KabarJakarta.com — Polres Metro Jakarta Barat mengingatkan masyarakat agar lebih waspada saat menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Warga diminta tidak sembarangan menerima bantuan dari orang yang tidak dikenal ketika mengalami kendala pada kartu atau mesin ATM.
Imbauan tersebut disampaikan setelah polisi mengamankan empat orang yang diduga menjadi bagian dari sindikat pencurian dengan modus ganjal ATM. Kelompok tersebut diketahui telah menguras rekening korban hingga mencapai Rp205 juta.
Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol. Nasriadi menjelaskan masyarakat perlu berhati-hati jika kartu ATM tiba-tiba tidak dapat masuk ke mesin. Kondisi tersebut bisa saja menjadi bagian dari modus yang sengaja dibuat pelaku untuk menjebak korban.
“Pesan kami untuk masyarakat, apabila ada yang akan mengambil uang di ATM, kemudian mendapati ATM-nya tidak bisa masuk, jangan langsung percaya kepada orang tidak dikenal yang menawarkan jasa bantuan,” kata Nasriadi di Jakarta, Rabu (2/9).
Menurut Nasriadi, pelaku biasanya memanfaatkan kepanikan korban ketika berhadapan dengan mesin ATM yang bermasalah. Salah satu cara yang digunakan adalah memasang benda tertentu, seperti potongan tusuk gigi, pada bagian mesin sehingga kartu ATM korban tertahan atau tidak dapat digunakan.
Dalam kondisi tersebut, pelaku kemudian muncul dan menawarkan bantuan. Korban yang panik bisa saja mengikuti arahan pelaku tanpa menyadari bahwa orang tersebut merupakan bagian dari jaringan kejahatan.
Karena itu, Nasriadi meminta masyarakat tidak meminta bantuan kepada orang yang kebetulan berada di sekitar mesin ATM. Jika terjadi gangguan, warga sebaiknya segera menghubungi petugas resmi dari bank.
“Apabila ada kendala pada mesin ATM, jangan minta bantuan kepada sembarang orang. Mintalah bantuan kepada sekuriti bank, atau pihak perbankan yang resmi bertugas, karena merekalah yang lebih mengerti,” ujarnya.
Nasriadi membeberkan, kasus tersebut terungkap setelah polisi menangkap empat anggota sindikat ganjal ATM. Dalam menjalankan aksinya, para pelaku tidak hanya mengandalkan alat untuk mengganjal mesin, tetapi juga menyiapkan kartu ATM palsu.
Kartu-kartu tersebut digunakan untuk mengelabui korban dan mempermudah pelaku mengakses rekening yang menjadi sasaran. Polisi menemukan para pelaku telah mencetak puluhan kartu ATM palsu sebagai bagian dari persiapan sebelum menjalankan aksinya.
“Mereka beraksi di beberapa bank, dan telah mencetak banyak sekali kartu ATM palsu sebagai ‘modal’,” kata Nasriadi.
Menurut dia, kartu palsu tersebut dibuat menyerupai kartu dari bank tertentu. Dengan begitu, ketika beraksi di sebuah galeri ATM, pelaku telah memiliki kartu cadangan yang sesuai dengan bank yang menjadi sasaran.
Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak lengah ketika menggunakan ATM, terutama saat mesin tiba-tiba mengalami gangguan. Kepanikan dan keinginan untuk segera menyelesaikan masalah dapat dimanfaatkan pelaku untuk menjalankan aksinya.
Selain tidak menerima bantuan dari orang asing, masyarakat juga perlu segera menghubungi pihak bank jika kartu tertahan. Warga sebaiknya tidak memberikan PIN kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku ingin membantu.
Kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mencegah rekening dibobol melalui modus ganjal ATM. Dengan mengenali pola kejahatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah terjebak ketika bertransaksi di mesin ATM.






