Saat Sumur Mulai Mengering, Warga Jaksel Mulai Bergantung pada Air Bantuan

BPBD Jakarta Selatan sudah menyalurkan sebanyak 44.000 liter air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan akibat kemarau kepanjangan. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Musim kemarau mulai mengubah keseharian sebagian warga Jakarta Selatan. Di sejumlah kawasan, air sumur yang selama ini menjadi sumber utama perlahan menyusut. Sebagian warga bahkan harus berhadapan dengan air yang berubah keruh.

Kondisi itu salah satunya terjadi di RW 12, Kelurahan Cilandak Barat, Kecamatan Cilandak. Berada di wilayah dataran tinggi membuat sejumlah sumur warga mengalami penurunan debit saat kemarau berlangsung panjang.

Di RT 05, persoalannya mulai terasa lebih nyata. Air sumur warga berkurang, sementara kualitasnya juga menurun. Air yang sebelumnya dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari menjadi keruh.

Pemerintah setempat kemudian mengambil langkah antisipasi dengan mendatangkan air bersih untuk warga.

Pada Rabu, 16 September 2026, BPBD Jakarta Selatan bersama PAM Jaya menyalurkan air bersih ke kawasan tersebut. Satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter dikerahkan untuk mengisi tempat penampungan milik warga.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua rumah memiliki tempat penyimpanan air yang memadai.

Sebagian warga memiliki toren dengan kapasitas sekitar 500 hingga 1.000 liter. Warga lainnya harus memanfaatkan ember dan galon air mineral untuk menampung air yang diterima.

Lurah Cilandak Barat Muhamad Yusuf Rajab menjelaskan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi potensi krisis air selama musim kemarau.

“Fokus penanganan ada di RT 05 karena memang air warga berkurang dan kondisinya keruh,” ujar Yusuf, Rabu (16/9).

Kekeringan mulai menyebar

Persoalan serupa tidak hanya terjadi di Cilandak Barat. BPBD Jakarta Selatan mencatat warga di sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Hingga Sabtu, 19 September 2026, BPBD mencatat sebanyak 195 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan. Mereka tersebar di enam kelurahan dan 23 RT.

Jagakarsa menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling banyak. Sebanyak 105 KK tercatat mengalami kekurangan air bersih akibat kemarau.

Kepala Satuan Tugas BPBD Wilayah Jakarta Selatan Sukendar mengungkapkan perihal pendataan yang dilakukan bersama pemerintah kota, kelurahan, serta pengurus lingkungan. Data yang mereka kumpulkan digunakan untuk melihat wilayah yang membutuhkan penanganan dan menentukan kebutuhan air di lapangan.

Menurut Sukendar, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau sesuai instruksi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Dalam waktu kurang dari sepekan, total 44.000 liter air bersih telah disalurkan kepada warga terdampak di Jakarta Selatan.Bagi warga yang menghadapi kekurangan air, bantuan tersebut menjadi penyangga sementara di tengah berkurangnya sumber air dari sumur.

Tantangan di kawasan yang belum terjangkau pipa

Kondisi Cilandak Barat juga menunjukkan persoalan lain dalam penyediaan air bersih di Jakarta. Tidak semua wilayah sudah terhubung dengan jaringan perpipaan PAM Jaya.

Supervisor Area Bisnis Darmawangsa PAM Jaya Linceria Napitupulu membeberkan RW 12 Cilandak Barat saat ini belum masuk dalam jaringan perpipaan PAM Jaya. Karena itu, pemenuhan kebutuhan air warga masih membutuhkan pola pelayanan alternatif, termasuk penyediaan melalui mobil tangki.

PAM Jaya menargetkan cakupan layanan perpipaan mencapai 100 persen di seluruh Jakarta pada 2029. Sambil memperluas jaringan, PAM Jaya juga merencanakan penempatan toren di sejumlah titik penting di kawasan Cilandak Barat.

“Keberadaan tempat penyimpanan tersebut, diharapkan dapat membantu warga menghadapi kondisi ketika pasokan air berkurang,” paparnya.

Persoalan air bersih juga tidak semata-mata soal ketersediaan pasokan. Penggunaan air secara hemat menjadi penting, terutama ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Untuk itu, warga diimbau menggunakan air seperlunya. Masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih diminta segera melapor melalui layanan Jakarta Siaga 112 atau menyampaikannya kepada pengurus RT dan RW setempat.

Jangan tunggu sampai krisis

BPBD Jakarta Selatan memastikan pemantauan terhadap wilayah terdampak akan terus dilakukan. Kebutuhan warga akan diperiksa secara berkala agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Petugas dipastikan tetap bersiaga apabila masyarakat kembali membutuhkan bantuan air. “Kami siap, apabila ada warga yang butuh air bersih. Petugas BPBD siaga melayani masyarakat selama 24 jam,” ujar Sukendar.

Khusus masyarakat yang masih mengandalkan sumur bor, diminta untuk memastikan sumber airnya tetap berfungsi. Hal ini terutama penting bagi kawasan yang belum terjangkau jaringan perpipaan.

Sementara itu, PAM Jaya turut mengingatkan warga agar memperhatikan keamanan air sebelum dikonsumsi. Air yang berasal dari tangki maupun jaringan pipa lama sebaiknya dimasak terlebih dahulu.

Kemarau akhirnya bukan hanya soal panas yang lebih panjang. Bagi warga yang bergantung pada sumur, kemarau berarti harus menghitung kembali penggunaan air setiap hari.

Ketika debit sumur menurun dan air mulai keruh, kebutuhan paling sederhana di rumah pun bisa berubah menjadi persoalan serius. Karena itu, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi, sementara warga dituntut lebih hemat dan peduli terhadap ketersediaan air di lingkungannya.

Di tengah musim kemarau yang belum berakhir, setiap liter air menjadi semakin berarti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *