KabarJakarta.com – Nama Adam Malik selama ini lebih sering melekat pada dunia politik, diplomasi, dan jurnalistik. Ia dikenal sebagai aktivis anti-kolonial, wartawan, salah satu pendiri Kantor Berita ANTARA, diplomat, hingga Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1978-1983. Namun, ada sisi lain dari sosok Adam Malik yang mungkin belum banyak diketahui: kecintaannya pada seni lukis.
Kecintaan itu tidak sekadar menjadi kegemaran seorang kolektor. Bagi Adam Malik, lukisan merupakan bagian dari perjalanan bangsa. Ia melihat karya seni sebagai rekaman zaman yang mampu menyimpan gagasan, keresahan, tradisi, hingga semangat perjuangan masyarakat Indonesia.
“…perhatian saya terhadap seni lukis nasional, yang berawal sebelum masa kemerdekaan pun, telah senantiasa terdorong bukan saja oleh apresiasi dari segi seni saja, tapi juga karena kesadaran betapa vitalnya daya seni lukis itu sebagai salah satu ekspresi cita-cita perjuangan nasional bangsa Indonesia dari zaman ke zaman,” kata Adam Malik dalam buku Lukisan-lukisan Koleksi Adam Malik, Wakil Presiden Republik Indonesia yang diterbitkan pada 1978.
Pandangan tersebut kini kembali menemukan ruang untuk dibaca publik melalui pameran “The Adam Malik Collection” di Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) Jakarta. Pameran yang berlangsung pada 15-23 Agustus 2026 itu memperlihatkan bagaimana seorang tokoh politik membangun hubungan yang erat dengan dunia seni dan para pelukis Indonesia.
Kurator Farah Wardani dan Amir Sidharta menghadirkan 22 lukisan dari koleksi Adam Malik. Pameran ini sekaligus menandai 50 tahun sejak berdirinya Balai Seni Rupa Jakarta, pendahulu Museum Seni Rupa dan Keramik, yang dibuka pada 20 Agustus 1976.
Koleksi Adam Malik tidak lahir dari ruang yang terpisah dari kehidupan sosial. Sejak 1949, ia mulai membangun koleksi lukisannya melalui jaringan persahabatan dengan para seniman. Salah satu hubungan penting adalah persahabatannya dengan S Sudjojono sejak 1940-an. Sudjojono dikenal sebagai salah satu tokoh penting seni rupa modern Indonesia dan kerap disebut sebagai “Bapak Seni Lukis Indonesia Modern”.
Adam Malik juga bergaul dengan para seniman dari berbagai kelompok seni, seperti Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), Seniman Indonesia Muda (SIM), Pelukis Rakyat, hingga seniman yang berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Hubungan personal tersebut membuat koleksi yang dikumpulkan Adam Malik memiliki karakter tersendiri. Lukisan-lukisan yang dimilikinya bukan sekadar benda bernilai estetis, tetapi juga menyimpan hubungan antara seni, kehidupan sosial, sejarah, dan politik.
Salah satu karya yang paling kuat menggambarkan hubungan tersebut adalah “Maka Lahirlah Angkatan 66” karya S Sudjojono. Lukisan itu dibuat di tengah pergolakan politik 1966, ketika Jakarta dipenuhi demonstrasi mahasiswa, slogan, grafiti, serta tuntutan perubahan.
Di dalam lukisan tersebut tampak seorang pemuda mengenakan jaket merah sambil menggenggam kaleng cat. Ia dikelilingi tulisan-tulisan bernada protes yang merujuk pada situasi politik kala itu. Identitas pemuda tersebut sengaja dibuat tidak jelas. Ketidakjelasan itu justru membuka ruang bagi penafsiran tentang perubahan, harapan, sekaligus ketidakpastian sebuah zaman.
Karya tersebut menjadi istimewa karena merupakan satu-satunya sekaligus lukisan terakhir Sudjojono yang secara langsung menggunakan narasi yang merujuk pada situasi politik faktual Indonesia.
Namun, koleksi Adam Malik tidak hanya berbicara tentang politik. Ada pula lukisan yang membawa penonton masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat dan pergulatan antara tradisi dengan modernitas.
“Pasar Hewan” karya Roeliati Soewarjono, misalnya, menggambarkan kehidupan masyarakat agraris Indonesia. Pasar dalam lukisan tersebut bukan hanya tempat transaksi jual beli ternak. Ia menjadi ruang pertemuan petani dan peternak, tempat orang berbincang, membangun hubungan sosial, dan menjaga kehidupan komunitas.
Sementara itu, karya “Sesaji” 1968 ciptaan Rusli membawa perhatian pada hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual. Lukisan tersebut mengangkat tradisi persembahan yang dilakukan dengan menghanyutkan sesaji ke laut, sungai, atau telaga di sejumlah wilayah Jawa.
Nuansa tradisi juga terlihat dalam “Pengantin Mandailing I” 1970 karya Batara Lubis. Lukisan tersebut menggambarkan sepasang pengantin Mandailing, etnis yang juga menjadi latar belakang sang pelukis. Batara Lubis memadukan unsur tradisional dengan bahasa visual modern sehingga tradisi tidak sekadar menjadi objek, tetapi menjadi sumber kekuatan seni rupa Indonesia modern.
Karya itu merupakan bagian dari seri “Pengantin Mandailing” yang menjadi salah satu ciri khas Batara Lubis. Dua karya dari seri tersebut pernah dikoleksi Adam Malik dan kemudian dihibahkan kepada Balai Seni Rupa Jakarta, yang kini menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.
Ada pula “Dewi” 1962 karya Agus Djaya. Sosok perempuan dalam lukisan tersebut mengenakan busana dan perhiasan yang terinspirasi dari relief candi Hindu-Buddha di Jawa. Karya itu seakan mempertemukan sejarah, spiritualitas, dan seni modern dalam satu bidang kanvas.
Sejumlah karya dalam pameran ini sebelumnya pernah ditampilkan dalam pameran “Se-Abad Seni Rupa Indonesia” pada 1976. Pameran tersebut menghimpun 131 karya dari koleksi publik dan swasta, termasuk 15 karya dari Koleksi Adam Malik.
Kini, setengah abad kemudian, karya-karya tersebut kembali mengajak publik membaca masa lalu. Ada politik, demonstrasi, kehidupan pasar, ritual, tradisi, dan identitas yang tertinggal dalam sapuan kuas para seniman.
Melalui koleksinya, Adam Malik menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu harus dibaca melalui dokumen politik atau arsip pemerintahan. Sejarah juga dapat ditemukan dalam lukisan.
Kanvas-kavas tersebut menyimpan wajah Indonesia yang pernah hidup: Indonesia yang sedang berubah, mencari identitas, berhadapan dengan pergolakan politik, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga tradisi dan kehidupan sehari-hari.
Di situlah arti penting The Adam Malik Collection. Pameran ini bukan sekadar melihat lukisan lama. Ia menjadi kesempatan untuk menengok kembali perjalanan Indonesia melalui mata para seniman dan seorang kolektor yang percaya bahwa seni memiliki kekuatan untuk merekam denyut bangsanya.






