama ini menjadi bagian dari keseharian perlahan tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk mencari hiburan dan berinteraksi. Nongkrong bersama teman, berjalan-jalan, menikmati suasana sebuah kawasan, atau sekadar menghabiskan waktu di ruang publik mulai memiliki daya tarik tersendiri.
Pakar pemasaran sekaligus Managing Partner Inventure Indonesia Yuswohady melihat kecenderungan tersebut sebagai salah satu perubahan perilaku konsumen generasi muda.
“Sekarang ini, saya melihat ada tren ke offline, utamanya Gen Z dan Alpha. Mereka sudah mulai mengurangi screen time. Mereka mulai mencari pengalaman offline,” kata Yuswohady dikutip ANTARA pada Sabtu (5/9).
Ketika layar terasa penuh
Fenomena ini muncul setelah masyarakat mengalami percepatan digitalisasi yang sangat kuat, terutama selama pandemi. Ketika aktivitas di luar rumah dibatasi, berbagai kebutuhan berpindah ke dunia digital.
Belanja, bekerja, belajar, bertemu orang lain, hingga mencari hiburan dilakukan melalui perangkat yang sama. Kebiasaan tersebut kemudian bertahan ketika aktivitas masyarakat kembali normal.
Namun, semakin lama berada di ruang digital ternyata juga melahirkan kebutuhan baru. Ada keinginan untuk kembali merasakan pengalaman yang lebih nyata.
Bagi Gen Z dan Alpha, kondisi ini menjadi menarik. Mereka merupakan generasi yang tumbuh ketika teknologi digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, aktivitas offline bukan berarti kembali meninggalkan teknologi, melainkan mencari keseimbangan di antara keduanya.
Yuswohady menyebut kecenderungan tersebut sebagai fenomena “Offline Generation”.
“Jadi sekarang ini ada trend namanya Offline Generation. Gen Z dan Alpha itu mulai mengurangi screen time, kemudian mereka mencari pengalaman offline,” ujarnya.
Ruang publik punya cerita
Perubahan perilaku itu juga dapat dilihat dari semakin hidupnya sejumlah kawasan perkotaan yang menjadi tempat bertemu dan berkumpul.
Di Jakarta, misalnya, kawasan seperti Blok M, Harmoni, dan Dukuh Atas tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari jaringan transportasi. Kawasan tersebut juga berkembang menjadi tempat masyarakat menghabiskan waktu.
Orang datang bukan semata-mata untuk berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Mereka juga mencari tempat untuk bertemu, makan, berbincang, bekerja dari luar rumah, atau sekadar menikmati suasana kota.
“Sekarang ini, tempat-tempat seperti Blok M, Harmoni, Dukuh Atas, itu kan, mulai ramai jadi tempat orang nongkrong. Menjadi social hub,” papar Yuswohady.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa ruang fisik masih memiliki peran penting. Bahkan ketika kehidupan semakin terkoneksi secara digital, manusia tetap membutuhkan tempat untuk bertemu secara langsung.
Bukan meninggalkan dunia digital
Meski demikian, tren offline tidak berarti Gen Z dan Alpha akan meninggalkan internet. Justru, perilaku konsumen masa kini semakin fleksibel.
Seseorang dapat menemukan sebuah tempat melalui media sosial, melihat ulasannya di internet, memesan layanan secara digital, kemudian datang dan menikmati pengalaman secara langsung. Dunia online dan offline akhirnya tidak berdiri sendiri.
Perubahan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha. Kehadiran toko fisik, pusat kuliner, ruang kreatif, pusat hiburan, hingga kawasan publik perlu menawarkan pengalaman yang tidak mudah digantikan oleh layar.
Bagi generasi muda, datang ke sebuah tempat bukan hanya soal membeli sesuatu. Ada pengalaman, interaksi, suasana, dan cerita yang ingin dibawa pulang.
Pada akhirnya, kemunculan “Offline Generation” menunjukkan satu hal sederhana: semakin digital kehidupan manusia, kebutuhan untuk menjadi manusia secara langsung tetap tidak hilang.
Layar memang mampu menghubungkan banyak orang. Namun, duduk bersama, berbicara tanpa perantara, berjalan di tengah keramaian, dan merasakan suasana sebuah tempat masih menawarkan pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh dunia virtual.
