KabarJakarta.com — Puluhan ribu orang datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (12/9), membawa warna, nyanyian, dan kebanggaan masing-masing.
Ada yang datang untuk Persija Jakarta. Ada pula yang berdiri di belakang Persib Bandung.
Di atas lapangan, keduanya tetap menjadi rival. Setiap tekel, serangan, dan peluang bisa memancing sorakan. Namun, ada kesepakatan tidak tertulis yang jauh lebih penting: pertandingan harus selesai sebagai pertandingan, bukan berubah menjadi konflik di luar stadion.
Itulah yang berusaha dijaga dalam pertemuan Persija dan Persib pada pekan kedua BRI Super League 2026/2027.
Laga yang selama ini identik dengan rivalitas tinggi tersebut berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Tidak hanya pemain dan perangkat pertandingan yang menjalankan perannya. Suporter juga mengambil bagian penting dalam menjaga suasana.
Polda Metro Jaya bahkan memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut memastikan pertandingan berlangsung tanpa gangguan berarti.
“Pertandingan berjalan aman dan tertib. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bersama-sama menjaga pertandingan, sekaligus menjaga Jakarta tetap aman dan kondusif,” kata Kombes Pol. Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya di Jakarta, Sabtu (12/9).
Rivalitas tak harus jadi permusuhan
Persija dan Persib bukan sekadar dua klub sepak bola.
Pertemuan keduanya membawa sejarah rivalitas panjang. Di tribun, identitas klub menjadi bagian dari kebanggaan. The Jakmania dengan Persija, sementara Bobotoh berdiri bersama Persib.
Tetapi perbedaan itu tidak harus berujung pada permusuhan.
Pesan tersebut sudah dibangun sebelum pertandingan.
Kamis (10/9) malam, perwakilan The Jakmania dan Bobotoh di Kota Bekasi duduk bersama dalam Forum Silaturahmi Antarsuporter yang digagas Polres Metro Bekasi Kota.
Tidak ada lapangan hijau dalam pertemuan tersebut. Tidak ada perebutan bola. Yang dibicarakan justru bagaimana dua kelompok yang berbeda warna dapat menjaga hubungan dan mencegah pertandingan menjadi pemicu konflik.
Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol. Putu Kholis Aryana menyebut sepak bola seharusnya menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat.
“Identitas suporter seharusnya tidak menciptakan jarak. Justru melalui kecintaan kepada klub masing-masing, The Jakmania dan Bobotoh bisa memperlihatkan, bahwa sepak bola memiliki kekuatan dalam mempertemukan dan mempersatukan,” terang Putu.
Kesepakatan itu bukan sekadar seremonial. Kedua kelompok suporter sepakat memperkuat komunikasi antarkoordinator, mencegah provokasi, dan meredam narasi destruktif yang dapat memicu ketegangan.
Mereka juga menaruh perhatian pada informasi yang beredar di media sosial.
Di era ketika sebuah video, foto, atau potongan informasi dapat menyebar dalam hitungan menit, provokasi tidak selalu datang dari jalanan. Ia bisa bermula dari layar ponsel.
Karena itu, informasi yang belum terverifikasi diminta tidak langsung dipercaya atau disebarkan. Pesannya sederhana: jangan biarkan informasi palsu mengalahkan akal sehat.
58 ribu penonton, satu tanggung jawab
Laga Persija-Persib kali ini memiliki arti khusus. Pertandingan tersebut kembali digelar di SUGBK setelah sekitar tujuh tahun.
Panitia memperkirakan 58.478 penonton hadir. Pintu stadion dibuka sejak pukul 13.00 WIB, sementara pertandingan dimulai pukul 15.30 WIB.
Jumlah sebesar itu tentu bukan perkara kecil bagi pengamanan.
Polda Metro Jaya menurunkan 17.800 personel gabungan. Mereka terdiri dari unsur TNI, Polri, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta steward stadion.
Pengamanan tidak hanya dilakukan di dalam stadion. Sejumlah ruas jalan di sekitar kawasan GBK juga menjadi perhatian.
Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Simpang Semanggi, Jalan Gerbang Pemuda, Jalan Pintu Satu Senayan, Jalan Gelora, dan Jalan Asia Afrika menjadi jalur yang disiapkan untuk menghadapi peningkatan pergerakan kendaraan.
Kepolisian juga meminta penonton tidak membawa flare, kembang api, petasan, minuman beralkohol, senjata tajam, senjata api, ataupun barang lain yang dapat membahayakan.
Pemeriksaan dilakukan secara ketat bersama panitia dan petugas keamanan. Beberapa kembang api atau petasan memang ditemukan, tetapi berada di luar zona 1, ring 1, dan ring 2 GBK.
Bagi polisi, pertandingan sepak bola harus tetap menjadi hiburan.
“Kita berharap pertandingan ini tetap menjadi hiburan di masyarakat, agar persepakbolaan Indonesia semakin maju,” ujar Kombes Budi.
Peluit panjang bukan akhir pengamanan
Ada satu fase lain yang tidak kalah penting setelah pertandingan: perjalanan pulang.
Puluhan ribu penonton yang keluar hampir bersamaan bisa menciptakan persoalan baru. Jalan yang sebelumnya lancar dapat berubah padat dalam waktu singkat.
Karena itu, Polda Metro Jaya tidak membiarkan penonton keluar secara serentak. Kepulangan diatur secara bertahap.
Bus yang menuju wilayah DKI Jakarta diprioritaskan lebih dahulu. Setelah kondisi lalu lintas memungkinkan, bus menuju wilayah aglomerasi seperti Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi akan menyusul.
Personel lalu lintas disebar di titik-titik yang berpotensi mengalami kepadatan. Budi meminta penonton tidak terburu-buru meninggalkan kawasan GBK.
“Pengaturan kepulangan dilakukan secara bertahap, agar pergerakan kendaraan lebih tertata dan tidak terjadi penumpukan di waktu yang bersamaan,” katanya.
Yang juga penting, suporter diminta tidak melakukan konvoi bersama. Konvoi dalam jumlah besar tidak hanya berisiko mengganggu lalu lintas, tetapi juga dapat memunculkan gesekan dengan pengguna jalan lain.
“Ya, kita mengimbau teman-teman dari suporter, maupun penonton, tidak melakukan konvoi secara bersama-sama, mengingat ini juga ada kepentingan untuk masyarakat lainnya,” ujar Budi.
Dengan kata lain, menjadi suporter bukan hanya soal bagaimana mendukung tim selama 90 menit. Ada tanggung jawab yang harus dibawa sampai perjalanan pulang.
Jakarta memberi kesempatan, suporter menjaga kepercayaan
Panitia Pelaksana Persija mengapresiasi seluruh unsur pengamanan yang bekerja sejak sebelum pertandingan hingga laga berakhir.
Club Security Officer (CSO) Panitia Pelaksana Persija, Hiero Paath, menyebut kelancaran pertandingan merupakan hasil kerja bersama.
“Kami berterima kasih sekali kepada seluruh unsur pengamanan. Saya bangga pengamanan hari ini bisa berjalan dengan aman, lancar, dan tidak ada kendala,” ucap Hiero.
Bagi Persija, situasi kondusif tersebut memiliki arti penting.
Kembali digelarnya laga Persija melawan Persib di Jakarta setelah tujuh tahun merupakan sebuah kepercayaan. Kesempatan itu tentu harus dijaga agar pertandingan-pertandingan besar lainnya tetap dapat digelar di ibu kota.
Kepercayaan tersebut bukan hanya berada di tangan aparat. Klub, panitia, pemain, suporter, dan masyarakat memiliki bagian masing-masing.
Jika satu pihak gagal menjaga diri, pertandingan dapat berubah menjadi persoalan keamanan. Sebaliknya, jika semua pihak menahan diri, rivalitas dapat menjadi energi positif bagi sepak bola.
Putu Kholis menyebut laga Persija-Persib sebagai momentum yang harus disambut dengan kedewasaan.
“Mari menyambutnya dengan kedewasaan, dan menjadikan perayaan sepak bola yang membanggakan. Beda warna, kita tetap satu Indonesia,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah rivalitas panjang Persija dan Persib, pesan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar.
Sebab, sepak bola memang membutuhkan fanatisme. Klub membutuhkan suporter yang bernyanyi, berdiri, dan memberikan dukungan sepanjang pertandingan.
Tetapi sepak bola tidak membutuhkan kebencian.
Menjadi Jakmania tidak mengharuskan seseorang memusuhi Bobotoh. Begitu pula menjadi Bobotoh tidak berarti harus memandang Jakmania sebagai musuh.
Rivalitas cukup terjadi di lapangan. Setelah pertandingan selesai, semua kembali menjadi warga yang sama-sama ingin pulang dengan selamat.
Menang kalah, pulang dengan selamat
Pertandingan akhirnya selesai. Stadion yang sejak siang dipenuhi suara dukungan perlahan kembali lengang.
Bagi sebagian penonton, hasil pertandingan mungkin menjadi bahan perbincangan sepanjang perjalanan pulang. Ada yang pulang dengan senyum, ada pula yang membawa kekecewaan.
Namun, ada satu kemenangan yang seharusnya menjadi milik semua pihak: pertandingan berlangsung aman.
Polda Metro Jaya pun menyampaikan apresiasi kepada The Jakmania, Bobotoh, pemain Persib, panitia, steward, TNI, Polri, Pemprov DKI Jakarta, serta seluruh masyarakat yang ikut menjaga kondusivitas.
Budi mengingatkan suporter untuk tetap berhati-hati selama perjalanan dan saling menghormati. “Selamat kembali pulang ke rumah masing-masing. Mari kita jaga Jakarta sehingga tetap aman dan damai,” kata Kombes Budi.
Pesan itu menjadi penutup yang tepat untuk sebuah pertandingan dengan sejarah rivalitas panjang.
Sebab ukuran keberhasilan laga besar bukan hanya siapa yang menang di papan skor. Bukan pula siapa yang paling keras bernyanyi di tribun.
Ukuran keberhasilannya adalah ketika puluhan ribu orang dapat datang tanpa rasa takut, menikmati pertandingan, lalu kembali ke rumah tanpa membawa persoalan baru.
Persija dan Persib boleh tetap menjadi rival. The Jakmania dan Bobotoh boleh tetap berbeda warna.
Tetapi ketika pertandingan selesai, ada satu hal yang seharusnya lebih besar daripada rivalitas: persaudaraan sebagai sesama manusia, sesama warga, dan sesama pecinta sepak bola Indonesia.
