Jakarta Pusat Skrining TB untuk 57.800 Warga di 578 Titik hingga Oktober

Petugas kesehatan mengambil sampel darah warga saat cek kesehatan gratis dan skrining TB (Tuberkulosis) di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (24/4/2026). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat memperkuat upaya memutus rantai penularan tuberkulosis (TB) dengan menggelar pelacakan penyakit secara terintegrasi di seluruh wilayah. Program ini akan berlangsung mulai Agustus hingga Oktober 2026 dan menyasar puluhan ribu warga melalui pemeriksaan kesehatan langsung di lingkungan tempat tinggal.

Pelacakan TB dilakukan oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat di 578 titik yang tersebar di 44 kelurahan. Dari program tersebut, pemerintah menargetkan sebanyak 57.800 warga mengikuti pemeriksaan, atau sekitar 100 orang di setiap titik pelaksanaan.

Wali Kota Jakarta Pusat Arifin meminta seluruh jajaran kecamatan dan kelurahan ikut terlibat aktif agar target pemeriksaan dapat tercapai. Ia menginstruksikan para lurah untuk menggerakkan kader Dasawisma, pengurus RT/RW, juru pemantau jentik (jumantik), hingga berbagai unsur masyarakat lainnya dalam mendukung pelaksanaan pelacakan TB di lapangan.

Menurut Arifin, peran masyarakat sangat penting karena petugas kesehatan membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar untuk menjangkau warga yang berisiko maupun yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Saya minta lurah bersama kader agar mendampingi tim Sudin Kesehatan saat melakukan pelacakan TB terintegrasi di lapangan,” ujar Arifin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Pelacakan tersebut menjadi bagian dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar pemerintah. Selain melakukan pemeriksaan, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya TB, cara penularannya, serta pentingnya menjalani pengobatan hingga tuntas apabila dinyatakan positif.

Arifin menjelaskan, keterlibatan aparat wilayah dan kader kesehatan di tingkat masyarakat diharapkan mampu memperluas edukasi mengenai pencegahan TB. Dengan demikian, warga yang memiliki gejala atau pernah melakukan kontak dengan pasien TB dapat segera diperiksa tanpa harus menunggu kondisi kesehatannya memburuk.

Ia juga menilai pendampingan kader di lapangan akan mempercepat proses penanganan apabila ditemukan kasus baru. Tim kesehatan dapat langsung melakukan pemeriksaan lanjutan, memberikan pendampingan, hingga memastikan pasien memperoleh pengobatan sesuai prosedur.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat Ilmi Tri Indiarto mengajak masyarakat untuk tidak takut mengikuti pemeriksaan. Menurutnya, TB bukan penyakit yang harus ditakuti karena dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Ilmi menjelaskan petugas juga akan melakukan investigasi terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TB. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian penyakit karena memungkinkan kasus baru ditemukan lebih cepat sebelum penularan meluas di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Dengan pemeriksaan terhadap kontak erat, petugas kesehatan dapat segera memberikan pengobatan kepada pasien yang terinfeksi sehingga risiko penyebaran penyakit dapat ditekan.

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan bahwa sejak Januari hingga 31 Juli 2026 terdapat 3.174 kasus TB di wilayah Jakarta Pusat. Kasus-kasus tersebut tersebar di seluruh 44 kelurahan yang ada di wilayah tersebut.

Meski jumlah kasus masih cukup tinggi, seluruh pasien yang terdata telah menjalani pengobatan sesuai prosedur yang berlaku. Pemerintah berharap pelacakan terintegrasi yang dilakukan selama 3 (tiga) bulan ke depan mampu meningkatkan penemuan kasus secara dini, mempercepat pengobatan pasien, sekaligus menekan angka penularan TB di Jakarta Pusat melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah wilayah, dan masyarakat.

Exit mobile version