KabarJakarta.com — Ada yang berbeda di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebuah kapal yang tidak hanya membawa awak dan perlengkapan pelayaran, tetapi juga ribuan buku, kini bersandar di sana. Namanya MV Doulos Hope.
Kehadiran kapal tersebut sempat memunculkan antusiasme masyarakat Jakarta. Lebih dari 2.000 judul buku dibawa ke ibu kota, menawarkan pilihan bacaan untuk anak-anak, pelajar, keluarga hingga masyarakat umum. Namun, masyarakat masih harus sedikit bersabar.
Rencana pembukaan pameran buku terapung itu yang semula dijadwalkan pada Rabu, 16 September 2026, mengalami penundaan. Hingga Jumat (18/9), pengunjung belum dapat naik ke kapal untuk melihat dan membeli buku-buku yang tersedia.
Penundaan terjadi karena proses administrasi dan persetujuan akhir masih harus diselesaikan. Direktur Pelaksana Doulos Hope dari Afrika Selatan, Trizenia September, menjelaskan pihaknya belum dapat membuka kapal untuk masyarakat sebelum seluruh proses tersebut rampung.
“Hingga seluruh prosesnya selesai, pameran buku di atas kapal belum bisa dibuka untuk umum. Tanggal pembukaan terbaru akan diumumkan secepatnya,” ujar Trizenia, Jumat (18/9).
Bagi masyarakat yang sudah menunggu kesempatan mengunjungi kapal tersebut, pengumuman jadwal baru menjadi hal penting. Sebab, kehadiran Doulos Hope bukan sekadar menghadirkan tempat membeli buku, tetapi juga menawarkan pengalaman berbeda: membaca di atas kapal sambil berinteraksi dengan kru dan relawan dari berbagai negara.
Kapal ini dijadwalkan berada di Pelabuhan Tanjung Priok hingga 11 Oktober 2026. Karena itu, masih tersedia waktu bagi masyarakat untuk berkunjung setelah operasional resmi dibuka.

Ribuan buku di atas kapal
Doulos Hope membawa lebih dari 2.000 judul buku dengan tema yang cukup beragam. Koleksinya mencakup sains, kesehatan, seni, bahasa, pengembangan diri, hobi, memasak, olahraga hingga buku untuk anak-anak.
Tidak hanya itu, tersedia pula buku akademik, kamus dan atlas. Keragaman koleksi tersebut membuat kapal ini tidak hanya menyasar pembaca tertentu.
Anak-anak dapat mencari bacaan sesuai usia, sementara pelajar dan orang dewasa bisa memilih buku berdasarkan kebutuhan dan minat masing-masing.
“Melalui adanya pilihan yang beragam, para anggota keluarga bisa menemukan buku yang menarik untuk dinikmati,” tutur Trizenia.
Harga yang ditawarkan juga dibuat relatif terjangkau. Dengan konsep tersebut, Doulos Hope diharapkan menjadi ruang yang mendekatkan buku kepada masyarakat.
Kehadiran kapal ini sekaligus mengingatkan kembali bahwa akses terhadap buku tidak selalu harus berlangsung di ruang perpustakaan konvensional. Kali ini, buku hadir melalui sebuah kapal yang berlayar dari satu tempat ke tempat lain.
Doulos Hope sendiri membawa misi yang lebih luas. Kapal tersebut memiliki kru dan relawan dari 38 negara. Perjumpaan mereka dengan masyarakat di setiap pelabuhan menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa kapal tersebut.
Kapten MV Doulos Hope, Eymard Calibjo, mengaku bangga dapat membawa kapal itu kembali ke Jakarta.
Eymard telah berkarier sebagai pelaut sejak 20 Desember 1991 dan mulai bertugas di Doulos Hope pada Juni 2025. Dalam satu dekade terakhir, ia banyak berlayar di kawasan Laut Utara dalam industri minyak dan gas.
Bagi Eymard, nama Doulos Hope memiliki arti khusus, yakni Hamba Pengharapan. “Kami sangat bersyukur mendapat sambutan hangat dari warga Jakarta, dan berharap bisa membangun persahabatan melalui buku, percakapan, pertukaran budaya, serta kerja sama,” ucapnya.

Bukan sekadar tempat beli buku
Kehadiran kapal buku ini mendapat sambutan dari Pemerintah Kota Jakarta Utara. Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Fredy Setiawan, melihat Doulos Hope sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus pengalaman baru.
Menurut dia, buku dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal dunia yang lebih luas. “Buku adalah jendela dunia. Literasi merupakan investasi bagi masa depan,” katanya.
Fredy menilai semakin banyak anak muda membaca dan belajar, semakin besar pula kesempatan mereka mengembangkan kreativitas, inovasi dan wawasan. Karena itu, ia mengajak anak-anak, pelajar, keluarga, komunitas pendidikan dan generasi muda memanfaatkan kehadiran kapal tersebut ketika sudah dibuka.
Namun, ada hal lain yang membuat kunjungan Doulos Hope menarik bagi Jakarta Utara.
Wilayah ini merupakan kawasan pesisir sekaligus salah satu pintu gerbang maritim Jakarta. Kehadiran kapal internasional dengan kru dari berbagai negara membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat dunia tidak hanya melalui buku, tetapi juga melalui perjumpaan langsung dengan orang-orang dari latar belakang berbeda.
Interaksi tersebut dapat menjadi pengalaman lintas budaya. Masyarakat bisa berbincang, bertukar pengalaman dan mengenal kehidupan orang dari negara lain.
Fredy berharap kunjungan Doulos Hope tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia ingin kehadiran kapal tersebut memberikan manfaat yang lebih panjang, terutama dalam menumbuhkan budaya membaca, memperluas wawasan, membangun toleransi dan memperkuat persahabatan.

Setelah 30 tahun kembali ke Jakarta
Kehadiran Doulos Hope juga memiliki nilai sejarah tersendiri. Kepala Pusat Perbukuan BSKAP Kemendikbudristek RI, Supriyatno, menyebut kunjungan kapal buku internasional ini menjadi momentum istimewa. Pasalnya, kapal serupa disebut terakhir kali singgah di Jakarta lebih dari 30 tahun lalu.
Kini, tradisi tersebut kembali hadir dalam bentuk Doulos Hope.
Supriyatno berharap kunjungan kapal internasional semacam ini bisa menjadi agenda rutin. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya memperoleh akses terhadap buku, tetapi juga pengetahuan, budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari berbagai negara.
Selama berada di Tanjung Priok, Doulos Hope direncanakan menghadirkan berbagai kegiatan pendukung. Kapal tersebut diharapkan menjadi ruang belajar dan pertukaran pengalaman antara masyarakat Jakarta dengan kru internasional.
Pada titik ini, Doulos Hope membawa dua pengalaman sekaligus. Pertama, pengalaman menemukan buku yang mungkin selama ini sulit dijumpai. Kedua, pengalaman bertemu dengan dunia yang datang langsung ke Jakarta melalui sebuah kapal.
Tetapi semua pengalaman itu belum dapat dimulai. Masyarakat masih menunggu satu hal: kapan pintu kapal akhirnya dibuka.
Trizenia memastikan jadwal terbaru akan diumumkan setelah seluruh administrasi dan persetujuan resmi selesai. Informasi mengenai jadwal pembukaan dan tiket akan disampaikan melalui akun media sosial resmi Doulos Hope Indonesia di Instagram dan Facebook.
Ketika sudah dibuka, masyarakat yang ingin berkunjung tidak langsung menuju kapal. Pengunjung terlebih dahulu melakukan proses check-in di Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU). Dari lokasi tersebut, tersedia bus antar-jemput menuju kapal di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.
Rencananya, layanan kunjungan berlangsung Selasa hingga Minggu, pukul 13.30 sampai 21.00 WIB. Pengunjung masih diperbolehkan masuk hingga pukul 20.30. Sementara Senin menjadi hari penutupan layanan.
Tiket masuk ditetapkan Rp15.000 per orang dan dibayar secara tunai. Anak berusia 12 tahun ke bawah serta lansia berusia 65 tahun ke atas tidak dikenakan biaya masuk. Anak-anak tetap harus didampingi orang dewasa dan mengikuti ketentuan kunjungan yang berlaku.
Dengan waktu sandar hingga 11 Oktober, Doulos Hope masih memiliki kesempatan cukup panjang untuk menyapa masyarakat Jakarta. Hanya saja, untuk saat ini, ribuan buku yang berada di atas kapal itu masih harus menunggu sebelum bisa dibaca dan dibawa pulang.
Penundaan mungkin membuat masyarakat sedikit kecewa. Namun, jika seluruh proses telah selesai, kapal itu akan kembali membuka ruangnya—bukan hanya untuk mereka yang ingin membeli buku, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin menemukan pengetahuan, pengalaman dan cerita baru.
Di tengah kehidupan kota yang bergerak cepat, sebuah kapal yang dipenuhi buku kini menunggu waktunya untuk menjadi tempat orang berhenti sejenak, membuka halaman, lalu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.






