KabarJakarta.com — Menjadi relawan kemanusiaan bukan sekadar soal keinginan membantu orang lain. Di lapangan, seorang relawan dituntut mampu mengambil keputusan, bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan berbagai pihak, hingga memberikan pertolongan dalam situasi darurat.
Hal itulah yang menjadi bekal 21 anggota Korps Sukarela (KSR) Angkatan XVI Tahun 2026 Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Selatan. Mereka baru saja menyelesaikan pendidikan dan latihan dasar sebagai bagian dari persiapan sebelum terjun dalam berbagai kegiatan kemanusiaan.
Ketua PMI Jakarta Selatan Mundari menjelaskan KSR menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin mengabdikan diri sebagai relawan PMI.
“Korps Sukarela merupakan sebuah wadah pengabdian bagi masyarakat yang ingin terlibat menjadi relawan PMI dalam berbagai kegiatan kemanusiaan,” kata Mundari dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (3/9).
Sebanyak 21 peserta tersebut mengikuti rangkaian pendidikan mulai 6 hingga 30 Agustus 2026. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat umum, alumni Palang Merah Remaja (PMR), hingga fasilitator.
Proses pendidikan tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di dalam ruangan. Para calon relawan juga menjalani aplikasi lapangan di Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini dirancang agar peserta merasakan langsung tantangan yang mungkin mereka hadapi ketika menjalankan tugas kemanusiaan.
Beragam materi diberikan dalam kegiatan tersebut. Peserta mempelajari kepalangmerahan, perawatan keluarga, pertolongan pertama, hingga teknik evakuasi dari ketinggian. Mereka juga dibekali kemampuan koordinasi antarsektoral dan keterampilan bertahan hidup atau survival.
Materi tersebut menjadi penting karena kondisi di lapangan tidak selalu dapat diprediksi. Dalam situasi bencana, misalnya, relawan harus mampu bekerja cepat sekaligus tetap memperhatikan keselamatan diri dan orang yang membutuhkan pertolongan.
Untuk memperkaya pengalaman peserta, PMI Jakarta Selatan melibatkan pemateri dari sejumlah instansi. Di antaranya Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta TNI Angkatan Laut.
Salah satu peserta, Jessica, mengaku mendapatkan banyak pengalaman selama mengikuti pendidikan. Menurut dia, proses pelatihan memberikan gambaran bahwa menjadi relawan membutuhkan kesiapan dan pengetahuan yang cukup.
Setelah dikukuhkan, 21 anggota KSR Angkatan XVI tidak berhenti pada tahap pelatihan. Mereka akan mulai terlibat dalam berbagai pelayanan PMI, seperti piket di posko, pelayanan kesehatan, penanganan kebencanaan, serta pembinaan anggota PMR dan relawan lainnya.
Selama pendidikan, peserta juga diarahkan untuk membangun kekompakan, kebersamaan, dan kemampuan berkoordinasi. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam operasi kemanusiaan yang melibatkan banyak orang dan lembaga.
Angkatan XVI juga memiliki sejarah panjang. Mereka menjadi bagian dari perjalanan KSR PMI Jakarta Selatan yang telah memasuki angkatan ke-16 sejak angkatan pertama dibentuk pada 1979.
Dengan bekal yang diperoleh selama pendidikan, para relawan baru ini diharapkan dapat memperkuat pelayanan kemanusiaan PMI Jakarta Selatan. Tidak hanya untuk membantu masyarakat di wilayah Jakarta Selatan, mereka juga dipersiapkan untuk mendukung operasi kemanusiaan dan penanganan bencana dalam skala nasional.






