KabarJakarta.com — Air yang biasanya mengalir begitu saja dari keran, dalam beberapa pekan terakhir mulai menjadi sesuatu yang harus ditunggu sebagian warga Jakarta. Di sejumlah permukiman, debit air mengecil, bahkan hanya muncul pada waktu tertentu. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat kebutuhan paling dasar itu tidak lagi mudah didapat.
Di Pondok Labu, Jakarta Selatan, persoalan tersebut dirasakan Patricia, 39 tahun. Selama 2 (dua) pekan terakhir, air dari pompa di rumahnya semakin kecil. Ia mengatakan air hanya keluar pada waktu tertentu, salah satunya sekitar subuh ketika pompa dinyalakan.
“Keluar airnya kecil, dan kalau di rumahku, adanya itu. Kalau kita nyalain pompanya pas subuh. Kalau sekitar jam 22.00 WIB atau 24.00 WIB malam itu, tetap enggak ada airnya,” kata Patricia, Selasa (15/9).
Menurut Patricia, kondisi tersebut sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak Agustus. Namun, keadaan menjadi semakin buruk dalam dua pekan terakhir. Kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari pun mulai terganggu.
Keluhan itu, kemudian ia sampaikan melalui media sosial Threads. Ia mengaku tidak tahu lagi harus mencari solusi ke mana setelah kondisi air di rumahnya semakin sulit. Unggahannya kemudian mendapat respons dari Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Tak lama setelah laporan diterima, petugas datang ke lokasi. Pemerintah Kota Jakarta Selatan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan PAM Jaya untuk menyalurkan air bersih kepada warga.
Satu unit truk tangki BPBD Jakarta Selatan dengan kapasitas 5.000 liter dikerahkan ke Jalan Tridharma X, RT 02/RW 08, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak.
Patricia mengapresiasi respons pemerintah tersebut. Menurut dia, bantuan datang dengan cepat ketika warga mulai mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air.
“Responnya luar biasa. Cepat sekali. Kemarin juga langsung datang untuk beri bantuan teknis. Jadi kami sangat-sangat terbantu,” ujarnya.

Laporan warga jadi dasar penyaluran
Lurah Pondok Labu Nachnoer Vernier Atom menjelaskan, bantuan diberikan setelah pihaknya menerima laporan mengenai kekeringan di sekitar permukiman warga. Kondisi tersebut berkaitan dengan debit air pompa yang semakin kecil, serta cuaca kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Namun, penanganan tidak berhenti pada satu titik. Kelurahan bersama RT dan RW masih melakukan pendataan untuk mengetahui lokasi lain yang berpotensi mengalami krisis air.
“Kita juga sudah dari tingkat kota, mengedarkan surat untuk melakukan pendataan mana saja, titik-titik yang memerlukan bantuan air bersih,” kata Vernier di Jakarta, Selasa (15/8).
Pendataan menjadi penting karena kebutuhan air dapat meningkat apabila kemarau berlangsung lebih lama. Warga yang membutuhkan bantuan juga diminta segera melapor kepada kelurahan maupun BPBD agar dapat ditindaklanjuti.
Pemprov DKI sendiri memastikan distribusi air bersih terus dilakukan ke wilayah yang mengalami kesulitan air.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pemerintah terus memantau laporan kekeringan yang masuk, baik melalui kanal pengaduan JAKI maupun laporan langsung dari masyarakat.
“Jadi sekarang ini, memang distribusi air bersih tetap kita lakukan,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (15/9).
Pramono juga mengingatkan bahwa kemarau panjang tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air. Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran.
Ia berharap fenomena El Nino yang disebut memicu kemarau ekstrem tidak berlangsung lebih lama dari prakiraan. “Karena kalau enggak, memang dampaknya juga kekeringannya jadi panjang,” katanya.

Dari Jakarta Selatan hingga Jakarta Utara
Masalah serupa sebelumnya juga dirasakan warga Jakarta Utara. Pada awal September, warga RW 04 Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama lebih dari satu bulan.
Ketua RW 04 Sarmada membeberkan sembilan RT di wilayah tersebut mulai merasakan kekurangan air. Namun, bantuan awal diprioritaskan untuk empat RT yang berada dalam satu jalur pipa, yakni RT 05, RT 06, RT 08, dan RT 09.
PAM Jaya bersama BPBD DKI kemudian mengirimkan dua mobil tangki. BPBD mengerahkan satu tangki berkapasitas 5.000 liter, sedangkan PAM Jaya mengirimkan tangki berkapasitas 4.000 liter.
Bantuan tersebut menyasar 253 kepala keluarga. Warga datang membawa galon dan drum untuk menampung air yang akan digunakan untuk memasak, mandi, serta kebutuhan sehari-hari.
Sebelum bantuan datang, sebagian warga bahkan harus mengantre untuk mendapatkan air dari musala dan masjid yang alirannya masih relatif lancar.
Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan air bersih di tengah kemarau bukan sekadar soal berkurangnya debit air. Bagi warga, gangguan pasokan dapat langsung memengaruhi rutinitas dan kebutuhan dasar keluarga.
Karena itu, selain bantuan tangki, warga berharap perbaikan jaringan dan pemulihan pasokan dapat segera dilakukan.
BPBD Jakarta Selatan juga mengimbau warga yang masih mengandalkan air tanah untuk secara bertahap beralih ke layanan air perpipaan PAM Jaya. Langkah tersebut sejalan dengan rencana pengembangan Zona Bebas Air Tanah (ZOBAT).
Untuk sementara, ketika keran belum kembali mengalir normal, truk-truk tangki menjadi penopang kebutuhan warga. Di tengah kemarau yang belum sepenuhnya berlalu, laporan dari masyarakat dan kecepatan pemerintah merespons menjadi bagian penting untuk memastikan kebutuhan air bersih tetap terpenuhi.






