Targetkan 650 Ribu Warga, Jakarta Selatan Perluas Cek Kesehatan Gratis dan Skrining TB

Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo meninjau jalannya kegiatan CKG yang terintegrasi dengan skrining tuberkulosis (TB) di RPTRA Kampung Perigi, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Pemkot Jaksel

KabarJakarta.comPemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menargetkan sekitar 650 ribu warga menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2026. Program tersebut sekaligus menjadi pintu masuk untuk memperluas skrining tuberkulosis (TB), penyakit menular yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat.

Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menjelaskan pemeriksaan kesehatan tidak cukup hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Pemerintah perlu mendekatkan layanan kepada warga agar semakin banyak masyarakat yang bersedia memeriksakan kondisi kesehatannya sejak dini.

“Target kami tahun ini sebanyak 650.000 warga dapat dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan,” kata Syafrin di RPTRA Kampung Perigi, Jakarta, Selasa (1/9).

Menurut Syafrin, integrasi CKG dengan skrining TB menjadi langkah penting karena pemeriksaan dini dapat membantu menemukan kasus sebelum berkembang lebih jauh. Langkah ini juga diharapkan mampu memutus rantai penularan TB di tengah masyarakat.

Pemeriksaan didekatkan ke permukiman

TB tidak hanya berdampak kepada orang yang mengalaminya. Penyakit tersebut dapat menular kepada orang lain, terutama ketika kasus tidak segera diketahui dan ditangani.

Syafrin menilai kondisi itu membuat penanganan TB tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan kesehatan individu.

“TB bukan hanya persoalan kesehatan, tapi juga menyangkut persoalan masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seorang pasien TB yang tidak teridentifikasi dengan baik berpotensi menularkan penyakit tersebut kepada anggota keluarga maupun orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Jakarta Selatan melalui Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan menyiapkan 631 titik lokasi pemeriksaan yang tersebar di sejumlah wilayah.

Lokasi pemeriksaan tidak hanya berada di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya. Pemerintah juga memanfaatkan ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, termasuk Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan warga yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.

Setiap titik pemeriksaan ditargetkan mampu menjangkau sekitar 100 warga. Jika cakupan tersebut berjalan sesuai rencana, ribuan warga dapat memperoleh pemeriksaan kesehatan tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke fasilitas kesehatan.

Deteksi dini jadi kunci

Bagi pemerintah, CKG bukan sekadar pemeriksaan kesehatan rutin. Program ini menjadi kesempatan untuk mengetahui lebih awal apakah seseorang memiliki masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan.

Begitu pula dengan skrining TB. Warga yang menunjukkan potensi terinfeksi dapat segera diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lanjutan sesuai prosedur.

“Melalui kegiatan cek kesehatan gratis yang dikombinasikan dengan penanggulangan TB, kita bisa langsung mengidentifikasi seta kemudian memberikan penanganan tindak lanjut,” terang Syafrin.

Upaya tersebut membutuhkan partisipasi masyarakat. Pemerintah kota tidak ingin program hanya berjalan di tingkat layanan kesehatan, sementara warga yang menjadi sasaran justru tidak memanfaatkannya.

Untuk itu, camat dan lurah digerakkan bersama RT, RW, kader Posyandu hingga Dasawisma untuk menyampaikan informasi mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan dan skrining TB.

Syafrin mengajak masyarakat tidak menunggu sampai muncul keluhan atau kondisi kesehatan semakin berat. Menurut dia, pemeriksaan sejak awal memberi kesempatan lebih besar untuk memperoleh penanganan secara tepat.

“Jauh lebih baik kita melakukan pemeriksaan sejak dini. Jika ada potensi TB, penanganan bisa dilakukan secara serius, dan lengkap sesuai prosedur yang ada,” katanya.

Melalui perluasan akses tersebut, Pemkot Jakarta Selatan berharap warga semakin terbiasa memeriksa kesehatan secara berkala. Target 650 ribu pemeriksaan pada 2026 bukan hanya soal angka, tetapi juga upaya menemukan penyakit lebih cepat agar penanganannya tidak terlambat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *