KabarJakarta.com— Gerbong Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai mulai merasakan satu perubahan besar sejak jalur tersebut diresmikan. Jumlah penumpang melonjak dalam beberapa hari pertama setelah layanan resmi beroperasi.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengakui tingginya minat masyarakat terhadap LRT Jakarta. Menurut dia, salah satu alasan warga menggunakan moda transportasi tersebut adalah rasa penasaran untuk mencoba layanan baru.
“LRT (Kelapa Gading-Manggarai) memang saya mendengar dengan Rp8 ini, animonya banyak. Mungkin banyak faktor, ada yang mau jalan-jalan, ada yang mau coba, dan segala macam,” kata Rano di Jakarta, Selasa (22/9).
Antusiasme itu terlihat dari data yang dicatat PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Sejak diresmikan pada 17 September hingga 21 September 2026, jumlah pengguna LRT rute Kelapa Gading-Manggarai mencapai 64.400 orang.
Angka tersebut menunjukkan perubahan cukup besar dibandingkan kondisi ketika layanan masih berakhir di Velodrome. Sebelumnya, LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Velodrome mencatat rata-rata sekitar 4.300 penumpang per hari.
Setelah jalur diperpanjang menuju Manggarai, jumlah penumpang harian meningkat signifikan. Pada periode awal operasional, jumlah pengguna bahkan sempat mencapai sekitar 16.000 orang dalam sehari.
Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lonjakan tersebut menjadi sinyal bahwa masyarakat memiliki kebutuhan sekaligus ketertarikan terhadap transportasi umum yang semakin terhubung.
Rano menjelaskan pemerintah tidak bermaksud melarang warga menggunakan kendaraan pribadi. Namun, ia berharap tersedianya transportasi umum yang nyaman dapat membuat masyarakat mempertimbangkan untuk meninggalkan kendaraan pribadi dalam perjalanan sehari-hari.
“Bukannya kami melarang (pakai kendaraan pribadi). Tapi jauh lebih nyaman kalau kita gunakan transportasi umum,” ujar Rano.
Antusiasme berujung kepadatan
Tingginya jumlah penumpang membuat Jakpro harus menyesuaikan pola operasional. VP Corporate Secretary Jakpro Muhamad Alfin Rinaldyansyah mengungkapkan perusahaan menambah kereta secara situasional untuk merespons kepadatan penumpang.
Saat ini, layanan LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai menggunakan tujuh kereta.
Namun, penambahan armada bukan satu-satunya langkah. Jakpro juga menerapkan pembatasan jumlah penumpang dalam kondisi tertentu. Kuota dibatasi hingga sekitar 140 orang untuk setiap perjalanan.
Menurut Alfin, kebijakan tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk mengurangi kepadatan. Pembatasan diperlukan agar kondisi di dalam kereta tetap nyaman dan penumpang di stasiun berikutnya masih memiliki kesempatan untuk naik.
Langkah itu menunjukkan tantangan yang muncul ketika sebuah layanan transportasi publik tiba-tiba mendapat perhatian besar. Antusiasme masyarakat memang menjadi kabar positif, tetapi pada saat yang sama harus diikuti kemampuan operator menjaga kapasitas, kenyamanan, dan kelancaran perjalanan.
LRT dan masa depan transportasi Jakarta
Rano melihat perkembangan tersebut dalam konteks yang lebih besar. Pemerintah DKI ingin memperkuat penggunaan transportasi publik sebagai bagian dari sistem mobilitas Jakarta.
Karena itu, pembangunan LRT tidak berhenti pada rute Kelapa Gading-Manggarai. Pemprov DKI juga telah merencanakan kelanjutan pembangunan, salah satunya rute Manggarai-Dukuh Atas.
Untuk proyek lanjutan tersebut, pemerintah membuka peluang dukungan dari Danantara Indonesia. Rano menyebut dukungan itu berkaitan dengan posisi Jakarta yang tidak hanya menjadi kepentingan warga ibu kota, tetapi juga memiliki peran bagi masyarakat Indonesia secara luas.
“Disampaikan oleh Bapak Presiden juga, bahwa Jakarta bukan hanya milik Jakarta, Jakarta milik Indonesia,” kata Rano.
Di tengah meningkatnya jumlah penumpang, tantangan LRT Jakarta kini bukan lagi sekadar menarik masyarakat untuk mencoba. Tantangan berikutnya adalah membuat mereka terus menggunakan transportasi publik karena layanan yang nyaman, terintegrasi, dan dapat diandalkan.
Jika antusiasme pada lima hari pertama dapat dipertahankan, LRT Jakarta berpeluang menjadi bagian penting dari perubahan kebiasaan mobilitas warga. Bukan lagi sekadar moda transportasi yang dicoba karena penasaran, tetapi pilihan untuk bepergian setiap hari.
