Dari Air Laut ke Keran Rumah, PAM Jaya Kejar 370 Rumah di Pulau Untung Jawa

Ilustrasi - Fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) milik PAM Jaya di Pulau Kelapa, Jakarta, Rabu (10/6/2026). Foto: Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu

KabarJakarta.com – Bagi warga Pulau Untung Jawa, Kabupaten Kepulauan Seribu, air bersih bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Air dibutuhkan untuk memasak, mandi, mencuci, hingga berbagai aktivitas rumah tangga. Karena itu, keberadaan layanan air perpipaan menjadi penting, terutama setelah penggunaan air tanah mulai dibatasi.

Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya kini mendorong seluruh warga Pulau Untung Jawa untuk beralih dari air tanah ke air perpipaan. Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi sekaligus perluasan sambungan pelanggan.

Direktur Operasional PAM Jaya Syahrul Hasan menjelaskan pihaknya ingin memastikan masyarakat mendapatkan akses air dengan kualitas yang lebih baik melalui layanan perpipaan.

“Kami telah melakukan sosialisasi agar masyarakat Pulau Untung Jawa beralih menggunakan air berkualitas,” kata Syahrul di Jakarta, Kamis (20/8).

Saat ini, sebanyak 170 rumah di Pulau Untung Jawa tercatat telah menjadi pelanggan PAM Jaya. Warga mendapatkan pasokan air bersih dari fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yakni sistem pengolahan air laut menjadi air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Namun, jumlah rumah yang belum tersambung masih cukup besar. PAM Jaya mencatat terdapat sekitar 370 rumah yang belum menggunakan layanan air perpipaan. Rumah-rumah tersebut menjadi sasaran perluasan layanan berikutnya.

“Kami catat ada 370 rumah yang belum tersambung, dan ini yang kami kejar. Kami hadir untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat,” ujar Syahrul.

Dari sisi kapasitas, pasokan air bersih di Pulau Untung Jawa dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan warga. Fasilitas SWRO yang tersedia memiliki kapasitas produksi sekitar 17,5 liter per detik.

“Sistem air bersih dengan fasilitas SWRO memiliki kapasitas sebesar 17,5 liter per detik, bisa memenuhi kebutuhan warga setempat,” katanya.

Langkah memperluas sambungan perpipaan juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu. Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan membeberkan masyarakat sebenarnya menunggu akses terhadap air bersih yang berkualitas dan mudah diperoleh.

“Karena menggunakan air tanah sudah dilarang, maka semua kebutuhan air bersih dialihkan ke perpipaan,” kata Fadjar.

Pemkab Kepulauan Seribu bersama PAM Jaya menargetkan cakupan layanan air minum perpipaan di wilayah Kepulauan Seribu dapat mencapai 100 persen. Target tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar warga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini juga tengah melakukan kajian terhadap aturan mengenai larangan penggunaan air tanah. Kebijakan tersebut diharapkan dapat berjalan seiring dengan tersedianya alternatif sumber air yang memadai bagi masyarakat.

Fadjar mengajak warga mulai meninggalkan penggunaan air tanah dan memanfaatkan layanan perpipaan yang tersedia. “Saya imbau warga untuk mulai beralih sepenuhnya ke air perpipaan, demi menjaga kelestarian lingkungan tempat tinggal kita,” ujarnya.

Bagi warga, beroperasinya kembali fasilitas SWRO menjadi kabar baik. Asroni (52), warga Pulau Untung Jawa, mengungkapkan pasokan air bersih sangat membantu aktivitas sehari-hari setelah sebelumnya warga mengalami keterbatasan air.

“Sekarang air sudah kembali aktif. Kami senang karena tidak lagi kekurangan air bersih, dan kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi dengan lebih baik,” kata Asroni.

Dengan masih adanya 370 rumah yang belum tersambung, pekerjaan PAM Jaya di Pulau Untung Jawa belum selesai. Perluasan jaringan menjadi langkah penting agar seluruh warga dapat menikmati akses air perpipaan sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan akibat penggunaan air tanah.

Exit mobile version