Tiga Tahun LRT Jabodebek: Penumpang Bertambah, Pekerjaan Rumah Belum Selesai

Mobilitas Wisata Makin Beragam, LRT Jabodebek Hadirkan Konektivitas melalui Integrasi Antarmoda. Foto: LRT Jabodetabek

KabarJakarta.com — Tiga tahun beroperasi, LRT Jabodebek menghadapi situasi yang sekaligus menunjukkan keberhasilan dan pekerjaan rumah. Jumlah penumpang terus tumbuh hingga menembus 21,81 juta orang pada Agustus 2026, tetapi kepadatan di jam sibuk, kenyamanan stasiun, hingga sejumlah persoalan teknis masih menjadi tantangan yang harus dibereskan.

Pengelola kini memasang target lebih tinggi. Hingga akhir 2026, LRT Jabodebek diharapkan mampu melayani lebih dari 30 juta penumpang.

Target itu disampaikan Executive Vice President (EVP) LRT Jabodebek Suryawan Putra Hia dalam rangkaian perayaan ulang tahun ketiga LRT Jabodebek di Jakarta, Minggu, 13 September 2026.

“Insya Allah jumlah 30 juta penumpang, di akhir tahun nanti, bisa tercapai. Karena hingga Agustus ini, jumlah penumpang di angka 21,81 juta penumpang,” kata Suryawan di Jakarta, Minggu (13/9).

Angka tersebut memperlihatkan perubahan besar dibandingkan tahun pertama LRT Jabodebek beroperasi. Pada 2023, moda transportasi berbasis kereta tanpa masinis itu baru mengangkut sekitar 4,5 juta penumpang.

Setahun kemudian, jumlahnya melonjak menjadi 21,06 juta penumpang. Pada 2025, jumlah pengguna kembali bertambah hingga mencapai 25,82 juta penumpang.

Dengan capaian 21,81 juta penumpang sampai Agustus 2026, LRT Jabodebek kini bukan lagi sekadar proyek transportasi baru. Moda ini mulai menjadi bagian dari rutinitas perjalanan masyarakat di kawasan Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi.

Namun, semakin banyak penumpang juga berarti semakin besar tuntutan terhadap kualitas layanan.

Suasana penumpang memadati rangkaian LRT Jabodebek. Foto: Dokumentasi LRT Jabodebek

Penumpang bertambah, kepadatan meningkat

Salah satu persoalan yang kini harus dijawab pengelola adalah kepadatan pada jam sibuk.

Suryawan menjelaskan okupansi LRT Jabodebek pada hari kerja bahkan sudah lebih dari 100 persen. Pada periode paling padat, yakni sekitar pukul 07.00–08.00 WIB, tingkat okupansi dapat mencapai 150 persen.

Situasi itu membuat pengelola menyiapkan langkah penambahan perjalanan kereta pada jam tersebut.

“Bahkan saat ini, okupansi di hari kerja sudah lebih dari 100 persen. Kami akan terus memberikan layanan terbaik bagi masyarakat,” ujar Suryawan.

Penambahan perjalanan menjadi penting karena pertumbuhan penumpang tidak hanya menunjukkan keberhasilan menarik masyarakat menggunakan transportasi publik. Di sisi lain, angka tersebut juga menjadi ujian bagi kapasitas layanan.

Kereta yang semakin penuh, waktu tunggu yang harus dijaga, serta kebutuhan perpindahan penumpang antarmoda membutuhkan pengaturan yang semakin presisi.

LRT Jabodebek juga berencana memperkuat koneksi dengan kereta cepat. Salah satu yang diupayakan adalah memastikan perjalanan dari Dukuh Atas menuju Stasiun KCIC Halim dapat dilakukan sebelum kereta cepat pertama berangkat.

Bagi penumpang, integrasi semacam ini bukan sekadar persoalan teknis. Ketepatan waktu antarmoda menentukan apakah transportasi publik benar-benar menjadi pilihan yang praktis atau justru membuat perjalanan terasa lebih panjang.

Direktur Operasi, Prasarana, dan Keselamatan Area II PT KAI Dadan Rudiansyah bersama Executive Vice President (EVP) LRT Jabodebek, Suryawan Putra Hia saat meluncurkan layanan interaktif saat perayaan HUT ketiga LRT Jabodebek di LRT City Ciracas, Jakarta Timur, pada Minggu (13/9/2026) malam. Foto: ANTARA

Tiga tahun, keluhan masih terdengar

Di balik pertumbuhan penumpang, LRT Jabodebek juga tidak lepas dari berbagai kritik.

Sejak awal pengoperasian, persoalan teknis sempat menjadi sorotan. Masalah keausan roda menyebabkan rangkaian kereta harus menjalani pembubutan secara intensif dan berdampak terhadap jumlah trainset yang dapat dioperasikan.

Gangguan kelistrikan dan sistem persinyalan juga pernah membuat perjalanan terganggu. Penumpang sempat melaporkan kereta kehilangan tenaga, lampu di dalam rangkaian padam hingga muncul suara dentuman.

Pada masa awal pengoperasian, persoalan presisi berhenti kereta dengan pintu peron juga sempat menjadi perhatian.

Persoalan lain berada di luar gerbong, tetapi langsung menyentuh pengalaman penumpang. Suhu panas di sejumlah stasiun, pendingin ruangan yang belum optimal, serta keandalan eskalator dan lift menjadi bagian dari pekerjaan rumah pengelola.

Dalam perayaan tiga tahun LRT Jabodebek, Suryawan menyatakan perbaikan layanan akan terus dilakukan.

“Semua akan kami tingkatkan, agar masyarakat semakin nyaman dan menjadikan stasiun LRT sebagai lokasi transit yang aman dan nyaman,” tegasnya.

Pengelola juga memperkenalkan layanan interaktif untuk memudahkan masyarakat menyampaikan keluhan. Tujuannya agar laporan penumpang dapat diterima dan ditindaklanjuti lebih cepat.

Dokumentasi – Kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) melintas di jembatan rel lengkung (longspan) LRT Kuningan, Jakarta, Rabu (2/8/2023). Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebutkan konstruksi jembatan lengkung dari Gatot Subroto menuju ke Kuningan salah desain sehingga menyebaBkan rangkaian kereta LRT yang melintas harus berjalan melambat. Foto: ANTARA

Longspan pernah diperdebatkan

Perjalanan LRT Jabodebek juga pernah diwarnai perdebatan mengenai desain infrastrukturnya.

Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah longspan lengkung Gatot Subroto-Kuningan. Tikungan pada lintasan tersebut membuat kereta harus menurunkan kecepatan secara signifikan.

Pada 1 Agustus 2023, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo saat itu, mengkritik desain tersebut dan menyebut tikungan yang sempit membuat kereta harus melaju sekitar 20 kilometer per jam.

Namun, arsitek jembatan longspan tersebut, Arvilla Delitriana, membantah anggapan bahwa konstruksi itu merupakan kesalahan desain.

Dalam wawancara pada 8 Agustus 2023, Arvilla menjelaskan bahwa rancangan jembatan telah mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar, termasuk keterbatasan lahan dan aspek keselamatan.

Menurut dia, tikungan yang lebih lebar akan membutuhkan ruang yang lebih besar dan berpotensi menimbulkan persoalan pembebasan lahan.

Perdebatan itu menunjukkan satu hal penting: pembangunan transportasi massal tidak hanya soal membuat jalur dan menjalankan kereta. Desain jalur, kondisi kawasan, teknologi kereta, keselamatan dan kebutuhan penumpang harus berjalan sebagai satu sistem.

LRT Jabodebek memastikan operasional perjalanan tetap berjalan normal di tengah sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Foto: LRT Jakarta

Jangan berhenti pada angka penumpang

Direktur Operasi, Prasarana, dan Keselamatan Area II PT KAI Dadan Rudiansyah mengingatkan bahwa pertumbuhan pengguna tidak boleh membuat pengelola cepat berpuas diri.

Ia mengingat kembali perjalanan pembangunan LRT Jabodebek sejak penugasan kepada PT KAI pada 2017. Menurutnya, proses membangun dan mengoperasikan moda transportasi baru bukan pekerjaan mudah.

“Kami berharap, jangan cepat berpuas diri dan terus konsisten melayani masyarakat, mengingat ini merupakan penugasan negara,” kata Dadan dalam perayaan tiga tahun LRT Jabodebek.

Pesannya sederhana: semakin tua usia layanan, seharusnya semakin baik pula kualitasnya. “Semakin bertambah umur harus semakin meningkat pelayanan,” paparnya.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar dalam perayaan tersebut. Ia menilai meningkatnya kebutuhan transportasi publik harus diikuti dengan upaya membangun kebiasaan masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi.

Menurut Benny, keberadaan LRT Jabodebek bersama MRT Jakarta, LRT Jakarta dan Transjakarta dapat membantu mengurangi kemacetan sekaligus mendukung perbaikan kualitas udara apabila semakin banyak masyarakat berpindah ke transportasi publik.

ANTARA, kata dia, juga memiliki peran untuk memperkuat informasi mengenai manfaat transportasi publik kepada masyarakat.

“Ini menjadi tantangan bagaimana media mampu mengamplifikasi berita agar membangun budaya masyarakat berintegrasi dari transportasi pribadi menuju transportasi publik,” kata Benny.

Ia juga mendorong peningkatan layanan, termasuk kemungkinan memperpanjang jam operasional hingga malam seperti yang diterapkan di sejumlah kota besar dunia.

“Jika memungkinkan, jam layanan operasional diperpanjang seperti di luar negeri hingga pukul 00.00 WIB demi kebutuhan pelanggan,” jelasnya.

Target 30 juta adalah awal, bukan akhir

LRT Jabodebek kini berada pada titik penting. 21,81 juta penumpang dalam delapan bulan menunjukkan bahwa masyarakat semakin membutuhkan transportasi publik yang cepat dan terintegrasi.

Tetapi target lebih dari 30 juta penumpang pada akhir 2026 tidak cukup dicapai hanya dengan menambah jumlah pengguna.

Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut diikuti kapasitas yang memadai, perjalanan yang andal, stasiun yang nyaman, fasilitas yang berfungsi baik, serta koneksi antarmoda yang semakin mudah.

Dengan kata lain, ukuran keberhasilan LRT Jabodebek ke depan bukan hanya berapa banyak orang yang naik kereta. Ukurannya juga seberapa nyaman mereka menjalani perjalanan dari satu titik ke titik lain.

Tiga tahun pertama telah membuktikan bahwa LRT Jabodebek mampu tumbuh. Tahun-tahun berikutnya akan menjadi ujian apakah pertumbuhan itu mampu diubah menjadi layanan transportasi publik yang benar-benar dapat diandalkan masyarakat setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *