KabarJakarta.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik dilaporkan telah tersebar ke sejumlah wilayah di Jakarta, Banten, dan Lampung.
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan operasi tersebut akan dilaksanakan setelah kondisi cuaca dinilai cukup aman dan situasi penerbangan lebih memungkinkan. Hal ini penting karena keberadaan abu vulkanik juga telah berdampak terhadap aktivitas sejumlah bandara.
“Kondisi lebih kondusif. Kami akan melaksanakan OMC. Pesawat sudah siap di Pondok Cabe,” kata Suharyanto di Jakarta, Senin (7/9).
Menurut dia, OMC menjadi salah satu langkah yang disiapkan pemerintah untuk membantu menurunkan material abu vulkanik yang masih berada di atmosfer. Operasi dilakukan dengan memanfaatkan proses pembentukan atau penyemaian awan sehingga diharapkan dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Hujan tersebut diharapkan membantu meluruhkan material abu vulkanik dari atmosfer sehingga konsentrasinya di udara dapat berkurang. Meski demikian, pelaksanaan OMC tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan faktor keselamatan.
Selain OMC, BNPB juga menyiapkan metode water mist sebagai bagian dari upaya penanganan abu vulkanik. Teknik tersebut digunakan untuk membantu meningkatkan peluang terbentuknya hujan di wilayah yang terdampak.
Suharyanto menegaskan faktor keamanan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu pelaksanaan OMC. Pasalnya, abu vulkanik masih memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan.
Sejumlah bandara masih ditutup atau mengalami gangguan operasional sebagai langkah antisipasi terhadap risiko yang dapat ditimbulkan material vulkanik. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus memperhitungkan aspek keselamatan sebelum pesawat untuk pelaksanaan OMC diterbangkan.
Di tengah kondisi tersebut, BNPB terus memantau perkembangan situasi di wilayah yang terdampak. Koordinasi dilakukan secara intensif bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di berbagai daerah melalui pertemuan daring.
Koordinasi itu dilakukan untuk mengetahui kondisi masyarakat secara langsung, termasuk kebutuhan penanganan yang diperlukan di lapangan.
“Kami telah melakukan video conference secara intensif. Itu untuk mengetahui perkembangan kondisi masyarakat terdampak erupsi,” ujar Suharyanto.
BNPB juga mengirimkan personel ke sejumlah lokasi terdampak. Kehadiran personel tersebut bertujuan memantau kondisi masyarakat sekaligus memastikan pemerintah daerah siap menghadapi kemungkinan dampak lanjutan dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Suharyanto meminta pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada penanganan abu vulkanik saat ini, tetapi juga memastikan seluruh perangkat penanggulangan bencana dalam kondisi siap digunakan.
Kesiapan itu mencakup sistem peringatan dini, termasuk sirine, tempat evakuasi, serta rencana kontingensi apabila kondisi berkembang menjadi lebih serius. Pemerintah daerah juga diminta memastikan ketersediaan pangan dan kebutuhan dasar yang dikelola pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota.
“Apabila dibutuhkan, bantuan dari pemerintah pusat akan segera kami dorong,” katanya.
Hingga Senin (7/9), belum ada pemerintah daerah yang terdampak abu vulkanik menetapkan status kedaruratan bencana. Meski demikian, BNPB memastikan pemantauan dan koordinasi tetap dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi.
BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait akan terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap potensi dampak terhadap masyarakat dapat ditangani sedini mungkin, sekaligus menjaga keselamatan warga dan aktivitas transportasi, terutama penerbangan.






