LRT Jakarta ke Dukuh Atas Ditarget Rampung 2028, Obligasi jadi Opsi Pendanaan

Pendanaan sangat diperlukan agar pembangunan jaringan LRT tidak berhenti di satu titik, tetapi dapat terus dilanjutkan hingga terhubung dengan berbagai simpul transportasi. Integrasi antarmoda diharapkan memudahkan masyarakat berpindah dari satu layanan transportasi ke layanan lainnya. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Suara kereta yang melaju di jalur layang LRT Jakarta kini tidak lagi berhenti di Kelapa Gading. Sejak rute Kelapa Gading-Manggarai hadir, harapan berikutnya mulai diarahkan pada jaringan yang lebih panjang: membawa penumpang menuju pusat-pusat perpindahan moda transportasi di Jakarta.

Namun, untuk membuat jaringan itu benar-benar tersambung, ada satu persoalan yang tidak kalah penting dari pembangunan rel dan stasiun: dari mana biaya pembangunannya?

Pertanyaan tersebut kini mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD DKI Jakarta untuk mencari sumber pendanaan di luar pola pembiayaan yang sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mendukung langkah tersebut. Pembangunan LRT Jakarta membutuhkan kepastian pendanaan agar tidak berhenti hanya sampai di Stasiun Manggarai.

Salah satu pilihan yang tengah didorong adalah obligasi daerah melalui skema pendanaan non-APBD. Yuke juga berharap pemerintah pusat dapat memberikan dukungan melalui Danantara.

“Pemerintah pusat bisa membantu lewat Danantara,” ujar Yuke, Jumat (18/9).

Jangan berhenti di Manggarai

Bagi Yuke, pembangunan LRT bukan sekadar menambah panjang jalur kereta. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap jalur tersebut tersambung dengan jaringan transportasi lain sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan perjalanan.

Karena itu, ia berharap pembangunan LRT dapat dilanjutkan sesuai rencana hingga Dukuh Atas dan kemudian terkoneksi dengan berbagai moda transportasi.

“Pokoknya, pembiayaannya non-APBD. Salah satu harapannya lewat obligasi. Makanya kita berharap banget, kalau pemerintah pusat bisa bantu lewat Danantara,” katanya.

Integrasi yang dibayangkan mencakup LRT, MRT, KRL, Transjakarta, JakLingko, hingga kereta cepat. Dengan jaringan yang saling terhubung, penumpang tidak harus bergantung pada satu moda untuk menyelesaikan perjalanan.

Kawasan Manggarai dan Dukuh Atas menjadi penting karena keduanya merupakan titik strategis dalam jaringan transportasi Jakarta.

“Kalau itu semua udah nyambung, enak banget pastinya. Pasti juga orang lebih mau naik kereta,” papar Yuke.

Di titik inilah pembangunan infrastruktur transportasi tidak hanya berbicara tentang rel. Yang dibangun juga adalah koneksi antarperjalanan—bagaimana seseorang dari satu kawasan dapat berpindah moda dengan lebih mudah untuk mencapai tujuan berikutnya.

Target Dukuh Atas pada 2028

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya memastikan pembangunan LRT dari Manggarai menuju Dukuh Atas akan dilanjutkan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membeberkan pembangunan segmen tersebut paling lambat dimulai pada Januari 2027. Pemprov DKI Jakarta, telah menyiapkan anggaran untuk kebutuhan pembangunan.

Proyek tersebut ditargetkan selesai pada Agustus 2028.

“Tahun 2028, bulan Agustus sudah bisa selesai sampai Dukuh Atas,” ujar Pramono di Gedung PMI DKI Jakarta, Kamis (17/9).

Meski demikian, kebutuhan pendanaan LRT tidak berhenti pada segmen Manggarai-Dukuh Atas.

Sehari sebelumnya, Pramono menjelaskan bahwa pembangunan lanjutan LRT Jakarta dari Manggarai menuju Dukuh Atas membutuhkan dana sekitar Rp2,7 triliun dan direncanakan mulai dikerjakan pada 2027.

Menurut Pramono, dana tersebut sebenarnya telah tersedia. Namun, pemerintah tetap membutuhkan sejumlah pilihan pembiayaan untuk memastikan pengembangan jaringan LRT dapat terus berjalan.

“Jadi intinya, bisa dari obligasi, bisa dari APBD. Bisa juga dari Danantara,” kata Pramono.

Ke depan, jaringan LRT juga direncanakan diperluas hingga Jakarta International Stadium (JIS) dan Stasiun Halim yang menjadi salah satu akses kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Danantara masuk skema pembiayaan

Gagasan mencari dukungan dari Danantara mendapat perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa lembaga tersebut perlu membantu kelanjutan pembangunan LRT Jakarta.

Pramono sebelumnya menegaskan dirinya perlu menyiapkan berbagai alternatif pembiayaan, sebagai bagian dari upaya melanjutkan pembangunan jaringan transportasi tersebut.

Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pilihan pendanaan menjadi bagian penting karena kebutuhan pembangunan infrastruktur transportasi bersifat jangka panjang. Ketergantungan pada satu sumber anggaran akan menjadi tantangan ketika kebutuhan pembangunan semakin besar.

Karena itu, obligasi dan dukungan dari Danantara kini disebut sebagai sejumlah opsi yang sedang diperhitungkan.

Senada, Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya, juga melihat kebutuhan tersebut. Ia menyambut baik peresmian LRT Kelapa Gading-Manggarai sekaligus mendorong agar tahapan pembangunan berikutnya tidak terhenti.

Menurut Dimaz, segmen Manggarai-Dukuh Atas membutuhkan tambahan sumber pembiayaan. Salah satu instrumen yang sedang dicoba adalah obligasi.

“Kita dari segi pembiayaan sedang membutuhkan tambahan biaya. Seperti LRT 1C (Manggarai-Dukuh Atas) yang lanjutan dari sini, kita sedang mencoba dengan instrumen obligasi,” jelas Dimaz, Kamis (17/9).

Ia juga membuka kemungkinan penggunaan sumber pembiayaan lain untuk pembangunan MRT dan LRT sehingga pembangunan infrastruktur transportasi tidak sepenuhnya bergantung pada APBD.

Manggarai sebagai Titik Temu

Bagi Yuke, Manggarai memiliki arti penting dalam rencana integrasi transportasi Jakarta. Kawasan itu merupakan salah satu titik pertemuan berbagai jalur kereta api.

Ketika LRT masuk ke kawasan tersebut, peluang untuk memperkuat perpindahan penumpang menuju moda lainnya menjadi semakin besar.

“Hub Manggarai itu harus. Sekarang Manggarai sudah ke mana-mana jalurnya (kereta api). Tinggal disambungkan saja dengan LRT,” paparnya.

Dari Manggarai, jaringan tersebut kemudian diharapkan bergerak menuju Dukuh Atas. Di kawasan ini, berbagai moda transportasi dapat bertemu dan membentuk jaringan perjalanan yang lebih terintegrasi.

Yuke optimistis target pengembangan LRT hingga Dukuh Atas pada 2028 dapat tercapai. Namun, optimisme tersebut tetap membutuhkan kepastian pembiayaan.

“Kita juga harus optimistis. Makanya, kita sangat berharap alternatif pembiayaan seperti obligasi dapat disetujui,” ujarnya.

Pada akhirnya, tantangan pembangunan LRT Jakarta bukan hanya soal seberapa cepat rel baru dibangun. Tantangan berikutnya adalah memastikan jaringan yang sudah ada terus berkembang dan tersambung.

Jika pembiayaan alternatif dapat direalisasikan, LRT tidak berhenti sebagai satu jalur yang berdiri sendiri. Jaringan tersebut diharapkan menjadi bagian dari sistem transportasi Jakarta yang menghubungkan LRT dengan MRT, KRL, Transjakarta, JakLingko, hingga kereta cepat.

Dengan begitu, perjalanan menggunakan transportasi publik tidak lagi dipandang sebagai perpindahan dari satu moda ke moda lain yang terpisah, melainkan sebagai satu jaringan perjalanan yang saling terhubung.

Exit mobile version