Pramono Dorong Mikrotrans Jangkau Kampung dan Permukiman Jakarta

Mikrotrans JakLingko merupakan layanan angkutan umum yang menjadi bagian dari sistem transportasi terintegrasi di Jakarta. Layanan ini berfungsi sebagai angkutan pengumpan (feeder) yang dihadirkan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang tidak dilewati oleh bus besar. Foto: Jakarta Smart City

KabarJakarta.com — Bagi warga yang tinggal di gang, kampung, atau kawasan yang tidak berada tepat di jalur utama, naik transportasi umum sering kali belum selesai hanya dengan menemukan stasiun. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mencapai stasiun itu.

Masalah akses tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta setelah LRT Kelapa Gading-Manggarai resmi beroperasi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memerintahkan agar layanan Transjakarta hingga Mikrotrans menjangkau 11 stasiun pada lintasan LRT tersebut.

Perintah itu diarahkan agar keberadaan LRT tidak hanya dinikmati warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar stasiun, tetapi juga masyarakat dari kawasan yang lebih jauh.

“Semua jalur untuk LRT, ada 11 titik, saya sudah perintahkan untuk TransJakarta masuk di semua itu. Kalau TransJakarta tidak bisa digunakan, maka Mikrotrans. Sudah dilakukan,” kata Pramono di Gedung PMI DKI Jakarta, Kamis (17/9).

Stasiun bukan titik akhir perjalanan

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan jaringan transportasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan jalur baru. Akses menuju stasiun juga menjadi bagian penting agar masyarakat mau meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke angkutan umum.

Dalam konteks ini, Mikrotrans memiliki posisi strategis. Moda yang sebelumnya dikenal luas sebagai angkot JakLingko tersebut dapat masuk ke kawasan permukiman yang sulit dijangkau bus berukuran lebih besar.

Dengan begitu, warga yang rumahnya tidak berada di dekat halte atau stasiun tetap memiliki pilihan untuk menuju jaringan transportasi utama.

Konsep ini sejalan dengan sistem JakLingko yang mengintegrasikan berbagai moda transportasi di Jakarta, mulai dari Transjakarta, Metrotrans, dan Mikrotrans hingga MRT Jakarta serta LRT Jakarta.

Konektivitas antarmoda menjadi penting karena perjalanan warga biasanya tidak berhenti pada satu kendaraan. Seseorang bisa menggunakan Mikrotrans dari lingkungan tempat tinggal, berganti ke LRT, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan KRL atau Transjakarta.

Rangkaian perjalanan seperti itu akan lebih mudah jika perpindahan moda berlangsung tanpa jarak dan waktu tunggu yang terlalu lama.

Manggarai titik transit besar

Pramono juga menyoroti peran Stasiun Manggarai dalam jaringan transportasi Jakarta. Menurut dia, kawasan tersebut akan menjadi hub baru yang diperkirakan dilewati sekitar 1,2 juta hingga 1,3 juta orang setiap hari.

Stasiun Manggarai nantinya mempertemukan tiga moda transportasi utama, yakni LRT, KRL, dan Transjakarta. Pemerintah DKI masih melakukan sejumlah pembenahan agar kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai titik transit dengan baik.

Integrasi tersebut menjadi semakin penting setelah LRT Kelapa Gading-Manggarai resmi diresmikan Presiden Prabowo Subianto bersama Pramono pada Rabu (16/9).

Kehadiran LRT diharapkan tidak berdiri sendiri sebagai sebuah jalur baru. Sebaliknya, layanan tersebut harus menjadi bagian dari jaringan transportasi yang memungkinkan warga berpindah dari satu moda ke moda lainnya secara lebih mudah.

DPRD minta Mikrotrans masuk kampung

Dorongan untuk memperluas layanan Mikrotrans juga datang dari DPRD DKI Jakarta. Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin meminta Pemprov DKI memperbanyak Mikrotrans agar jangkauannya semakin luas, terutama ke daerah-daerah kecil dan perkampungan.

Menurut Suhud, keberadaan Mikrotrans dapat menjadi penopang bagi integrasi transportasi di Jakarta. Kendaraan berukuran lebih kecil memungkinkan layanan masuk lebih jauh ke kawasan permukiman dibandingkan moda berkapasitas besar.

“Ini kan, kita usaha mengintegrasikan antarmoda. Mungkin catatannya adalah, penting juga penopang. Mikrotrans itu semakin menjangkau daerah-daerah kecil gitu ya,” kata Suhud di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (18/9).

Dia menambahkan, “Supaya bisa sampai ke kampung-kampung, perlu disambung. Nah, Mikrotrans itu supaya diperbanyak.”

Bagi Suhud, semakin banyak pilihan penghubung menuju stasiun dan halte, semakin terbuka kesempatan masyarakat menggunakan transportasi publik.

Menghubungkan rumah hingga stasiun

Mikrotrans pada dasarnya merupakan salah satu layanan yang dijalankan PT Transportasi Jakarta dengan bentuk angkutan kota. Layanan ini menjadi bagian dari ekosistem JakLingko.

Perannya bukan sekadar mengangkut penumpang dari satu titik ke titik lain. Dalam sistem transportasi terintegrasi, Mikrotrans dapat berfungsi sebagai penghubung kawasan permukiman dengan jaringan transportasi utama.

Di sinilah kebijakan memperluas layanan ke 11 stasiun LRT menjadi penting. Jalur LRT memang menyediakan perjalanan yang lebih terstruktur, tetapi manfaatnya akan lebih luas apabila warga memiliki akses yang mudah dari rumah menuju stasiun.

Artinya, perjalanan dengan transportasi umum idealnya dimulai sejak seseorang keluar dari rumah, bukan baru ketika tiba di stasiun.

LRT Kelapa Gading-Manggarai kini memiliki peluang untuk menjadi bagian dari pola perjalanan tersebut. Mikrotrans dapat mengisi ruang yang tidak mampu dijangkau moda berkapasitas besar, sementara LRT melanjutkan perjalanan pada koridor utama.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan integrasi transportasi bukan hanya berapa banyak jalur yang dibangun. Yang tak kalah penting adalah seberapa mudah warga berpindah dari satu moda ke moda lainnya.

Jika Mikrotrans benar-benar menjangkau kawasan kecil dan perkampungan, sementara LRT, KRL, dan Transjakarta terhubung di titik-titik transit, perjalanan warga Jakarta dapat berlangsung dalam satu jaringan yang lebih utuh.

Transportasi publik pun tidak lagi terasa sebagai pilihan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia bisa dimulai dari depan kampung, tersambung ke stasiun, lalu membawa warga menuju berbagai penjuru kota.

Exit mobile version