Menembus 18 Meter di Bawah Bundaran HI, Ruang Multifungsi Ditargetkan jadi Hadiah 500 Tahun Jakarta

Dokumentasi - Pembangunan ruang multifungsi (extended concourse) di Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta yang direncanakan diresmikan pada 2027, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Kesibukan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) tidak hanya berlangsung di permukaan jalan. Di kedalaman sekitar 18 meter, pembangunan ruang multifungsi bawah tanah atau extended concourse terus dikerjakan untuk menghadirkan ruang baru yang menghubungkan sejumlah pusat aktivitas dan transportasi di jantung Jakarta.

Hingga Agustus 2026, progres pembangunan ruang multifungsi seluas 4.439 meter persegi itu telah mencapai 24 persen. Proyek yang dikerjakan PT MRT Jakarta (Perseroda) melalui anak usahanya, PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), tersebut ditargetkan selesai pada Juni 2027.

Waktu penyelesaian itu sengaja diarahkan bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-500 DKI Jakarta.

“Targetnya ini menjadi hadiah 5 abad Jakarta, dan akan diresmikan saat perayaan HUT Jakarta,” kata Ferdiansyah Roestam, Direktur Utama PT ITJ  di Jakarta, Selasa (25/8).

Di balik target tersebut, pembangunan extended concourse bukan pekerjaan sederhana. Proyek senilai Rp148,2 miliar ini menjadi salah satu langkah awal pembangunan ruang bawah tanah yang dirancang sebagai bagian dari pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD).

Ferdiansyah menjelaskan, tantangan terbesar proyek ini adalah belum adanya proyek serupa di Indonesia yang dapat dijadikan contoh secara langsung. Karena itu, tim harus melakukan banyak kajian sebelum pekerjaan konstruksi dilakukan.

“Proyek ini merupakan proyek pertama terkait pembangunan ruang bawah tanah. Kami harus membaca peta pembangunan gedung-gedung di kawasan Bundaran HI, dan juga membaca peta kabel bawah tanah dan sejumlah hal lainnya,” paparnya.

Kondisi kawasan Bundaran HI yang sudah padat menjadi perhatian penting. Di atas lokasi proyek terdapat jalan raya, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, serta jaringan transportasi publik. Sementara di bawah tanah terdapat berbagai jaringan utilitas yang harus diperhitungkan agar pembangunan tidak mengganggu fasilitas yang sudah ada.

Ruang bawah tanah tersebut nantinya memiliki dua akses utama yang disebut sebagai muara. Akses pertama dirancang terhubung langsung dengan Plaza Indonesia dan Grand Hyatt. Sementara akses kedua akan mengarah ke Wisma Nusantara dan Hotel Pullman.

Konektivitas juga diperluas ke jaringan transportasi publik. Extended concourse akan terhubung dengan Halte Transjakarta Bundaran HI melalui fasilitas lift. Dengan demikian, pengguna bus Transjakarta dapat masuk ke ruang bawah tanah tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju Stasiun MRT Jakarta.

“Jadi nanti, pengguna Transjakarta dapat mengakses extended concourse secara langsung dan terhubung dengan Stasiun MRT Jakarta,” kata Ferdiansyah.

Bagi masyarakat, keberadaan ruang tersebut tidak hanya berkaitan dengan perpindahan moda transportasi. Extended concourse juga diproyeksikan menjadi ruang pertemuan baru di tengah kawasan pusat Jakarta.

Posisinya yang berada sekitar 18 meter di bawah permukaan jalan membuat ruang ini memiliki fungsi lain, yakni menjadi jalur penyeberangan masyarakat dari sisi timur ke barat kawasan Bundaran HI. Selama ini, pergerakan pejalan kaki di kawasan tersebut berhadapan dengan kepadatan lalu lintas dan aktivitas perkotaan yang tinggi.

“Extended concourse ini menjadi solusi penyeberangan masyarakat dari sisi timur menuju barat maupun sebaliknya. Masyarakat juga dapat menikmati kawasan ini sebagai wadah transit, yang tentunya menggerakkan ekonomi,” ujar Ferdiansyah.

Konsep tersebut membuat proyek ini tidak sekadar membangun ruang tambahan di bawah tanah. Kehadirannya diharapkan mampu menghubungkan berbagai fungsi kota dalam satu kawasan, mulai dari pusat perbelanjaan, hotel, transportasi publik hingga ruang bagi pejalan kaki.

Dari sisi ekonomi, peningkatan aktivitas masyarakat juga diperkirakan terjadi setelah proyek selesai. PT ITJ memprediksi jumlah pengunjung kawasan dapat bertambah hingga 6.000 orang.

Tambahan arus manusia tersebut diharapkan ikut menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitar Bundaran HI. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon Jakarta itu nantinya tidak hanya menjadi titik pertemuan jalan dan transportasi, tetapi juga menjadi ruang aktivitas masyarakat yang lebih terintegrasi.

Ferdiansyah mengungkapkan proyek ini diharapkan memperkuat posisi Bundaran HI sebagai kawasan TOD. Integrasi berbagai moda transportasi menjadi bagian penting dalam upaya mendorong masyarakat menggunakan angkutan umum dan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

“Kami berharap bsia meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi publik, sekaligus memperkuat konektivitas kawasan pusat bisnis Jakarta,” katanya.

Jika pembangunan berjalan sesuai rencana, ruang multifungsi bawah tanah tersebut akan mulai memperlihatkan wajah baru kawasan Bundaran HI pada pertengahan 2027. Proyek ini sekaligus menjadi eksperimen penting bagi Jakarta dalam mengembangkan ruang kota ke arah bawah tanah.

Keberhasilan pembangunan extended concourse Bundaran HI nantinya dapat menjadi pijakan untuk pengembangan ruang bawah tanah serupa di lokasi lain. Jakarta yang semakin padat membutuhkan cara baru untuk mengatur pergerakan manusia, transportasi, dan aktivitas ekonomi tanpa selalu menambah ruang di permukaan.

Di bawah Bundaran HI, upaya itu sedang dimulai. Sebuah ruang baru sedang disiapkan bukan hanya untuk menjadi tempat orang lewat, tetapi juga untuk mempertemukan transportasi, pejalan kaki, aktivitas ekonomi, dan kehidupan kota dalam satu kawasan.

Exit mobile version