Dari Jahe hingga Brownies, Cara 90 Jakpreneur Jakut Menaikkan Nilai Hasil Pertanian

Sudin KPKP Jakarta Utara memberikan pelatihan diversifikasi olahan hasil pertanian kepada 90 pelaku usaha binaan (Jakpreneur) di RPTRA Sungai Bambu, Jalan Jati Raya, RT 10/06, Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com —  Aroma kue yang baru keluar dari kukusan memenuhi ruang pelatihan di RPTRA Sungai Bambu, Jalan Jati Raya, Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di tempat itu, puluhan pelaku usaha binaan Jakpreneur tidak sekadar belajar membuat makanan. Mereka sedang belajar bagaimana bahan pangan yang sederhana dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Sebanyak 90 pelaku usaha binaan mengikuti pelatihan diversifikasi olahan hasil pertanian yang digelar Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara, Kamis (1/10).

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pelaku usaha kecil agar tidak berhenti pada penjualan bahan atau makanan dalam bentuk yang sama. Komoditas pertanian seperti buah, rempah, dan bahan pangan lainnya dapat diolah menjadi berbagai produk baru sehingga memiliki nilai tambah sekaligus membuka lebih banyak pilihan pasar.

Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Utara Novy Christine Palit menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan program rutin tahunan. Tujuannya bukan hanya meningkatkan kemampuan peserta memasak atau mengolah bahan pangan, tetapi juga memperkenalkan aspek gizi dari makanan yang dibuat.

“Pelatihan ini untuk meningkatkan keterampilan peserta dalam mengolah hasil pertanian, sekaligus memahami kandungan gizinya. Hasilnya, menjadi pilihan makanan yang digemari keluarga, maupun dikembangkan sebagai produk usaha,” ujar Novy.

Bahan sederhana, produk lebih beragam

Diversifikasi dalam konteks ini berarti mengembangkan satu atau berbagai komoditas pertanian menjadi produk olahan yang lebih beragam. Bahan yang sebelumnya hanya dikonsumsi langsung dapat diubah menjadi minuman, makanan ringan, kue, atau produk siap jual lainnya.

Pelatihan di Jakarta Utara dilakukan secara bertahap dengan materi yang disesuaikan dengan bidang usaha peserta. Pada tahap sebelumnya, misalnya, peserta belajar mengolah komoditas seperti jahe, nanas, dan jeruk menjadi aneka minuman.

Pada gelombang kedua, fokus pelatihan bergeser ke produk kue. Peserta dibekali keterampilan membuat Banana Chocolate Cake, Muffin Chocolate Cake, dan Brownies Kukus.

Kepala Seksi Ketahanan Pangan dan Pertanian Suku Dinas KPKP Jakarta Utara Solihin mengungkapkan, pendekatan tersebut sengaja dibuat agar keterampilan yang diperoleh peserta dapat langsung berkaitan dengan usaha mereka.

“Pada pelatihan kedua ini, para peserta dibekali keterampilan membuat Banana Chocolate Cake, Muffin Chocolate Cake, dan Brownies Kukus,” terangnya.

Bagi pelaku usaha kecil, kemampuan membuat lebih banyak produk menjadi penting seiring selera konsumen berubah. Pisang, misalnya, tidak hanya dijual sebagai buah atau gorengan, tetapi bisa menjadi bahan kue. Jahe tidak hanya digunakan sebagai bumbu, tetapi dapat dikembangkan menjadi minuman siap konsumsi.

Peluangnya pun tidak berhenti pada produk. Diversifikasi memungkinkan pelaku usaha membuat pilihan ukuran, kemasan, rasa, dan harga yang berbeda sesuai dengan target konsumennya.

Peluang dari pasar Jakarta Utara

Jakarta Utara memiliki karakter pasar yang beragam. Kawasan permukiman, pusat perdagangan, perkantoran, sekolah, hingga kawasan pesisir menciptakan kebutuhan terhadap berbagai jenis makanan dan minuman.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi usaha rumahan untuk mengembangkan produk pangan yang praktis dan mudah dipasarkan. Produk kue, minuman berbahan buah atau rempah, makanan beku, hingga makanan siap santap dapat menyasar konsumen yang berbeda.

Namun, peluang pasar saja tidak cukup. Pelaku usaha membutuhkan konsistensi rasa, kualitas produk, kemampuan produksi, serta peralatan yang memadai.

Karena itu, pelatihan kali ini tidak berdiri sendiri. Suku Dinas KPKP Jakarta Utara juga memberikan bantuan peralatan kepada peserta sesuai dengan bidang usaha masing-masing.

Sebanyak 30 unit juicer telah diserahkan sebelumnya dalam rangkaian KPKP September Festival Sehat. Sebanyak 30 unit mixer diberikan kepada pelaku usaha kue, roti, dan pastry. Sementara 30 unit cool box dijadwalkan diberikan kepada pelaku usaha minuman dan makanan beku.

Peralatan tersebut dapat menjadi modal penting untuk meningkatkan kapasitas produksi. Mixer, misalnya, memungkinkan proses pengolahan adonan dilakukan lebih cepat dan konsisten. Juicer membantu pelaku usaha minuman mengolah bahan secara lebih efisien, sedangkan cool box dapat mendukung penyimpanan dan distribusi produk yang membutuhkan kondisi suhu tertentu.

Tetapi, bantuan peralatan juga membawa tanggung jawab. Solihin menegaskan bahwa seluruh bantuan akan dipantau pemanfaatannya.

“Peralatan yang kami berikan harus benar-benar dimanfaatkan. Kami akan monitoring dan evaluasi secara berkala. Jika tidak digunakan, bantuan akan ditarik untuk dialihkan kepada pelaku usaha lain yang memang lebih membutuhkan,” ujarnya.

Bagi Sri Suwartini (50), pelaku Jakpreneur dari Pademangan Barat, kesempatan mengikuti pelatihan menjadi pengalaman penting. Ia baru bergabung sebagai Jakpreneur binaan tahun ini dan selama ini menjalankan usaha makanan rumahan seperti bakso, mi, sosis bakar, dan jajanan lainnya.

“Senang bisa langsung mendapatkan pembinaan dan berkesempatan mengikuti pelatihan. Ilmu yang diberikan bisa menjadi nilai tambah untuk mengembangkan usaha saya,” kata Sri.

Pada akhirnya, keberhasilan program bukan hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir atau peralatan yang dibagikan. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut berubah menjadi produk yang konsisten, memiliki pasar, dan menghasilkan pendapatan.

Di tangan 90 pelaku usaha itu, bahan pertanian tidak lagi sekadar komoditas. Jahe, jeruk, nanas, pisang, dan bahan pangan lainnya bisa menjadi titik awal untuk menciptakan produk baru.

Di tengah pasar Jakarta Utara yang terus bergerak, kemampuan mengolah bahan menjadi lebih beragam dapat menjadi salah satu cara bagi usaha kecil untuk bertahan, berkembang, dan menemukan konsumen baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *