Tak Sekadar Penyangga, Jakarta Mengincar Kembali Mahkota Juara PON

Dalam upaya mengawal dan mendongkrak kejayaan olahraga, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONi) DKI Jakarta, Rabu (7/10), menggelar gathering di Tavia Heritage Hotel, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com —  Jakarta tidak ingin sekadar menjadi kota pendukung penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Status sebagai daerah penyangga justru dijadikan momentum untuk mengembalikan kejayaan olahraga Ibu Kota.

Tekad itu ditegaskan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri gathering persiapan PON Pantai 2026 dan PON 2028 yang digelar KONI DKI Jakarta di The Tavia Heritage Hotel, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pemerintah pusat telah menetapkan Jakarta sebagai daerah penyangga PON 2028 dengan memanfaatkan fasilitas olahraga yang sudah tersedia.

“Jakarta tidak sekadar siap dalam mengambil peran sebagai daerah penyangga penyelenggaraan PON 2028, tetapi juga membawa tekad besar, yakni kembali mengukuhkan diri sebagai juara umum PON,” ujar Pramono di Jakarta, Rabu (7/10).

Peran tersebut bukan tanpa alasan. Jakarta memiliki infrastruktur olahraga, sumber daya atlet, pelatih, serta pengalaman penyelenggaraan berbagai pertandingan berskala nasional dan internasional. Sebagai daerah penyangga, sejumlah pertandingan PON 2028 dapat digelar di Jakarta apabila tidak dapat dilaksanakan di NTB atau NTT. Pemerintah Provinsi DKI juga menyiapkan dukungan berupa venue, transportasi, dan akomodasi.

Namun, ambisi Jakarta untuk kembali menjadi yang terbaik memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan. Prestasi kontingen Ibu Kota menunjukkan bahwa dominasi Jakarta dalam beberapa edisi terakhir belum kembali seperti sebelumnya.

Jakarta terakhir kali menjadi juara umum pada PON XVIII/2012 di Riau. Ketika itu, kontingen Jakarta mengumpulkan 110 medali emas, 101 perak, dan 112 perunggu.

Empat tahun kemudian, posisi Jakarta turun ke peringkat ketiga pada PON XIX/2016 di Jawa Barat. Jakarta mengoleksi 132 emas, 124 perak, dan 118 perunggu. Jawa Barat menjadi juara umum, disusul Jawa Timur.

Pada PON XX/2021 di Papua, Jakarta membaik dengan menempati posisi kedua. Kontingen Ibu Kota meraih 111 emas, 91 perak, dan 99 perunggu.

Tren tersebut berlanjut pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024. Jakarta kembali menjadi runner-up dengan 184 emas, 150 perak, dan 145 perunggu. Jawa Barat masih berada di atas Jakarta sehingga berhasil mempertahankan gelar juara umum untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Artinya, tantangan Jakarta bukan sekadar meningkatkan jumlah medali, melainkan mengejar konsistensi Jawa Barat yang dalam dua edisi terakhir mampu mempertahankan posisi puncak. Karena itu, persiapan menuju 2028 harus dimulai jauh sebelum pertandingan berlangsung.

Pemprov DKI telah menunjukkan dukungan melalui pemberian penghargaan kepada atlet, pelatih dan tenaga pendukung. Setelah PON 2024, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp370,47 miliar untuk penghargaan insan olahraga berprestasi.

Dukungan kebijakan dan anggaran tersebut perlu berjalan beriringan dengan kerja KONI DKI. Ketua Umum KONI DKI Jakarta Hidayat Humaid mengatakan pembinaan menuju PON 2028 sudah dilakukan, antara lain dengan memprioritaskan atlet peraih medali emas dan perak pada PON sebelumnya sebagai fondasi Pelatda.

Bahkan, KONI DKI pada April 2026 mendata sekitar 700 atlet, pelatih dan asisten pelatih untuk memetakan rekam jejak prestasi serta kondisi kesehatan. Data itu menjadi bahan bagi bidang pembinaan prestasi dan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menentukan arah pembinaan.

Di sinilah dukungan DPRD menjadi penting. Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Rani Mauliani menegaskan pembinaan atlet tidak dapat dibebankan kepada KONI semata.

“Tidak mungkin bisa jadi juara jika para atlet tidak disupport oleh banyak pihak,” ujar Rani.

DPRD, menurut Rani, akan terus mendukung pembinaan atlet prestasi yang saat ini dilakukan KONI DKI. Dukungan itu penting agar pembinaan tidak berhenti pada pemberian bonus setelah atlet meraih medali, tetapi diarahkan pada proses panjang sejak pencarian bibit, pelatihan, kompetisi, hingga regenerasi.

Pola pembinaan berkelanjutan menjadi kunci. KONI DKI kini memperkuat Pelatda dengan pemantauan rutin, evaluasi performa dan dukungan sport science. Satgas Pelatda dibentuk untuk memastikan latihan berjalan konsisten dan perkembangan atlet terukur.

Pembinaan juga perlu diperluas ke usia muda. Kerja sama KONI dengan Dinas Pendidikan DKI diarahkan untuk menyelaraskan pembinaan atlet pelajar dengan pendidikan formal. Dengan cara itu, Jakarta tidak hanya mengandalkan atlet yang sudah matang, tetapi memiliki regenerasi yang terencana.

PON Pantai 2026 di Ancol menjadi salah satu ujian awal. Ajang tersebut akan digunakan untuk menguji kemampuan penyelenggaraan sekaligus memetakan kekuatan atlet Jakarta sebelum menuju PON 2028.

Ketua Dewan Pembina KONI DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi pun mengajak seluruh pemangku kepentingan menyatukan dukungan.

“Mari kita jadikan Jakarta sebagai juara,” ujarnya.

Dengan fasilitas yang relatif lengkap, dukungan pemerintah, pengawasan DPRD dan sistem pembinaan yang mulai dibangun sejak dini, target juara umum 2028 memiliki modal yang cukup. Tetapi modal tersebut baru akan berarti jika dikelola secara konsisten.

Bagi Jakarta, status sebagai kota penyangga bukan sekadar soal menyediakan venue. PON 2028 harus menjadi proyek bersama untuk membuktikan bahwa Ibu Kota masih mampu menjadi kekuatan utama olahraga nasional.

Exit mobile version