Tenda Pengungsian Berdiri, Bantuan Mengalir untuk Penyintas Kebakaran Muara Angke

Penyintas kebakaran di Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara, berada di tenda pengungsian, Kamis (27/8/2026). Foto: BPBD Korwil Jakarta Utara

KabarJakarta.com — Malam belum sepenuhnya berlalu ketika tenda pengungsian mulai berdiri di kawasan Muara Angke, Jalan Dermaga Ujung, RW 22, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Di lokasi itu, puluhan rumah ludes dilalap api pada Rabu (26/8) malam.

Pemerintah Kota Jakarta Utara bergerak cepat dengan menyiapkan tempat sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Satu tenda berukuran besar didirikan di dekat mushala agar mudah dijangkau para pengungsi.

Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Utara Ronny Jarpiko menjelaskan bantuan langsung dikirim tidak lama setelah kebakaran terjadi.

“Semalam kami langsung mendirikan tenda bagi pengungsi, dan mengirimkan bantuan ke lokasi kebakaran di Muara Angke,” kata Ronny di Jakarta, Kamis (27/8).

Di dalam tenda tersebut, warga mendapat sejumlah kebutuhan dasar untuk bertahan selama masa pengungsian. Bantuan antara lain berupa terpal sebagai alas, matras, kasur lipat, serta makanan untuk anak-anak.

Kebutuhan makan juga menjadi perhatian pemerintah. Pada Kamis pagi, makanan sarapan kembali dikirimkan untuk para penyintas yang masih berada di lokasi pengungsian.

“Pagi ini, kami juga sudah mengirimkan makan pagi bagi para penyintas,” ujar Ronny.

Tak hanya dari Pemerintah Kota Jakarta Utara, bantuan juga datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta. Petugas mendistribusikan berbagai kebutuhan dasar kepada warga yang terdampak kebakaran pada Kamis pagi.

BPBD DKI mencatat sebanyak 60 bangunan terdampak dalam peristiwa tersebut. Data yang dihimpun lembaga itu menunjukkan terdapat 46 kepala keluarga atau 250 jiwa yang membutuhkan bantuan, termasuk 17 balita.

Bantuan yang diberikan cukup beragam. Petugas menyalurkan 750 makanan siap saji, 300 family kits, 300 matras, 300 selimut, biskuit, serta perlengkapan kebutuhan anak atau kidsware. Posko kesehatan juga didirikan untuk memberikan pelayanan kepada warga selama berada di pengungsian.

Kebakaran sendiri mulai ditangani petugas pemadam pada Rabu malam. Api pertama kali ditangani pada pukul 18.54 WIB dan baru berhasil dipadamkan sekitar lima jam kemudian, tepatnya Kamis dini hari pukul 00.12 WIB.

Kepala Seksi Operasi Sudin Gulkarmat Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu Gatot Sulaeman mengungkapkan kobaran api menghanguskan 60 rumah yang berdiri di atas lahan dengan luas total sekitar 2.400 meter persegi.

“Api baru berhasil dipadamkan pada Kamis dini hari, pukul 00.12 WIB, atau 5 jam setelah dilakukan penanganan oleh petugas. Awal pemadaman api dimulai pada pukul 18.54 WIB,” kata Gatot.

Dampak kebakaran ternyata lebih luas jika melihat jumlah warga yang terdampak. Gatot menyebut terdapat 180 kepala keluarga dengan total 730 jiwa yang terkena dampak kejadian tersebut.

“Sejauh ini, ada 2 orang yang mengalami luka akibat kejadian tersebut,” ungkap Gatot.

Kini, setelah api padam, persoalan berikutnya adalah memastikan kebutuhan warga tetap terpenuhi. Tenda, makanan, perlengkapan tidur, hingga layanan kesehatan menjadi penyangga sementara bagi para penyintas sebelum mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Bagi warga Muara Angke, malam kebakaran itu bukan sekadar peristiwa yang menghanguskan bangunan. Rumah, barang-barang, dan sebagian kehidupan mereka ikut hilang. Bantuan yang datang sejak malam hingga pagi menjadi langkah awal untuk membantu mereka melewati hari-hari sulit setelah kebakaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *