KabarJakarta.com – Jauh sebelum pesawat terbang membuat perjalanan ke Tanah Suci dapat ditempuh dalam hitungan jam, calon jemaah haji dari Nusantara harus menempuh perjalanan panjang dengan kapal laut. Mereka berangkat dari pelabuhan, menghadapi gelombang laut selama berminggu-minggu, lalu singgah di sejumlah tempat sebelum benar-benar tiba di Makkah. Salah satu titik penting dalam perjalanan panjang itu berada di sebuah pulau kecil di perairan Kepulauan Seribu: Pulau Onrust.
Jejak perjalanan tersebut kini kembali dihadirkan melalui Pameran Temporer Museum Arkeologi Onrust Tahun 2026 bertajuk “Dari Batavia ke Baitullah: Memori Haji Masa Silam”. Pameran yang berlangsung pada 21 Agustus 2026 hingga 1 Januari 2027 itu mengajak pengunjung melihat kembali bagaimana perjalanan ibadah haji dilakukan pada masa ketika kapal laut menjadi sarana transportasi utama.
Pulau Onrust berada di Kelurahan Pulau Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Bagi banyak orang, pulau ini mungkin lebih dikenal sebagai kawasan wisata sejarah dengan reruntuhan bangunan kolonial. Namun, di balik tembok-tembok tua dan pondasi yang tersisa, Onrust menyimpan cerita yang jauh lebih panjang, termasuk kisah perjalanan jamaah haji dari Nusantara menuju Tanah Suci.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspemkesra) Kabupaten Kepulauan Seribu Purnomo menjelaskan peran penting pameran dalam memberikan dampak positif dalam memperkenalkan lebih jauh tentang sejarah Pulau Onrust.
“Pameran ini membawa kita melihat perjalanan haji lebih luas. Karena ini bukan hanya perjalan spiritual, tapi perjalanan panjang mempertemukan budaya bangsa dan pengetahuan,” ujar Purnomo di Jakarta, Jumat (22/8).
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa perjalanan haji pada masa lalu bukan sekadar perjalanan keagamaan. Jalur laut yang ditempuh para jamaah juga menjadi bagian dari sejarah pertemuan manusia, budaya, perdagangan, kesehatan, dan pengetahuan antara Nusantara dengan kawasan lain.
Sejarah panjang
Pada awal abad ke-20, Pulau Onrust memiliki fungsi yang sangat penting dalam sistem perjalanan haji. Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Mis Ari, menjelaskan bahwa pada 1911-1933, pulau tersebut digunakan sebagai Pusat Karantina Haji pada masa Pemerintah Hindia Belanda, baik bagi jamaah sebelum berangkat maupun setelah kembali dari Tanah Suci.
Artinya, perjalanan para jamaah tidak berhenti ketika kapal meninggalkan pelabuhan. Ada tahapan pemeriksaan dan karantina yang harus dilalui. Setelah perjalanan laut yang panjang, jamaah yang kembali ke Batavia juga tidak serta-merta dapat pulang ke daerah masing-masing. Mereka harus menjalani proses karantina untuk mencegah penyebaran penyakit.
Di sinilah posisi Onrust menjadi penting. Pulau tersebut bukan sekadar tempat singgah, tetapi menjadi bagian dari sistem pengawasan kesehatan jamaah haji yang menggunakan kapal laut.
“Melalui pameran ini, pengunjung diajak menelusuri jejak panjang perjalanan para jamaah haji nusantara menuju Tanah Suci,” kata Purnomo.
Kisah itu menjadi semakin menarik karena perjalanan laut pada masa tersebut memiliki tantangan yang jauh berbeda dengan perjalanan haji sekarang. Kapal menjadi ruang hidup sementara bagi para jamaah. Mereka harus bertahan dalam perjalanan panjang dengan kondisi yang terbatas. Laut menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman spiritual tersebut.
Pulau Onrust kemudian menjadi salah satu titik yang memperlihatkan bagaimana perjalanan haji mulai dikelola secara lebih teratur. Keberadaan fasilitas karantina menunjukkan bahwa mobilitas jamaah dalam jumlah besar juga berkaitan erat dengan persoalan kesehatan dan administrasi pemerintahan.
Pusat aktivitas maritim VOC
Tidak banyak yang mengetahui bahwa sejarah Onrust sendiri jauh lebih tua daripada fungsi karantina haji. Pulau ini pernah menjadi salah satu pusat aktivitas maritim penting VOC. Pada 1615, VOC mendirikan galangan kapal dan gudang di pulau tersebut. Beberapa tahun kemudian, pada 1618, Onrust juga digunakan sebagai bagian dari sistem pertahanan.
Nama Onrust dalam bahasa Belanda berarti “tidak pernah beristirahat”. Nama tersebut terasa cocok dengan sejarah pulau yang sejak berabad-abad lalu menjadi tempat kapal datang dan pergi, aktivitas perdagangan berlangsung, serta berbagai kepentingan pemerintahan kolonial dijalankan. Ada pula sumber yang menyebut Onrust dikenal masyarakat sekitar sebagai Pulau Kapal, karena kapal-kapal Belanda kerap mendatanginya sebelum menuju Batavia.
Jejak masa lalu itu kini tidak semuanya hadir dalam bentuk bangunan utuh. Banyak yang tinggal berupa reruntuhan dan pondasi. Namun, justru dari sisa-sisa tersebut pengunjung dapat membaca lapisan sejarah Pulau Onrust.
Data koleksi Museum Taman Arkeologi Onrust mencatat keberadaan sejumlah peninggalan yang berkaitan langsung dengan aktivitas karantina haji, antara lain 10 pondasi barak karantina haji dan sebuah bak mandi jamaah haji. Selain itu terdapat pula rumah dokter, rumah sakit, reservoir air, serta berbagai struktur lain yang menggambarkan aktivitas di kawasan tersebut.
Jejak perjalanan haji juga tidak hanya berada di Onrust. Pulau Cipir yang berada di dekatnya memiliki hubungan erat dengan sistem karantina tersebut. Pada periode yang sama, Pulau Cipir digunakan sebagai rumah sakit untuk perawatan dan karantina penyakit menular bagi jamaah haji. Di pulau itu juga terdapat dermaga yang dahulu digunakan untuk kapal-kapal berukuran besar.
Karena itu, sejarah haji di kawasan Onrust sebenarnya tidak berdiri sendiri. Onrust dan pulau-pulau di sekitarnya membentuk sebuah jaringan maritim yang menjadi bagian dari perjalanan jamaah dari Nusantara.
Dari Batavia ke Baitullah
Pameran “Dari Batavia ke Baitullah” mencoba menghidupkan kembali cerita tersebut melalui koleksi, artefak, arsip, foto, dan narasi sejarah. Pameran ini dikembangkan bersama sejumlah lembaga, termasuk Sultanate of Oman, Ministry of Heritage and Tourism of the Sultanate of Oman, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Indonesia, UHAMKA, Universitas Tarumanagara, dan UNUSIA.
“Melalui koleksi, artefak, arsip, foto, dan narasi sejarah, pameran ini berupaya menghidupkan kembali memori perjalanan haji masa silam sekaligus memperkenalkan peran strategis Pulau Onrust dalam jaringan sejarah maritim dan penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia,” ujar Mis Ari.
Bagi pengunjung, pameran ini bukan sekadar kesempatan melihat benda-benda tua. Ia menawarkan cara berbeda untuk memahami perjalanan haji. Sebelum pesawat terbang menghubungkan Jakarta dan Jeddah dalam waktu singkat, laut menjadi jalan panjang yang harus ditempuh para jamaah.
Di tengah laut itulah perjalanan spiritual bertemu dengan sejarah maritim. Kapal menjadi sarana menuju Tanah Suci, sementara Pulau Onrust menjadi salah satu titik penting yang mengatur dan mengawasi perjalanan tersebut.
Kini, suara kapal-kapal masa lalu memang telah menghilang dari perairan Onrust. Yang tersisa adalah reruntuhan, pondasi, arsip, dan cerita. Namun, melalui pameran tersebut, kisah para jamaah yang dahulu menempuh lautan panjang menuju Baitullah kembali mendapat ruang untuk diceritakan.
Pulau yang dahulu “tidak pernah beristirahat” itu akhirnya menjadi ruang untuk mengingat bahwa perjalanan haji Indonesia memiliki sejarah yang panjang—dan sebagian jejaknya masih dapat dibaca di sebuah pulau kecil di utara Jakarta.






