KabarJakarta.com — Jakarta mencatat kemajuan cukup besar dalam pemeringkatan kota dunia. Dalam Global Cities Index 2026 yang dirilis Oxford Economics, Jakarta berada di peringkat 140 dari 1.000 kota dunia. Posisi itu meningkat tajam dibandingkan peringkat 287 pada 2024.
Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa Jakarta mulai bergerak ke arah yang lebih kuat sebagai kota global. Namun, peringkat yang membaik tidak serta-merta menunjukkan seluruh persoalan perkotaan telah terselesaikan.
Justru, capaian itu menjadi tantangan baru bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memastikan kemajuan Jakarta tidak hanya terlihat dalam angka, tetapi juga dirasakan masyarakat.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino menilai kenaikan posisi Jakarta patut diapresiasi. Apalagi, Jakarta menjadi kota dengan peringkat tertinggi di Indonesia, mengungguli Surabaya, Medan, dan Bandung.
“Sejujurnya, ini pencapaian yang patut kita apresiasi. Jakarta naik ke peringkat ke 140 dunia, menunjukkan bahwa kita sedang bergerak ke arah yang benar sebagai kota global,” ujar Wibi, Senin (5/10).
Namun, menurut Wibi, peringkat tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi Pemprov DKI untuk berpuas diri. Sebuah kota global bukan hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau konektivitasnya, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah menyediakan kehidupan yang layak bagi penduduknya.
Karena itu, persoalan transportasi, kemacetan, lingkungan, pelayanan publik, hingga tata kelola pemerintahan masih menjadi pekerjaan rumah. Kemajuan Jakarta harus diukur dari dua sisi sekaligus: seberapa kompetitif kota tersebut di tingkat internasional dan seberapa besar manfaat perkembangan itu diterima warganya.
“Ranking boleh naik, tapi yang terpenting, kualitas hidup warga juga harus naik. Transportasi publik, pelayanan publik, kemacetan, lingkungan, hingga tata kelola masih harus terus dibenahi,” kata Wibi.
Modal Jakarta untuk naik kelas
Peningkatan peringkat Jakarta tidak terjadi tanpa alasan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menyebut perkembangan sistem dan konektivitas transportasi publik menjadi salah satu penopang. Jangkauan transportasi publik kini telah mencapai lebih dari 93 persen wilayah Jakarta.
Konektivitas tersebut penting bagi kota yang memiliki aktivitas ekonomi sangat padat. Transportasi publik yang semakin terintegrasi bukan hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga menentukan efisiensi ekonomi, akses masyarakat terhadap pekerjaan, serta kemampuan kota mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Jakarta juga memiliki modal manusia yang relatif kuat. Dalam pemeringkatan tersebut, Jakarta menempati peringkat 23 untuk aspek modal manusia. Sementara pada aspek ekonomi, Jakarta berada di peringkat 59.
Dua capaian itu menunjukkan Jakarta memiliki fondasi untuk berkembang sebagai pusat ekonomi dan aktivitas manusia di kawasan. Namun, kekuatan tersebut belum cukup untuk membuat Jakarta sejajar dengan kota-kota global utama di Asia Tenggara.
Masih terdapat pekerjaan besar pada aspek tata kelola pemerintahan, lingkungan, dan kualitas hidup. Di sinilah tantangan Jakarta menjadi lebih kompleks.
Jangan terjebak angka peringkat
Kenaikan dari posisi 287 menjadi 140 dalam dua tahun memang signifikan. Tetapi, ukuran keberhasilan Jakarta tidak seharusnya berhenti pada posisi dalam indeks.
Kota global pada akhirnya adalah ruang hidup bagi jutaan orang. Ketika aktivitas ekonomi meningkat, tetapi biaya hidup semakin berat, kemacetan tidak berkurang, kualitas udara memburuk, ruang publik terbatas, atau pelayanan dasar belum merata, maka predikat kota global kehilangan makna bagi masyarakat.
Karena itu, peringatan Wibi agar Pemprov DKI tidak cepat puas menjadi penting. Peringkat 140 seharusnya diperlakukan sebagai indikator kemajuan sekaligus alat untuk mengidentifikasi pekerjaan yang masih tertinggal.
DPRD DKI pun berencana menjadikan capaian tersebut sebagai momentum memperkuat fungsi pengawasan terhadap kinerja Pemprov DKI. Dengan demikian, ambisi menjadi kota global harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang konkret dan dapat diukur.
Menuju 50 besar, warga harus menjadi ukuran
Wibi menargetkan Jakarta masuk 50 besar kota global pada 2029. Target tersebut ambisius, tetapi ukuran keberhasilannya tidak boleh hanya berupa angka peringkat.
“Target kita jelas, Jakarta harus terus naik kelas. Dan terpenting, manfaatnya benar-benar bisa dirasakan warga. Jakarta masuk di 50 besar top dunia,” terangnya.
Target 50 besar akan lebih bermakna apabila peningkatan daya saing Jakarta berjalan beriringan dengan kesejahteraan warga. Infrastruktur yang lebih baik harus membuat perjalanan warga lebih cepat dan murah.
Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan pekerjaan yang layak. Perbaikan lingkungan harus menghasilkan udara dan ruang hidup yang lebih sehat. Sementara pelayanan publik yang baik harus membuat warga lebih mudah memperoleh hak-haknya.
Dengan demikian, kenaikan Jakarta ke peringkat 140 bukanlah garis akhir. Justru, posisi tersebut menjadi titik untuk membuktikan apakah Jakarta benar-benar sedang berubah menjadi kota global atau sekadar semakin tinggi dalam tabel pemeringkatan.
Jakarta boleh mengejar posisi 50 besar dunia pada 2029. Tetapi ukuran paling penting tetap sederhana: ketika Jakarta naik kelas, apakah kehidupan warganya ikut naik kelas?
