KabarJakarta.com — Sabtu malam, 19 September 2026, sejumlah sudut Jakarta akan mendadak lebih gelap. Selama 60 menit, lampu di sejumlah ikon dan ruas jalan ibu kota akan dipadamkan. Bukan karena listrik bermasalah, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh di atas kepala manusia yang selama ini bekerja tanpa terlihat: lapisan ozon.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadwalkan pemadaman lampu pada pukul 20.30-21.30 WIB sebagai bagian dari peringatan Hari Ozon Sedunia. Lampu akan dimatikan di sejumlah lokasi, antara lain Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Patung Pahlawan, Patung Jenderal Sudirman, serta kawasan Balai Kota DKI Jakarta.
Bagi warga Jakarta, pemadaman selama satu jam mungkin terlihat sebagai aksi sederhana. Namun, pesan yang ingin disampaikan jauh lebih besar: penggunaan energi secara bijak dan kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu dimulai dari kebijakan besar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menjelaskan setiap orang dapat mengambil bagian dalam upaya menjaga lingkungan, baik di rumah, tempat kerja maupun tempat usaha. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama dan konsisten dapat memberikan manfaat yang lebih besar.
“Setiap orang bisa turut serta, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di tempat usaha. Langkah sederhana yang dilakukan secara bersama dan konsisten akan memberi manfaat yang besar,” kata Dudi.
Lampu dipadamkan, energi ikut dihemat
Pemadaman lampu sebenarnya bukan hal baru bagi Jakarta. Pada 13 Juni 2026, aksi serupa dilakukan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup.
Hasilnya cukup terukur. Pemadaman tersebut mencatat penghematan listrik sebesar 75,18 megawatt hour (MWh), dengan efisiensi biaya mencapai sekitar Rp108,69 juta. Dari penghematan energi itu, emisi diperkirakan berkurang 60,14 ton CO₂e.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tindakan yang tampak kecil dapat menghasilkan dampak ketika dilakukan secara bersama-sama. Namun, menjaga lingkungan tidak berhenti pada mematikan lampu selama satu jam.
“Keterlibatan, baik pemerintah, pengelola gedung, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk menghasilkan penghematan energi yang terukur,” terangnya.
Hari Ozon Sedunia yang diperingati setiap 16 September menjadi kesempatan untuk melihat persoalan lingkungan dari sisi yang sering luput dari perhatian. Lapisan ozon berada jauh di atas permukaan Bumi dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Meski demikian, lapisan tipis tersebut menjadi salah satu pelindung penting kehidupan.
Perisai tipis melindungi kehidupan
Ozon merupakan molekul yang terdiri atas 3 (tiga) atom oksigen atau O₃. Sekitar 90 persen ozon berada di lapisan stratosfer. Di tempat inilah ozon berfungsi sebagai pelindung Bumi dari sebagian besar radiasi ultraviolet, terutama UV-B.
Secara sederhana, lapisan ozon dapat dibayangkan seperti perisai tak kasatmata. Ketika perlindungan mengalami gangguan, maka akan lebih banyak radiasi ultraviolet akan mencapai permukaan Bumi.
Dampaknya bukan sekadar persoalan atmosfer.
Paparan UV-B yang berlebih, berpotensi meningkatkan risiko kanker kulit, mempercepat penuaan kulit, serta merusak mata. Tanaman juga akan mengalami gangguan pertumbuhan akibat paparan UV-B yang memengaruhi proses biologis dan distribusi nutrien.
Sementara itu, di ekosistem perairan, peningkatan radiasi UV-B dapat mengganggu pertumbuhan fitoplankton, serta perkembangan awal sejumlah organisme seperti ikan, kepiting, udang, dan amfibi.
Dengan kata lain, lapisan ozon memang berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Tetapi ketika perlindungannya terganggu, dampaknya bisa terasa sangat dekat.
Ancaman datang dari aktivitas manusia
Lapisan ozon sebenarnya memiliki siklus alami pembentukan dan penguraian. Masalah muncul ketika keseimbangannya terganggu oleh bahan kimia tertentu yang dibuat manusia.
Bahan Perusak Ozon atau BPO, sebagaimana pernyataan Dinas LH DKI, merupakan senyawa yang mengandung klorin dan bromin. Bahan tersebut pernah digunakan dalam berbagai keperluan, mulai dari refrigerasi, pendingin udara, aerosol, pelarut hingga pembuatan foam.
Beberapa dari senyawa tersebut dapat bertahan lama di lapisan atmosfer. Ketika mencapai stratosfer dan terkena radiasi ultraviolet, senyawa tertentu dapat melepaskan klorin yang kemudian segera bereaksi terhadap ozon.
“Proses kimia tersebut dapat berlangsung berulang dan berkontribusi terhadap penipisan lapisan ozon,” tulis Dinas LH dalam siaran persnya, Rabu (16/9).
Karena itu, perlindungan ozon tidak cukup hanya mengandalkan kampanye. Perubahan teknologi dan kebijakan juga diperlukan.
Indonesia telah mengambil sejumlah langkah maju melalui pengendalian dan penghapusan penggunaan BPO. Salah satunya larangan impor dan penggunaan HCFC-141b, sejak 1 Januari 2022. Indonesia juga telah melarang impor CFC dan sejumlah BPO lainnya, sesuai ketentuan yang berlaku.
Apa yang bisa dilakukan warga?
Perlindungan ozon mungkin terdengar seperti urusan pemerintah, industri atau ilmuwan. Padahal, pilihan masyarakat sehari-hari juga memiliki peran.
Salah satunya dengan memilih produk yang tidak menggunakan bahan BPO. Untuk perangkat pendingin, masyarakat dapat memastikan AC dirawat dengan benar dan menggunakan teknisi yang kompeten agar refrigeran tidak terlepas ke atmosfer.
Pada saat yang sama, masyarakat perlu melindungi diri dari radiasi ultraviolet. Menggunakan tabir surya, pakaian yang menutup kulit, topi dan kacamata pelindung UV dapat membantu mengurangi paparan. Aktivitas di bawah terik Matahari, terutama sekitar pukul 10.00-15.00, juga dapat dikurangi ketika memungkinkan.
Maka, satu jam Jakarta tanpa cahaya pada Sabtu (19/9) malam bukan sekadar pemandangan berbeda di tengah kota. Ia menjadi pengingat bahwa lingkungan sering kali bekerja dalam diam.
Lapisan ozon tidak terlihat. Udara yang bersih juga tidak selalu disadari. Begitu pula energi yang terbuang dari lampu dan perangkat elektronik yang dibiarkan menyala.
Hari Ozon Sedunia 2026 mengajak masyarakat melihat kembali hubungan tersebut. Mematikan lampu ketika tidak diperlukan, menggunakan energi sesuai kebutuhan, merawat perangkat pendingin, memilih teknologi yang lebih aman dan melindungi diri dari radiasi UV adalah langkah sederhana.
Menurut Dudi, jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan kecil itu menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk menjaga atmosfer dan kehidupan di Bumi. Sebab, perisai yang melindungi kita memang tak kasatmata. Tetapi Bumi kehilangan perlindungannya bisa meninggalkan dampak yang sangat nyata.
“Mari biasakan diri matikan lampu dan peralatan elektronik saat tidak digunakan. Menggunakan energi sesuai kebutuhan, cara kita menghemat biaya, sekaligus ikut menjaga lingkungan Jakarta,” pungkas Dudi.






