KabarJakarta.com — Setelah sempat terganggu selama lebih dari dua bulan, layanan air bersih melalui fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di Kepulauan Seribu kembali beroperasi. Kembalinya fasilitas pengolahan air laut itu disambut lega oleh warga, terutama masyarakat yang selama ini bergantung pada pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas gangguan pelayanan air bersih yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Gangguan tersebut membuat akses warga terhadap air bersih menjadi tidak optimal.
“Kami sampaikan permohonan maaf kepada warga atas kendala layanan air bersih yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir akibat gangguan pada SWRO,” kata Fadjar saat sosialisasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan layanan air minum perpipaan di Pulau Untung Jawa, Rabu.
Menurut Fadjar, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Ketersediaan air yang memadai juga berkaitan langsung dengan kesehatan dan kesejahteraan warga.
Gangguan pada SWRO terjadi akibat kerusakan salah satu komponen penting, yakni pompa. Kondisi tersebut membuat fasilitas tidak dapat digunakan selama kurang lebih dua setengah bulan.
Namun, perbaikan kini telah rampung. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu memastikan fasilitas tersebut kembali bekerja untuk mendukung kebutuhan air bersih masyarakat.
“Saat ini perbaikan sudah selesai, SWRO kita kini sudah aktif dan berfungsi kembali,” ujar Fadjar.
Kembalinya layanan SWRO menjadi kabar baik bagi warga Pulau Untung Jawa. Salah satunya Asroni, 52 tahun, yang mengaku lega karena pasokan air bersih kembali tersedia.
“Sekarang air sudah kembali aktif. Kami senang karena tidak lagi kekurangan air bersih, dan kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi lebih baik,” kata Asroni.
Pemkab Kepulauan Seribu bersama PAM Jaya tidak hanya berfokus pada pemulihan fasilitas yang mengalami gangguan. Pemerintah juga menargetkan cakupan layanan air minum perpipaan di wilayah Kepulauan Seribu dapat mencapai 100 persen.
Perluasan jaringan air perpipaan tersebut sekaligus diarahkan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap air tanah. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kondisi lingkungan di wilayah kepulauan.
Fadjar mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini tengah melakukan kajian terkait aturan mengenai larangan penggunaan air tanah. Karena itu, masyarakat didorong mulai menggunakan layanan air perpipaan sebagai sumber utama kebutuhan air.
“Saya mengimbau warga agar mulai beralih sepenuhnya ke air perpipaan, demi menjaga kelestarian lingkungan tempat tinggal kita,” kata Fadjar.
Selain memperluas cakupan layanan, pengelolaan air bersih di Kepulauan Seribu juga akan diarahkan semakin modern. Salah satu teknologi yang disiapkan adalah smart water meter yang dapat mencatat penggunaan air secara digital dan real-time.
Teknologi tersebut diharapkan membuat pencatatan konsumsi air lebih akurat sekaligus meningkatkan transparansi pelayanan. Warga juga kini dapat membayar tagihan secara digital melalui QRIS dan berbagai platform e-commerce.
“Saat ini, warga tak perlu repot mengantre. Pembayaran tagihan air sudah terintegrasi secara digital melalui QRIS dan aplikasi e-commerce, sehingga layanan air minum menjadi lebih mudah, cepat, dan transparan,” tuturnya.
Dengan kembali beroperasinya SWRO dan rencana perluasan jaringan perpipaan, pemerintah berharap persoalan akses air bersih di Kepulauan Seribu dapat semakin teratasi. Bagi warga, air yang kembali mengalir bukan sekadar pulihnya sebuah fasilitas, tetapi juga kembalinya rasa aman untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap hari.






