KabarJakarta.com — Bagi sebagian warga Jakarta, sampah mungkin berakhir di tempat pembuangan. Namun, bagi warga yang aktif di bank sampah, sampah justru bisa menjadi sesuatu yang bernilai.
Botol plastik, kardus, kertas, logam, minyak jelantah hingga kemasan bekas tidak lagi sekadar barang buangan. Setelah dipilah dari rumah, semuanya dapat ditimbang, dijual, ditabung, bahkan diolah menjadi produk baru.
Gambaran itu terlihat dari aktivitas Bank Sampah Nyiur Universitas Budi Luhur di Jalan Ciledug Raya, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Dalam satu dekade, gerakan yang semula hanya memiliki lima nasabah tersebut berkembang menjadi jaringan 70 bank sampah unit dengan total 7.851 nasabah. Jaringannya bahkan telah menjangkau wilayah di luar DKI Jakarta.
Pendiri Bank Sampah Nyiur Universitas Budi Luhur, Tutik Sri Susilowati, menjelaskan perkembangan tersebut dibangun melalui komitmen, konsistensi, inovasi, dan keterlibatan masyarakat sejak 2016.
“Berkat komitmen dan inovasi bersama masyarakat, dari 5 nasabah pada 2016, kini pada 2026 kami sudah membina 70 unit bank sampah se-DKI Jakarta, bahkan di luar daerah,” kata Tutik, Senin (21/9).
Angka tersebut menunjukkan bahwa bank sampah bukan sekadar tempat menampung barang bekas. Jika dikelola secara konsisten, lembaga berbasis masyarakat ini dapat menjadi bagian dari rantai pengelolaan sampah sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi warga.
Sampah yang dipilah punya nilai
Bank Sampah Nyiur membuka layanan penimbangan setiap hari mulai pukul 08.00 WIB. Pilihan waktu tersebut dibuat agar warga yang bekerja pada hari kerja tetap mempunyai kesempatan membawa sampah hasil pemilahan dari rumah.
Untuk bank sampah unit binaan, jadwal penimbangan menyesuaikan kebutuhan masing-masing wilayah. Sampah yang disetor juga memiliki skala cukup besar, mulai minimal 500 kilogram hingga maksimal tiga ton dalam satu kali setoran.
Secara keseluruhan, material daur ulang yang dikelola Bank Sampah Nyiur mencapai sedikitnya 10 ton per pekan, atau sekitar 60 ton per bulan. Jenisnya beragam, antara lain kertas, plastik, logam, minyak jelantah dan beling.
Di sinilah konsep bank sampah menjadi menarik. Warga tidak hanya diminta memilah sampah karena alasan kebersihan. Mereka mendapatkan imbal balik ekonomi dari kebiasaan tersebut.
Hasil penimbangan dapat langsung dicairkan dalam bentuk uang atau disimpan sebagai tabungan. Bahkan, nilai tabungan rupiah tersebut dapat dikonversikan menjadi tabungan emas atau logam mulia.
Dengan model seperti ini, kegiatan memilah sampah menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna berubah menjadi aset kecil yang dapat dikumpulkan secara rutin.
Program Bank Sampah Budi Luhur juga telah mengembangkan pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi serta mendorong pemanfaatan sampah sebagai bagian dari edukasi ekonomi sirkular.
Dari 5 nasabah jadi ribuan
Pertumbuhan Bank Sampah Nyiur memperlihatkan satu hal penting: program pengurangan sampah akan lebih mudah bertahan ketika masyarakat merasakan manfaat secara langsung.
Selain penimbangan dan transaksi sampah, pengelola juga memberikan edukasi mengenai pengolahan sampah organik rumah tangga, teknologi ramah lingkungan, serta keterampilan membuat berbagai produk dari material daur ulang, termasuk kemasan saset.
Tidak berhenti pada produksi, masyarakat juga mendapatkan pendampingan dalam pemasaran. Dengan demikian, kegiatan bank sampah tidak hanya berhenti pada tahap mengumpulkan dan memilah, tetapi mencoba membangun rantai kegiatan dari hulu hingga hilir.
Model seperti itu penting untuk diperluas. Sebab, semakin banyak sampah yang berhasil dipilah sejak dari rumah, semakin sedikit material yang harus bercampur dengan sampah lainnya dan berakhir sebagai residu.
Dampaknya juga mulai terasa di tingkat wilayah. Tutik menyebut kolaborasi Bank Sampah Nyiur dengan Kelurahan Petukangan Utara dan Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup Kecamatan Pesanggrahan ikut mendorong tumbuhnya lebih dari 30 bank sampah baru di wilayah Pesanggrahan.
“Artinya, satu bank sampah yang berjalan dengan baik bisa menjadi titik belajar bagi lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.
Model kecil bisa berdampak besar
Contoh lain datang dari Bank Sampah Al-Hidayah di RW 05, Kelurahan Ciganjur, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Bank sampah yang dikelola secara swadaya oleh jemaah Masjid Al-Hidayah dan ibu rumah tangga tersebut telah berjalan sejak 2022. Setiap bulan, sekitar 300 kilogram sampah anorganik dikumpulkan dan dikelola.
Pengelola menerapkan cara sederhana: sampah dijemput langsung dari rumah warga dua kali dalam sepekan, setiap Senin dan Rabu. Sampah kemudian dipilah dan dijual kembali.
Hasil penjualannya tidak digunakan untuk kepentingan pribadi. Sebagian dimanfaatkan untuk kebutuhan dan kegiatan Masjid Al-Hidayah, sementara sebagian lainnya mendukung kegiatan lingkungan dan kemasyarakatan.
Model seperti ini menunjukkan bahwa bank sampah dapat menyesuaikan diri dengan karakter lingkungan. Tidak harus menggunakan fasilitas besar atau sistem yang rumit. Di tingkat RW, kegiatan pengumpulan door to door pun dapat berjalan ketika ada pengelola dan warga yang konsisten.
Meski potensinya besar, persoalan berikutnya adalah bagaimana membuat seluruh bank sampah yang sudah terbentuk benar-benar aktif dan memberikan dampak terukur.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike pada April 2026 menilai program bank sampah di tingkat masyarakat belum sepenuhnya efektif. Ia mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Dinas Lingkungan Hidup memiliki data riil mengenai lokasi bank sampah yang aktif dan seberapa efektif kinerjanya.
Menurut Yuke, pemetaan tidak cukup dilakukan secara umum. Kinerja bank sampah perlu dilihat hingga tingkat kelurahan atau RW. Wilayah yang belum berjalan maksimal juga perlu mendapatkan pendampingan dari kelompok yang sudah berhasil.
Gagasan tersebut penting karena keberadaan bank sampah tidak otomatis berarti volume sampah berkurang. Ukurannya harus terlihat dari kegiatan pemilahan, jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan, kontinuitas pengelolaan, serta seberapa banyak material yang benar-benar masuk ke proses daur ulang.
Dengan kata lain, Jakarta tidak cukup hanya memperbanyak papan nama bank sampah. Yang dibutuhkan adalah memperbanyak bank sampah yang hidup, aktif, produktif, dan terhubung dengan sistem pengelolaan sampah kota.
Bank sampah dan TPS 3R saling menguatkan
Optimalisasi bank sampah juga tidak bisa berdiri sendiri. Pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga membutuhkan fasilitas lanjutan, termasuk Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS 3R.
Yuke mendorong agar TPS 3R dikembangkan lebih luas di Jakarta. Menurutnya, fasilitas tersebut bukan hanya tempat mengolah sampah, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi masyarakat.
Persoalan yang masih muncul antara lain keterbatasan sumber daya manusia dan pemanfaatan peralatan yang belum maksimal. Karena itu, diperlukan evaluasi serta pencarian model pengolahan yang sederhana, tidak membutuhkan lahan luas dan tetap terjangkau.
Arah kolaborasi semacam ini sebenarnya sudah mulai dibangun. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki kerja sama dengan WWF Indonesia yang antara lain mencakup revitalisasi dan optimalisasi TPS 3R, pelatihan, evaluasi teknis, pemberdayaan masyarakat, serta optimalisasi bank sampah.
Pada akhirnya, persoalan sampah Jakarta tidak hanya berada di tempat pembuangan. Persoalannya dimulai jauh lebih awal, yakni ketika sampah bercampur sejak dari rumah.
Karena itu, bank sampah memiliki posisi strategis. Ia bekerja di titik paling dekat dengan sumber sampah: rumah tangga dan lingkungan warga.
Ketika warga terbiasa memisahkan botol plastik dari sisa makanan, mengumpulkan kardus, menyimpan minyak jelantah atau memilah logam, proses pengelolaan menjadi lebih mudah. Bank sampah kemudian menjadi penghubung antara kebiasaan warga dengan sistem daur ulang.
Pengalaman Bank Sampah Nyiur dan Bank Sampah Al-Hidayah memperlihatkan bahwa manfaat ekonomi dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kebiasaan tersebut. Warga tidak hanya diminta berbuat baik untuk lingkungan, tetapi juga memperoleh manfaat nyata dari apa yang mereka lakukan.
Bagi Jakarta, pola semacam ini layak terus diperkuat. Bukan hanya dengan membentuk lebih banyak bank sampah, tetapi memastikan setiap unit memiliki pendampingan, akses pasar, sistem pencatatan, fasilitas yang memadai, serta hubungan yang jelas dengan TPS 3R dan sistem pengelolaan sampah kota.
Sebab, mengurangi sampah Jakarta tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Bisa dimulai dari satu rumah yang mau memilah, satu RW yang mau mengumpulkan, dan satu bank sampah yang konsisten mengubah barang buangan menjadi sesuatu yang bernilai.






