KabarJakarta.com — Bangunan tua tidak selalu harus menjadi sekadar penanda masa lalu. Di Pasar Hexagon, Penjaringan, Jakarta Utara, pemerintah mencoba memberi kehidupan baru pada kawasan tersebut dengan menjadikannya ruang publik yang mempertemukan sejarah, seni, budaya, dan ekonomi kreatif.
Upaya itu diwujudkan melalui Pasar Hexagon The Nusantara Port Market yang digelar pada 14–15 Agustus 2026. Kegiatan yang digagas Suku Dinas Kebudayaan Kota Jakarta Utara tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan seni sekaligus melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sebanyak 53 UMKM binaan dari 6 (enam) pengampu di Jakarta Utara ikut meramaikan kegiatan. Produk yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari makanan, minuman, kerajinan tangan hingga berbagai produk kreatif.
“Sebanyak 53 UMKM binaan 6 pengampu di Jakarta Utara, ambil bagian dengan beragam makanan, minuman, kerajinan, hingga produk kreatif akan ditawarkan kepada masyarakat dengan konsep yang dekat dan terjangkau,” kata Dya Perwita Kusuma, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara di Jakarta, Jumat (14/8).
Menurut Dya, gagasan mengaktifkan kembali Pasar Hexagon muncul karena kawasan tersebut memiliki potensi besar. Salah satunya adalah karakter bangunan yang dinilai memiliki nilai sejarah dan daya tarik tersendiri.
“Pasar Hexagon memiliki bangunan yang luar biasa, dan menjadi aset yang belum tentu bisa dimiliki oleh pemerintah daerah lain,” ujarnya.
Namun, potensi tersebut selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ruang publik di kawasan Pasar Hexagon masih relatif kosong dan belum banyak digunakan masyarakat.
Karena itu, pemerintah memilih pendekatan berbeda. Pasar Hexagon tidak hanya dihidupkan melalui aktivitas perdagangan, tetapi juga lewat kegiatan seni dan budaya yang dapat mengundang masyarakat datang dan berinteraksi.
“Tapi di sisi lain, ruang publik yang ada di lokasi masih kosong, karena itu kami ingin mengaktifkannya, melalui kegiatan ekspresi seni budaya sekaligus ekonomi budaya,” ungkap Dya.
Ia menilai Pasar Hexagon memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu destinasi budaya baru di Jakarta Utara. Keberadaan bangunan dengan karakter khas serta lokasinya yang berada di kawasan pesisir menjadi modal penting untuk mewujudkan gagasan tersebut.
Pengembangan kawasan juga dilakukan melalui kolaborasi. Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara bekerja bersama Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Utara, serta sejumlah pihak lainnya.
“Ini gotong royong dan kami mengembangkan Pasar Hexagon sebagai destinasi budaya baru yang bisa dinikmati masyarakat sekitar, maupun wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” ujar Dya.
Ke depan, Pasar Hexagon diharapkan dapat masuk dalam jalur wisata pesisir Jakarta Utara. Wisatawan dapat menyusuri kawasan Kota Tua, kemudian menuju Museum Bahari dan Masjid Luar Batang sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasar Hexagon.
Di tempat itu, pengunjung tidak hanya dapat menikmati suasana kawasan bersejarah, tetapi juga mencicipi makanan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.
“Di sini juga ada makanan khas Betawi, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. Jadi kuliner-kuliner tersebut sebenarnya punya fungsi untuk melestarikan makanan tradisional,” kata Dya.
Salah satu yang menarik perhatian adalah burdong, kuliner khas Betawi yang semakin sulit ditemukan. Hidangan tersebut merupakan olahan daging burung rawa dan kulit pohon kedondong.
“Bahkan ada kuliner Betawi yang sudah hampir punah, yaitu burdong. Jadi ini bukan sekadar jualan makanan, tetapi bagian dari upaya melestarikan kuliner tradisional,” tutur Dya.
Dengan konsep tersebut, Pasar Hexagon perlahan diarahkan bukan sekadar menjadi tempat transaksi. Kawasan tersebut diharapkan tumbuh sebagai ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini—tempat sejarah tetap terjaga, budaya terus dipentaskan, dan pelaku ekonomi kreatif mendapat ruang untuk berkembang.






