KabarJakarta.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat upaya menciptakan lingkungan yang ramah anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Bersama Kementerian Komunikasi dan Digital serta pihak swasta, Pemprov menghadirkan LapakMain Corner di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tunas Muda, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Fasilitas tersebut dirancang sebagai ruang publik yang tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga mendukung anak-anak belajar, membaca, berkreasi, dan mengenal teknologi secara sehat. Kehadiran LapakMain Corner diharapkan mampu membantu anak menjaga keseimbangan antara aktivitas di dunia digital dan interaksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, menjelaskan ruang publik seperti ini memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak di era digital yang semakin kompleks.
“Fasilitas ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk tetap berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, sehingga tercipta keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata,” ujar Dwi dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (4/5).
Menurut Dwi, LapakMain Corner dilengkapi berbagai sarana yang mendukung aktivitas belajar sekaligus bermain. Di dalamnya tersedia buku bacaan, permainan edukatif, hingga fasilitas literasi digital yang dirancang untuk membantu anak membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Ia menjelaskan, ruang bermain tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat rekreasi semata. Lebih dari itu, ruang tersebut menjadi sarana bagi anak untuk mengembangkan kreativitas, membentuk karakter, meningkatkan kemampuan berpikir, serta melatih keterampilan bersosialisasi dengan teman sebaya.
Karena itu, Pemprov DKI Jakarta berharap LapakMain Corner dapat menjadi contoh kolaborasi yang nantinya bisa diterapkan di berbagai RPTRA lainnya di Jakarta. Dengan semakin banyak ruang publik yang mendukung aktivitas anak, kesempatan mereka untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif juga akan semakin besar.
Dwi juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak saat mengakses internet. Menurutnya, perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan risiko yang tidak bisa diabaikan.
Beberapa ancaman yang kini semakin sering dihadapi anak antara lain perundungan siber (cyberbullying), paparan konten yang tidak sesuai usia, penyalahgunaan data pribadi, hingga penggunaan gawai secara berlebihan yang dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.
Oleh sebab itu, keberadaan ruang publik yang mendorong anak untuk membaca, bermain, berkreasi, dan berinteraksi secara langsung menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat perlindungan anak di era digital.
“Membangun kota ramah anak tidak cukup hanya dengan menyediakan infrastruktur. Yang lebih penting adalah menghadirkan lingkungan yang aman, mendukung kreativitas, dan memberi kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh sesuai potensinya,” kata Dwi.
Ia menambahkan, upaya melindungi anak tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendirian. Diperlukan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga dunia usaha agar anak-anak dapat tumbuh di lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan mereka.
Hal senada disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komunikasi dan Digital, Bonifasius Wahyu Pudjianto. Menurutnya, pemerintah telah memiliki landasan hukum yang kuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS.
Regulasi tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman bagi anak, termasuk mengatur kepemilikan akun media sosial berdasarkan batas usia.
Meski demikian, Wahyu menilai keberhasilan regulasi tersebut tetap bergantung pada keterlibatan seluruh pihak. Menurutnya, keluarga memiliki peran utama dalam mendampingi anak saat menggunakan perangkat digital, sementara sekolah, masyarakat, dan pelaku usaha juga harus ikut menciptakan lingkungan digital yang aman.
“Literasi digital bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran, karakter, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk, Natalia Firmansyah, mengungkapkan pihaknya mendukung penuh kolaborasi tersebut sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Natalia, inovasi teknologi seharusnya tidak hanya berfokus pada pengembangan produk digital, tetapi juga mampu memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus.
Melalui program LapakMain Corner, Bukalapak ingin berkontribusi dalam memperkuat literasi digital, meningkatkan perlindungan anak, sekaligus memberdayakan masyarakat melalui penyediaan ruang publik yang edukatif dan inklusif.
“Melalui inisiatif LapakMain Corner, kami berkomitmen mendukung literasi digital, perlindungan anak, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Natalia.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemprov DKI Jakarta, dan sektor swasta ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak. Dengan menghadirkan ruang publik yang aman, edukatif, dan ramah anak, Jakarta berupaya memastikan generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa kehilangan kesempatan untuk belajar, bermain, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitarnya.






