KabarJakarta.com — Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau meluas ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan citra satelit Himawari-9 pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik dengan arah pergerakan dan ketinggian yang berbeda.
Hasil pemantauan menunjukkan abu vulkanik tidak hanya berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, tetapi juga terdeteksi hingga wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Jawa Barat, DKI Jakarta, serta perairan di sekitarnya.
Informasi tersebut diperoleh berdasarkan data PVMBG dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin yang kemudian dianalisis melalui citra RGB Himawari-9.
Klaster pertama menunjukkan sebaran abu vulkanik dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki. Abu terpantau bergerak ke arah timur laut hingga selatan.
Jalur sebaran ini mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, termasuk kawasan perairan di sekitar wilayah tersebut.
Kondisi tersebut membuat perkembangan arah angin dan pergerakan abu vulkanik perlu terus dipantau. Sebaran abu di atmosfer dapat berubah seiring perubahan kondisi angin pada lapisan udara yang berbeda.
Sebaran hingga 50.000 kaki
Sementara itu, klaster kedua memiliki cakupan ketinggian yang lebih besar. Abu vulkanik teridentifikasi mulai dari permukaan hingga mencapai 50.000 kaki.
Untuk klaster ini, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang masuk dalam cakupan analisis antara lain sebagian Banten, Lampung, dan Bengkulu.
Sebaran juga terpantau meliputi Selat Sunda bagian selatan serta wilayah Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Perbedaan arah sebaran pada kedua klaster menunjukkan bahwa abu vulkanik dapat bergerak mengikuti pola angin pada ketinggian atmosfer yang berbeda. Karena itu, wilayah yang terdampak juga dapat berubah dari waktu ke waktu.
Citra satelit pantau abu vulkanik
BMKG menggunakan citra satelit sebagai salah satu sarana untuk memantau keberadaan dan pergerakan abu vulkanik. Dalam produk citra sebaran abu vulkanik BMKG, hasil analisis abu ditampilkan dengan warna merah dan ditandai menggunakan poligon berwarna kuning.
Produk tersebut dibuat berdasarkan informasi aktivitas gunung berapi yang diterima dari VAAC Darwin. Data kemudian menjadi bagian dari pemantauan kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik.
Informasi citra sebaran abu vulkanik dapat membantu berbagai pihak memahami wilayah yang berpotensi dilewati oleh material vulkanik di atmosfer. Data ini juga memiliki arti penting bagi sektor penerbangan karena keberadaan abu vulkanik pada ketinggian tertentu perlu diperhitungkan dalam pengoperasian pesawat.
Masyarakat ikuti informasi resmi
Dengan adanya sebaran abu vulkanik yang terdeteksi hingga wilayah dengan ketinggian 50.000 kaki, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi atmosfer di sekitarnya masih diperlukan.
Masyarakat, khususnya pengguna transportasi udara, diharapkan mengikuti perkembangan informasi dari lembaga resmi seperti BMKG dan PVMBG. Informasi terbaru penting diperhatikan karena arah dan luas sebaran abu vulkanik dapat mengalami perubahan sesuai kondisi atmosfer.
BMKG juga menyediakan produk citra sebaran abu vulkanik sebagai bagian dari informasi meteorologi dan pemantauan atmosfer. Produk tersebut dapat digunakan untuk melihat gambaran sebaran abu berdasarkan hasil analisis citra satelit dan informasi aktivitas vulkanik yang tersedia.
Pemantauan secara berkala menjadi penting untuk mendukung kewaspadaan, terutama bagi wilayah dan aktivitas yang berada di jalur sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
