KabarJakarta.com — Di Jakarta, akhir September 2026, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah. Masjid Istiqlal menjadi titik temu para imam besar dan pemimpin agama dari berbagai penjuru dunia untuk membicarakan persoalan yang jauh melampaui batas-batas keagamaan: perdamaian, kerukunan, lingkungan, pendidikan hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Momentum itu berlangsung dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Forum yang digelar 25–28 September tersebut mempertemukan delegasi dari berbagai negara dengan tema besar “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace”.
Pada Minggu (27/9), Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, terpilih memimpin jaringan imam besar dunia. Kementerian Agama menyebut forum pada hari itu dihadiri 70 delegasi dari 45 negara.
Bagi Indonesia, peristiwa ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan sebuah forum keagamaan. Ia membuka ruang baru bagi diplomasi agama Indonesia di tingkat internasional.
Ketua Grand Imam Sedunia
Istilah “Ketua Grand Imam Sedunia” perlu ditempatkan dalam konteks IGIC. Posisi tersebut bukan berarti Nasaruddin menjadi pemimpin tertinggi seluruh umat Islam dunia, karena tidak ada satu jabatan universal yang memiliki kewenangan atas seluruh imam, ulama, atau lembaga Islam di berbagai negara.
Dalam perkembangan IGIC 2026, forum ini mendorong pembentukan The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) dan Nasaruddin dipercaya menjadi presiden pertamanya. Karena itu, perannya lebih tepat dipahami sebagai pemimpin jaringan atau wadah kerja sama para imam masjid secara internasional.
Artinya, tanggung jawab utama bukan mengeluarkan keputusan keagamaan yang mengikat seluruh dunia, melainkan mempertemukan pengalaman, gagasan dan kerja sama para pemimpin masjid untuk merespons persoalan bersama.
Gagasan tersebut terlihat dari tujuan IGIC. Penyelenggara menempatkan imam bukan hanya sebagai pemimpin ritual, tetapi juga sebagai pemimpin moral, pendidik masyarakat, penjaga harmoni sosial dan pembangun perdamaian.
Indonesia tawarkan pengalaman keberagaman
Di sinilah posisi Indonesia menjadi penting. Sebagai negara dengan masyarakat yang beragam, pengalaman Indonesia dalam membangun dialog antaragama menjadi bagian dari narasi yang dibawa ke forum internasional.
Nasaruddin sendiri berada pada posisi yang unik karena menjalankan dua peran: sebagai Menteri Agama dan Imam Besar Masjid Istiqlal.
Istiqlal selama ini juga memiliki simbolisme kuat dalam hubungan antaragama. Masjid tersebut berdiri berdekatan dengan Gereja Katedral Jakarta dan kerap menjadi ruang perjumpaan lintas iman.
Dalam IGIC, pengalaman semacam itu diterjemahkan menjadi gagasan yang lebih luas: masjid tidak berhenti sebagai pusat kegiatan keagamaan, tetapi dapat menjadi ruang membangun kohesi sosial dan perdamaian.
Forum tersebut membahas penguatan kerukunan umat beragama, pendidikan, lingkungan melalui perspektif ekoteologi, serta kontribusi agama dalam membangun pusat perdamaian dunia. Tantangan baru seperti perkembangan AI juga masuk dalam agenda pembahasan.
Dialog agama menuju perdamaian dunia
Pertanyaan terbesarnya kemudian adalah: sejauh mana konferensi para imam dapat berdampak terhadap perdamaian dunia?
Jawabannya tidak terletak pada satu konferensi atau satu jabatan. Pengaruhnya justru dapat muncul dari jejaring yang dibangun setelah konferensi berakhir.
Imam memiliki hubungan langsung dengan komunitas. Mereka menyampaikan pesan keagamaan, mendidik jamaah, membentuk cara pandang masyarakat dan dalam banyak kasus menjadi rujukan moral ketika terjadi persoalan sosial.
Karena itu, jaringan lintas negara memungkinkan para imam bertukar pengalaman mengenai cara menghadapi intoleransi, ekstremisme, disinformasi, konflik sosial maupun persoalan kemanusiaan. Penyelenggara IGIC sendiri memasukkan penguatan jejaring internasional, respons bersama terhadap isu perdamaian dan toleransi, serta pencegahan ekstremisme sebagai tujuan forum.
IGIC 2026 juga menghasilkan Jakarta Understanding, yang menghubungkan gagasan harmoni masjid, diplomasi agama dan perdamaian global.
Dengan demikian, kepemimpinan Nasaruddin Umar memberi Indonesia sebuah panggung baru. Bukan untuk menjadi pusat otoritas agama dunia, melainkan untuk menjadi salah satu penghubung dialog di antara para pemimpin masjid dari berbagai negara.
Pada akhirnya, kekuatan IGIC tidak akan diukur dari megahnya konferensi di Jakarta. Ukurannya justru ada pada apa yang terjadi setelah para delegasi pulang: apakah dialog berubah menjadi kerja sama, apakah pesan perdamaian sampai ke komunitas, dan apakah masjid mampu menjadi ruang yang mempertemukan manusia ketika dunia semakin mudah terbelah.
Di titik itulah diplomasi agama Indonesia menemukan maknanya—membawa pengalaman hidup dalam keberagaman dari Jakarta ke percakapan dunia.
